Gus Baha: Boleh Tak Setuju Ziarah Kubur, dan Tahlil, Tapi Jangan Bilang Kafir!

137
Gus Baha. (Foto: narasi)

Jakarta, Muslim Obsession – Masyakat Indonesia masih banyak yang melakukan amalan ziarah kubur, tahlilan dan juga yasinan. Bagi kalangan yang tidak suka dengan amalan tersebut, acap kali dituduh bidah, sesat bahkan ada yang melabeli kafir. Ini sangat disayangkan, jika menganggap diri paling benar, sementara orang lain salah.

KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam suatu pengajian kitab bersama para santri pernah menjelaskan tentang keistimewaan lafal Laa ilaaha illaAllah, lafadz yang dibacakan saat tahlil dan ziarah kubur. Gus Baha juga menjelaskan persoalan orang yang suka mengkafirkan amalan ibadah.

Berikut penjelasannya Gus Baha:

Sekarang banyak orang yang salah kaprah. Soal kelompok yang tidak setuju mengenai adanya Tahlilan dan Ziarah Kubur itu bebas dan tidak masalah.

Berpendapat tidak setuju boleh-boleh saja, tapi jangan sampai menghukumi orang yang tahlilan atau ziarah kubur itu kafir!

Lafal “Laa ilaaha illaAllah” iku kan dadekno wong sing asale Kafir dadi Mukmin, ora suwalike (Lafal La ilaha Illa Allah kan dapat menjadikan orang kafir menjadi mukmin).

Kalian kalau tidak cocok dengan mereka, seharusnya cukup  dikomentari saja. Mereka itu nganggur lah atau apa saja, yang penting jangan dibilang kafir. Itu pasti salah, saya jamin salah! Apalagi kamu bertemu dengan Tuhan pasti salah.

Kenapa kok pasti salah jika mengomentari kafir atau sirik?

Fungsi lafal ini (Laa ilaaha illaAllah) itu kan menjadikan orang kafir saja bisa menjadi Mukmin. Masak ya lafal yang sama bisa menjadikan orang mukmin menjadi kafir?

Mau kalian pikir seperti apapun nggak akan bisa ketemu jalurnya. Inilah pentingnya menjadi orang yang Alim!

Tapi, kalian juga tidak boleh berdasar pada fatwa saya ini saja. Terus kalian bawa-bawa urusan lain misalnya kaya gini, “Nggaak apa-apa nakal yang penting masih mukmin.”

Adanya ungkapan ini pasti tambah bikin kita bingung dalam menghadapi orang yang fasik. Atau pun ketika menemui kasus orang soleh yang bodoh.

Dalam hal ini saya teringat kata Sayyiddina Ali karramallahu wajhah: 

متنسك وعالم متهتك قسم  ظهري رجلان, جاهل

Aku nalikane dadi kholifah iku susahku mung sitok, nalikane enek wong loro sing belah gegerku, suwijine iku wong kang bodoh tapi ahli ibadah lan wong alim nanging fasik (ketika menjadi khalifah ada dua hal yang membuat hatiku tidak tenang, yakni ketika ada seseorang yang bodoh tapi dia ahli ibadah dan ketika ada orang alim tapi dia fasik).

Orang yang bodoh dan ahli ibadah ini termasuk kategori merusak tatanan masyarakat, sebab jika tidak kita akui bahwa dia ini benar.

Mau tidak mau dia sudah terlihat berkharisma di masyarakat, tapi jika kita akui perilakunya itu benar, malah bodohnya tambah susah disembuhkan.

Perilaku orang bodoh tapi ahli ibadah bisa berupa macam-macam ya. Mereka itu terlalu suka beri’tikaf, shalat qabliyah–bakdiyah tidak pernah terlewatkan.

Shalat sunnahnya dikerjakan semua, puasa dalail (puasa setahun penuh) atau kalau ketemu orang lain, dia sangat menjaga omongannya.

Coba saja orang model begini ditanyai hukum misalnya gini, “Niki wonten cah wedok, ayu, rondo, angger wong lanang seneng, nak coro jenengan sepundi?” (ini ada anak perempuan, cantik, janda, setiap laki-laki suka, kalau menurutmu bagaimana?

Paling dia akan menjawab, “Wah iku lonte, zaman akhir… Fasiq!!” (wah itu pelacur, zaman akhir… Fasik!!)

Wah repot tuh yang model begitu.

Coba tanyakan pertanyaan yang kepada orang yang alim tadi, pasti cara menjawabnya akan berbeda. Orang yang bertanya pasti akan diberikan sebuah solusi.

“Ono sing gelem ngrabi..?” (Ada yang mau menikahi?)
“Kulo, Mbah…” (Saya, Mbah…)
“Lho yowes, ndang rabi o ben ora fasiq.“ (Ya sudah, dinikahi saja biar tidak jadi fasik)

Orang alim itu memang terkesan urakan (amburadul), tapi dia bisa memberikan solusi. Seperti tadi, solusi supaya tidak timbul perzinahan lebih baik dinikahkan saja.

Nabi pun demikian, tidak ada ceritanya Nabi yang diutus itu ketika dihadapkan pada orang yang punya kejelekan atau keburukan, tanpa memberikan solusi.

Kembali lagi pada orang yang bodoh tadi. Pada dasarnya karena memang dia ini bodoh ya…

Misalnya, ketika dia berjalan di kerumunan, terus dia melihat banyak orang yang celananya pendek dan tidak menutup aurat.

Dia pun berkomentar, “Neroko iku… Neroko…!!” (Neraka itu… Neraka!!) Padahal Nabi tidak pernah mengajarkan wiridan model seperti itu lho…

Wirid kok ‘neroko iku’! Wiridan itu, “Subhanallah, Alhamdulillah..”

Wiridan kok me-neraka-kan orang, itu wiridan ajarannya siapa??

Orang bodoh yang soleh ini memang menyusahkan. Dia ini soleh, tapi ketika diberikan persoalan-persoalan semacam tadi, dia tidak bisa memberikan jawaban yang solutif, ini kan jadi repot!

Saya jadi teringat sebuah nadham (syair) yang isinya seperti ini:
فساد كبير عالم متهتك # واكبر منه جاهل متنسك

(Rusaknya dunia itu sebab adanya orang yang alim tapi fasik, akan tetapi lebih merusak lagi ialah orang yang bodoh yang ahli ibadah).

Oleh karenanya, kalian ini semua kalau tidak terlalu pintar alias bodoh, maka beribadahmu tidak usah rajin-rajin banget. Sebab apa, ya sebab jika nanti kalian beribadahnya getol, kalian akan berkharisma, fatwamu akan didengar.

Seharusnya kalian biasa saja, jika umumnya shalat qobliyah dua rakaat, ya cukup dua rakaat saja, tidak usah berlebihan.

Malah mending lagi kalian ini tampil semrawut atau urakan, biar salahmu nanti terlihat. Bukan kok malah sok-sok-an hati-hati ketika berperilaku dan bergaya kharismatik.

Kalian kalau tampil urakan justru akan lebih benar dalam menjalani hidup, terutama ketika ada sangkut pautnya dengan urusan agama. ”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here