Gus Baha Jelaskan Mukjizat Al-Quran Lebih Dahsyat dari Tongkat Nabi Musa

131

Jakarta, Muslim Obsession – Allah memberikan mujizat terbesar kepada Nabi Muhammad Saw, berupa Al-Quran. Meski Al-Quran adalah Mukjizat paling sempurna, kadang kala masih saja ada yang bertanya mengapa mukjizat Nabi Muhammad seolah tidak sehebat Nabi Musa dengan tongkatnya?

Menjawab pertanyaan tersebut, KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’) berpendapat justru Al-Quran adalah mukjizat yang lebih dahsyat melebihi tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh yang keluar dari batu.

“Kalau yang dikatakan mukjizat itu adalah sesuatu yang melebihi kadar kemampuan manusia biasa, Al-Quran itu justru banyak menjelaskan penalaran yang obyektif untuk umat sehingga bisa sering melihat kedahsyatan Allah setiap saat,” tuturnya Gus Baha dalam akun YouTube Santri Gayeng.

Menurut Gus Baha’ keimanan di era umat Nabi Muhammad tidak memerlukan hal-hal yang sifatnya khoriqul adat (berbeda melebihi kebiasaan). Cukup dengan bukti penalaran atas penciptaan seekor nyamuk saja itu sudah menunjukkan dahsyatnya Allah SWT.

“Kalau untuk mengetahui adanya Allah SWT saja harus menunggu mukjizat seperti Nabi Musa, itu kecelakaan besar dalam ketauhidan. Misalnya saja kita semua disuruh bikin nyamuk bisa tidak? Atau patungnya saja lah, bisa? Bukankah itu sudah cukup sebagai bukti adanya Allah SWT?” tandasnya.

Bagi orang ‘alim, lanjut Gus Baha’, percontohan nyamuk itu lebih dahsyat ketimbang tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh. Cara Allah menjelaskan iman cukup sederhana dengan perumpamaan serta hal-hal kecil di sekitar manusia.

“Kalau misalnya saya bertemu dan dipameri Nabi Musa tentang kesaktian tongkatnya, saya tetap lebih memilih Nabi Muhammad karena Al-Quran memberi nalar yang obyektif dan tidak terbatas. Makanya Rasulullah itu disebut sebagai afdholul anbiya’ (Nabi yang paling utama-red),” katanya.

Selanjutnya Gus Baha’ memaparkan beberapa risiko mukjizat yang sifatnya khariqul adat seperti tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh. Ia menyebut mukjizat makhsushoh seperti itu terbatas sebab hanya bisa diketahui oleh manusia yang menyaksikannya secara langsung saja.

“Manusia yang tidak menyaksikannya bisa saja tidak percaya, tetapi dengan kedahsyatan Al-Quran dengan logika penciptaan alam semesta pasti manusia akan percaya ila yaumil qiyamah,” paparnya.

Lalu, imbuh Gus Baha’, risiko mukjizat yang khariqul adat berikutnya adalah dikhawatirkan bisa membuat umat manja dan minta sesuatu yang aneh-aneh. Bahkan sebagian ulama mengkritik bahwa mukjizat yang seperti itu selayaknya tidak perlu dituruti.

“Salah satu ulama itu menyebut jika yang menjadikan seseorang kafir adalah ketergantungannya dia pada kejadian dahsyat untuk mau percaya pada kodrat Allah SWT,” sebutnya.

Khawatirnya lagi, nanti umat ini akan menggantungkan kebenaran agama berdasarkan kesaktian para pemimpinnya (para ulama) sebagai pewaris Nabi. Umat akan menuntut supaya para kiai memiliki kesaktian yang bisa disaksikan bersama secara dzahir.

“Kalau tidak sakti tidak diakui. Akhirnya muncul lah yang pura-pura sakti, seperti kasus Dimas Kanjeng,” ucapnya diikuti tawa jamaah.

Oleh sebab itu lah Al-Quran dikatakan sebagai mukjizat terbesar bagi umat manusia. Alasannya Al-Quran bisa membuktikan dan mengantarkan manusia pada Allah SWT dengan penalaran sederhana, yang orang awam pun bisa memahaminya.

“Dengan begitu lah Nabi Muhammad itu menjadi satu-satunya utusan yang sukses membawa manusia kembali (iman) kepada Allah dengan sarana yang tidak terbatas dan ada di mana saja. Bahkan beliau juga sukses memiliki umat yang beriman tanpa harus ditunggui (dibina secara langsung) sampai hari ini. Cukup dengan Al-Quran,” jelas kiai yang masih memiliki nasab hingga Mbah Asnawi Sepuh ini. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here