Ghibthoh dalam Ilmu dan Hikmah

200

Oleh: Ustadz H. Abdul Ghoni Djumhari (Wakil Lembaga Dakwah Parmusi Pusat)

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِىُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنِى إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِى خَالِدٍ عَلَى غَيْرِ مَا حَدَّثَنَاهُ الزُّهْرِىُّ قَالَ سَمِعْتُ قَيْسَ بْنَ أَبِى حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا »

“Haddatsanaa Al Humaidiy ia berkata, haddatsanaa Sufyan ia berkata, haddatsanaa Ismail bin Abi Kholid, Az-Zuhri telah menghaditskan kepada kami dengan selain lafadz ini, ia berkata, aku mendengar Qois bin Abi Haazim berkata, aku mendengar Abdullah bin Mas’ud  berkata, Nabi  bersabda : “Tidak boleh hasad kecuali kepada 2 orang yakni, orang yang Allah berikan kepadanya harta lalu ia habiskan dijalan kebenaran dan seorang yang Allah berikan hikmah, lalu ia konsisten dengan hikmah tadi dan mengajarkannya (kepada manusia),” (Hadits ini jiga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1933).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1- Hasad pada asalnya tercela, namun jika hasad untuk memotivasi diri agar bisa meniru kebaikan orang lain yang diistilahkan dengan Ghibthoh maka ini adalah terpuji. Nabi pernah bersabda:

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

“Sesungguhnya di antara hamba Allah ada beberapa orang yang mereka itu bukan para Nabi dan juga para Syuhada, namun para Nabi dan para Syuhada meng-ghibthoh-i mereka pada hari kiamat, karena kedudukannya di sisi Allah,” (HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Imam Al-Albani).

2- Ghibthoh adalah seseorang berkeinginan untuk mendapatkan nikmat seperti orang yang di-ghibthoh-i tanpa ada rasa bahwa nikmat tersebut menjadi hilang dari orang yang di-ghibthoh-inya. Hal ini berbeda 180 derajat dengan Hasad, karena orang yang Hasad menginginkan agar nikmat yang didapatkan oleh orang yang di-hasad-inya itu hilang darinya.

3- Hadits ini menunjukkan bahwa harta yang dimiliki seseorang tidak berguna nanti pada hari kiamat kecuali harta yang diinfakkan di jalan Allah.

4- Hadits ini menunjukkan keutamaan niat yang baik, karena sekalipun seseorang tidak memiliki ilmu dan harta, namun ia berkeinginan seandainya Allah  memberikan karunia ilmu dan harta kepadanya, niscaya ia akan melakukan kebajikan seperti orang yang diberikan ilmu dan harta, maka ia akan mendapatkan ganjaran seperti orang yang dighibthohinya

Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Bahwa harta yang dimiliki seseorang tidak berguna nanti pada hari kiamat kecuali harta yang diinfakkan dijalan Allah. Allah  berfirman:

لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya,” (QS. Al-Mujaadilah [58] : 17).

2-  Perumpamaan mengenai orang-orang mukmin yang membelanjakan hartanya demi memperoleh rida Allah, agar Allah rida kepada diri mereka.

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآَتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat,” (QS. Al-Baqoroh [2]: 265).

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here