Gus Baha Jelaskan 5 Ciri Orang yang Selalu Dijaga Allah

197
Gus Baha.

Jakarta, Muslim Obsession – KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha dalam sebuah kajiannya menjelaskan bahwa Allah SWT menaruh perhatian besar kepada hamba hambanya yang shalih. Mereka para kekasih Allah ini selalu dalam penjagaan yang ketat dari Allah dan malaikatnya.

Untuk menjadi orang alim atau orang yang shalih tidak mudah. Gus Baha mengungkap ada 5 ciri seseorang itu selalu dijaga dan mendapat perlindungan dari Allah, seperti dilansir dari Channel YouTube Ngaji Ahlussunah yang diunggah pada Jumat (29/1/2021).

1. Menjaga Lisan dan Kemaluannya

Gus Baha menyebutkan ciri atau tanda pertama adalah orang yang menguasai dirinya sendiri. Hal ini berdasar hadits Riwayat Tirmidzi dan Hakim:

“Ciri pertama, tidak berteman kecuali dengan orang yang bisa memperbaiki agamanya. Dan tidak berkumpul kecuali dengan orang yang bisa memperbaiki agamanya. Serta orang yang bisa menguasai kelamin dan lisannya,” ucap Gus Baha.

Dalam hadits riwayat tersebut menyebutkan bahwa manusia tidak boleh berkumpul atau berteman dengan orang yang dapat menyesatkan. Sebaliknya manusia harus berteman dan berkumpul dengan orang yang dapat memperbaiki kualitas ibadah kita (agama). Serta orang-orang yang dapat menjaga kemaluannya dan lisannya.

“Dengan sekira mampu menahan diri dari bersetubuh dan berbicara terlalu sering. Meskipun keduanya halal. Tapi jika berlebihan menjadi tidak baik,” ujar Gus Baha.

2. Melihat Masalah Duaniawi Sebagai Musibah

Ciri kedua, jika terjadi sebuah hal yang luar biasa pada urusan dunianya, maka dia akan memandang itu sebagai musibah. Gus Baha menyebut musibah yang mempersulit adalah akibat dari hal yang ditimbulkan.

“Semisal karena mendapat banyak uang atau kenal dengan pejabat atau kenal dengan siapapun yang berpotensi membuatnya terlena akan dunia dia anggap itu sebagai musibah dan hisabnya berat,” tutur Gus Baha.

Karena mengenal seorang pejabat yang berlaku tidak adil maka kita memiliki kewajiban untuk mengingatkan.

Sementara jika kita tidak mengenal maka kita tidak memiliki kewajiban mengingatkan atau menasihati.

“Iya kan? Jika kalian tidak kenal dengan jaksa enak. Tapi jika kalian kenal dengan hakim atau jaksa yang tidak akan berlaku adil, jika tidak kamu beritahu malah repot,” tuturnya.

“Jadi, jika dia terlibat sesuatu yang berurusan dengan duniawi, dia khawatir itu berakibat buruk. Sehingga dia anggap itu sebagai musibah,” tambahnya.

3. Senang Belajar Agama

Ciri ketiga, jika dia mendapatkan hal kecil yang kaitannya dengan agama, maka itu bisa membuat dirinya sangat bahagia. Maksudnya jika dia mendapat sesuatu yang bisa menambah pengetahuan agamanya dia sangat bahagia.

“Artinya dia menganggap itu sebuah keuntungan yang begitu besar. Misal dia sangat bahagia tiap kali mengaji karena imannya bertambah,” ungkapnya.

4. Tidak Makan Berlebihan

Ciri keempat, dia tidak pernah mengisi penuh perutnya dengan makanan halal, karena khawatir ada perkara haram tercampur di dalamnya. Tidak makan makanan (halal) secara berlebihan, karena takut makanan yang dimakan ada perkara haramnya.

“Karena tadi menurut fiqih, selama tidak berlebihan, kalaupun haram bisa menjadi halal karena kadar darurat,” kata Gus Baha.

Gus Baha juga berseloroh jika berbakat jadi seorang wali maka cobalah tidak makan sehari penuh jika kuat.

“Makanya kalau kamu jadi wali, kamu harus mencoba jadi wali asalkan kuat. Sehari penuh kamu jangan makan. Syukur-syukur 40 hari kamu tidak makan. Kemungkinannnya dua, menjadi wali atau mati,” selorohnya ringan.

Namun jika dalam keadaan darurat maka sesuatu makanan yang haram menjadi halal.

“Sedangkan kaidah fiqih menyebut keadaan darurat memperbolehkan hal yang dilarang. Misanya jika kamu tidak makan maka kamu akan mati sedangkan yang tersedia hanya daging anjing atau bangkai.

Itu jadi halal karena darurat. Begitu juga umpama di zaman akhir semua makanan yang ada itu haram lalu kamu makan makan karena alasan darurat maka otomatis jadi halal,” tuturnya.

5. Berprasangka Baik Sama Allah

Ciri kelima, selalu memandang orang lain sebagai orang yang selamat (benar). Dan selalu memandang dirinya sebagai orang yang celaka (salah),”.

“Artinya terbebas dari kehancuran karena hubungan baiknya dengan Allah (berprasangka baik). Memandang oang lain selamat (benar), tapi memandang dirinya celaka (salah) itu untuk melawan ego/ takabur di dalam dirinya,” ungkapnya.

Cara melawan takabur menurut gus Baha adalah dengan memandang orang lain selamat (benar) dan melihat diri tidak selamat (salah). Hal ini dalam konteks melawan takabur (sombong).

“Tapi jika kamu memiliki perasaan itu (rendah diri) justru membuat kamu suuzon kepada Allah, hidup kamu jadi tidak bersyukur maka tidak boleh seperti itu,” katanya.

Kita harus berprasangka baik terhadap Allah.

“Alhamdulillahilladi hadana lillhada mawa kunna linahtadiy Laula anhada innallah,”.

Artinya: Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberiku hidayah. Andaikan tidak Engkau beri hidayah saya tak akan mendapat hidayah.

Sehingga kata Gus Baha kita tdak boleh berlebihan memandang orang lain lebih pintar sementara kita yang salah. Tidak boleh berlebihan menilai orang lain, karena dikhawatirkan kita menjadi orang yang tidak pernah bersyukur.

“Tapi dengan melihat orang lain salah dan kita benar itupun juga bisa membuat kita menjadi orang yang takabur. Berulang kali saya katakan, biasa saja. Tidak merasa benar atau merasa salah,” pungkasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here