Gus Mus: Mengaji Itu dari Lahir Hingga Akhir Hayat

479
Dari kiri/kanan; Rektor UIN Surabaya Abdul A'la, Menag Lukman Hakim, KH Ahmad Mustofa Bisri dan Presenter Senior Rosianna Silalahi menjadi narasumber (Photo: Kemenag)

Surabaya, Muslim Obsession – Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang yang juga dikenal sebagai budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri mengatakan, mengaji itu dari lahir hingga liang lahat. Boleh berhenti sekolah tapi tidak boleh berhenti belajar.

Gus Mus, begitu ia kerap disapa, menyampaikan bahwa siapapun yang ingin dunia, maka harus mengaji, bila ingin akhirat maka harus mengaji, siapa ingin keduanya juga harus mengaji. Orang beragama dengan semangat berlebihan tanpa mengaji itu menjadi masalah, jadi apapun harus mengaji.

“Semangat berlebihan dalam agama tanpa diimbangi pemahaman mendalam terhadap agama akan  jadi  masalah,” ujar Gus Mus saat tampil menjadi narasumber Mengaji Indonesia di UIN Surabaya, Senin (5/3/2018) malam.

Seperti dilansir laman resmi Kemenag, Selasa (6/3/2018), Ia menuturkan, di atas langit ada langit, di atas orang pintar ada yang lebih pintar. Ia menyampaikan kritiknya, kalau sejauh ini kita tidak mendidik, tapi hanya mengajar.

Gus Mus menyampaikan, kita itu dari berbagai manusia yang mempunyai kedudukan sendiri-sendiri. Permasalahasan-permasalahan tentang menjaga keindonesiaan segala macam, menjaganya juga berbeda-beda.

“Ada persoalan-persoalan di masyarakat kita dan paling saya hanya mampu ngomong atau menulis, pemerintah itu berbeda atau lain dengan saya, kalau saya mengimbau, itu pantas. Tapi kalau pemerintah itu mengimbau itu kurang pantas. (Pemerintah) bisa melaksanakan, mempunyai wewenang,” ucap Gus Mus.

“(menangani ) persoalan-persoalan ini pemerintah harus di depan karena yang mempunyai tanggung jawab melayani umat ini hanya pemerintah. Jadi soal halal haram, diskriminasi dan lainnya, kalau sekedar pak rektor apalagi saya, itu tidak bisa,” lanjut Gus Mus.

Menurut Gus Mus, pemerintah harus tegas. Karena ini negara hukum, maka harus taat hukum, siapapun harus taat hukum.

“Jadi harus ada yang langsung melakukan eksekusi karena memiliki wewenang, ada yang mengimbau, dan semuanya bareng-bareng mendandani rumah kita,” kata Gus Mus.

Dengan demikian, lanjut Gus Mus, kita saling mendukung untuk kepentingan Indonesia ini, dalam rumah ini tentu saja berbeda-beda, isinya macam-macam. Intinya sudah diajarkan agama, yaitu dengan rahmatan atau kasih sayang.

“Asal kita mendahulukan kasih sayang, kita tidak hanya akan masuk surga, tapi kita sudah di surga itu sendiri,” ujar Gus Mus. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here