Gus Baha Tanggapi Shalat Tarawih Super Kilat 20 Rakaat Selesai 7 Menit

441
Gus Baha. (Foto: narasi)

Jakarta, Muslim Obsession – Saat masuk bulan Ramadhan, publik kerap disajikan dengan tayangan shalat Tarawih superkilat di media sosial.

Fenomena ini cukup banyak memantik perhatian dan tanggapan. Ada yang mempermasalahkan, tapi ada juga yang menganggap itu sebagai hal biasa.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha pun turut berkomentar dengan adanya shalat Tarawih superkilat di berbagai daerah yang hanya dikerjakan selama 7 menit untuk 20 rakaat ini.

Pendapat Gus Baha disiarkan Channel Ngaji Gus Baha melalui saluran YouTube. Ia mengatakan, shalat Tarawih 20 rakaat dikerjakan selama 7 menit itu keterlaluan. Berikut penjelasan Gus Baha yang dilansir dari iqra.id:

“Saya kalau Tarawih itu milih jadi makmum. Masalahnya, nanti kalau ada salahnya dan ditanya Allah: “Ha’, sujud kok cepete ngono!? (Ha’, sujud kok cepat begitu!?)”

“Lah imame cepet ngoten Gusti (Allah). Jarene makmum ken anut imam!? (kan imamnya cepat, Gusti. Katanya makmum harus ikut imam!?).”

Makanya, kelak yang “diburu” (dimintai pertanggungjawaban) adalah imam. Menurut ilmu Fikih, “wa yajibu alal-makmuumi mutaaba’atul imaam” (makmum wajib mengikuti imam).

Kelak kalau ditanyai Allah, “Ha, shalatmu kok cepet ora thuma’ninah?” “Imame, Gusti. Kulo kan wajib anut imam (imamnya, Gusti. Saya kan wajib mengikuti imam).”

Ketika si imam ditanyai, “Imam, kenapa kok shalatmu cepet!?”

“Permintaan pasar,” jawab imam.

Bebas hisab! Imam melakukan itu karena tahu, konsumennya minta seperti itu. Sebab kalau mencoba Tarawih lama, mushalla-nya sepi.

Wong cah enom kalau Tarawih takok, “Seng cepet endi?” Ora, “Seng apik endi?” (anak muda itu kalau Tarawih tanya, “Yang cepat mana?” Bukan, “Yang baik mana?”.

Saya pernah di Lasem (daerah di Kabupaten Rembang), ada imam sepuh (tua renta) sedang berjalan ke tempat pengimaman (mihrab masjid). Lalu ada orang di belakang ngomong, “Waduh kok Mbah iku, suwi iki!” Ojo-ojo Gus! Pindah-pindah!” (Waduh, kok Mbah itu, lama ini. Jangan Gus! Pindah-pindah!)

Saya sampai sekarang tidak pernah mengimami shalat Tarawih. Masalahnya saya tidak siap tanggung jawab. Jadi makmum saja.

Menurut saya, kalau Tarawih terlalu lama juga keberatan. Tapi, mudah-mudahan diterima Allah.

Saya ingin melatih kalian berpikir logika Nabi. Harus latihan. Di dunia ini cuma mampir minum. Kita semua sebentar lagi meninggal. Soalnya umur rata-rata itu 60-70 tahun. Setelah itu meninggal.

Ketika kita meninggal, yang kita kenang di dunia hanya sujud, karena itu perintahnya Allah, wasjud waqtarib. Kita ini di dunia, disuruh sujud. Bukan disuruh untuk kaya, punya jabatan, tapi disuruh sujud. Meskipun kamu tidak apa-apa jika punya jabatan dan uang, tapi perintah Allah itu untuk bersujud. Dan kita sujud!

Itulah cara logika Nabi! Nabi itu kalau shalat itu nyaman sekali. Saking nyamannya, kalau baca sampai 200 ayat. “Berani kalian makmum sama Nabi?”

Ada sahabat yang coba menghitung lamanya shalat Nabi. Nabi itu shalat sedang takbir, ia berkata, “Aku pernah mencoba hitung, aku tinggal pulang, menyembelih kambing, aku kuliti, masak lalu makan. Lalu saat kembali lagi, Nabi masih di rakaat pertama.”

Coba! Dulu kan belum ada jam. Cara menghitungnya seperti itu. “Berani kamu?” Makanya kalau Nabi tahu Tarawih model Wonokromo, Jejeran. Padahal, Wonokromo sudah bagus, sudah standar.

Apalagi kalau melihat Tarawih Blitar. Tarawih di Blitar berapa? Tujuh (7) menit malah. Itu gimana? Itu umatnya Nabi Sulaiman bukan umatnya Nabi Muhammad. Pengikutnya Ashif bin Barkhiya (yang membawa Istana Bilqis).

Model kilat! Nek kulo mboten cocok, karepe piye kiaine! (Model kilat! Kalau saya tidak cocok, maksudnya bagaimana kiainya!)

Tujuh menit bagi dua puluh rakaat, berapa? “Satu menit, tiga rakaat.”

Kalau satu menit dapat tiga rakaat, lalu Fatihah-nya itu berapa huruf? “Terlalu…!”

Makmum sama Nabi lho seru! Dua ratus ayat!

Nabi ya enjoy, asyik. Makmum juga asyik. Sama pahamnya, sama shalihnya. Setelah shalat, bahagia semua. Hal ini karena ketenangan jiwa ada dalam shalat.

Tapi ini nyata. Andaikan kalian, sudahlah nggak perlu seshalih Nabi. Terlalu tinggi! Misalnya kalian nyaman saat shalat seperti Sayyid Ali Zainal Abidin. Beliau dalam sehari bisa shalat sampai 1.000 rakaat.

Ketika ditanya: “Kenapa engkau bisa sholat sampai 1000 rakaat?”

Beliau (Sayyid Ali Zainal Abidin) menjawab: “Sebenarnya aku ini cuma ingin sholat dua rakaat aja.” Setelah selesai sholat, ia berkata, “Ya Allah, terima kasih telah memberiku kesempatan shalat ketika orang lain dalam kesesatan, ketika orang lain menikmati kebatilan. Engkau menakdirkanku menikmati kesalehan, yaitu sujud kepada-Mu. Saya bersyukur Ya Allah.”

Kemudian takbir lagi, shalat dua rakaat. Syukur lagi, lalu shalat lagi. “Terima kasih Ya Allah. Orang lain ribet dengan urusan duniawi, kebatilan, namun Engkau menakdirkanku sholat.”

Syukur, shalat lagi. Gitu, seterusnya. Saya pernah nyoba, Cuma kuat sampai 100 rakaat. Lumayanlah, pernah nyoba. Daripada kalian tidak pernah!

Maksudnya, saya pernah shalat sampai 100 rakaat tanpa rencana. Tidak terencana, awalnya sholat dua rakaat, kemudian masih kangen Allah, saya tambahi.

Kangen lagi, saya tambahi. Itu bukan karena ingin keren, tidak! Mengalir aja. Sehingga kalau nyoba lagi belum tentu bisa. Harus memang benar-benar cinta sama Allah. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here