Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Revolusi Kemerdekaan

268

Oleh: Lukman Hakiem (Peminat Sejarah)

PADA 8 Juli 1945 bertepatan dengan 27 Rajab 1364 H, di Jakarta diresmikan pembukaan Sekolah Tinggi Islam (STI), sekarang Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Dua hari kemudian, para pelajar STI (saat itu istilah mahasiswa belum populer) mendirikan Persatuan Pelajar (PP) STI. Para pengurus PP STI antara lain Subianto Djojohadikusumo (Ketua Umum), Suroto Kunto (Wakil Ketua I), Bagdja Nitidiwirja (Wakil Ketua II), dan Siti Rahmah Djajadiningrat (Sekretaris).

Pada waktu-waktu tertentu, para mahasiswa STI berkumpul untuk mendiskusikan nasib dan masa depan bangsa. Ketua Umum PP STI, Subianto Djojohadikusumo, aktif menanamkan rasa kebangsaan dan semangat kepahlawanan. Dia juga selalu memberi informasi mengenai kekalahan Jepang dan kemenangan Sekutu di berbagai front pertempuran.

Lima pekan sesudah pembukaan STI, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Rapat Raksasa di Lapangan Ikada

SATU bulan sesudah Proklamasi Kemerdekaan, para pejuang kemerdekaan mengerahkan ribuan rakyat ke Lapangan Ikada untuk mendengarkan pidato Presiden Sukarno. Dari seluruh penjuru Jakarta, bahkan dari Karawang, Bandung, Cileungsi, Bogor, Cianjur, dan Sukabumi, rakyat berbondong-bondong membanjiri Lapangan Ikada.

Tentara Jepang yang diberi mandat oleh Sekutu untuk menjaga keamanan dan ketertiban Jakarta, tidak mengizinkan penyelenggaraan rapat raksasa di Lapangan Ikada itu, dan melarang Bung Karno atau Bung Hatta hadir di lapangan. Akan tetapi, tanpa mengenal rasa takut, rakyat terus membanjiri Lapangan Ikada.

BACA JUGA: Sukarno, Soeharto, dan Masa Jabatan Tanpa Batas

Berkat diplomasi Wali Kota dan Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID, cikal bakal DPRD) Jakarta, Mr. Soewirjo dan Mr. Mohamad Roem, akhirnya tentara Jepang tidak punya pilihan lain kecuali mengizinkan Bung Karno dan Bung Hatta hadir di Lapangan Ikada.

Bung Karno berpidato singkat. Antara lain mengatakan, sesudah kemerdekaan kita raih, waktunya untuk berbuat banyak. Rakyat diminta pulang dengan tertib, dan senantiasa mematuhi perintah para pemimpin.

Mohamad Roem mencatat, rapat di Lapangan Ikada pada 19 September 1945 itu sebagai rapat yang paling terkenal dalam sejarah Republik Indonesia. Sejak hari itu dunia tahu, hanya Bung Karno dan Bung Hatta saja yang kata-katanya dipatuhi dengan sepenuh hati oleh rakyat Indonesia.

Balai Muslimin Indonesia

MALAM hari sesudah rapat raksasa itu, markas Angkatan Pemuda Indonesia (API) di Menteng Raya 31 diserbu oleh tentara Jepang. Banyak pemimpin API ditangkap, dan alat-alat perjuangan seperti pemancar radio, disita.

Mereka yang lolos, kemudian bergabung ke markas mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku) di Jalan Prapatan 10, dan ke asrama mahasiswa STI, Balai Muslimin Indonesia, di Jalan Kramat Raya 19.

Kelak ketika tentara Sekutu datang dan membuat markas di dekat asrama Ika Daigaku, asrama itu ditinggalkan penghuninya. Mereka bergabung di Balai Muslimin.

BACA JUGA: Kiai Masjkur, Missi Haji Bung Hatta dan Bung Karno

Sejak makin ramainya Balai Muslimin dikunjungi para pejuang, makin besarnya simpati terhadap perjuangan para pemuda Islam, dan mengingat tahapan perjuangan yang memerlukan pengorganisasian yang mantap, para mahasiswa STI sepakat membentuk wadah perjuang pemuda Islam yang direncanakan tidak berafiliasi kepada sesuatu partai atau sesuatu organisasi.

Dalam suatu rapat yang dipimpin oleh Suroto Kunto, disepakatilah untuk mengubah nama STI, menyusun Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga yang baru, dan membentuk kepengurusan baru dengan melibatkan orang-orang luar STI yang bersimpati kepada perjuangan pemuda Islam.

BACA JUGA: Ketika Kementerian Agama Meralat Penetapan 1 Syawal yang Telah Diumumkan

Demikianlah, pada 2 Oktober 1945, diresmikanlah berdirinya Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Untuk pertama kalinya, susunan Pucuk Pimpinan GPII ialah sebagai berikut: Harsono Tjokroaminoto (Ketua Umum), A. Karim Halim (Wakil Ketua I), Mufraini Mukmin (Wakil Ketua II), Anwar Harjono (Sekretaris Umum), dengan tiga orang Pembantu: Ahmad Buchari, Djanamar Adjam, dan Adnan Sjamni.

Begitu dibentuk, GPII segera bekerja. Sambil memperkenalkan dan membentuk GPII di daerah, untuk membangkitkan semangat rakyat mempertahankan kemerdekaan, PP GPII mencetak selebaran berisi ayat Quran dan Hadits Nabi yang menganjurkan jihad fi sabilillah untuk mengusir penjajah.

Bung Hatta: Nyalakan Semangat Rakyat

SAAT diselenggarakan sidang kedua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Gedung Balai Muslimin, 15-17 Oktober 1945, Wakil Ketua II PP GPII A. Karim Halim mengusulkan kepada Wakil Presiden Hatta untuk mengirim para pemuda ke berbagai daerah, guna menggerakkan revolusi kemerdekaan.

Bung Hatta sangat antusias menyambut gagasan Halim. Kepada Wakil Ketua GPII itu, Hatta berkata: “Nyalakan dan bakar semangat rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Saya lebih rela Sumatera hangus terbakar, daripada dijajah kembali oleh Belanda.”

BACA JUGA: Ismail Banda, Diplomat Ulung yang Gugur dalam Tugas

Asrama mahasiswa STI kembali menjadi markas perjuangan pemuda, karena dari Balai Muslimin dipersiapkan dan diberangkatkan rombongan Pemuda Pelopor ke Sumatera. Rombongan ini berangkat ke Sumatera dengan membawa buku Undang-Undang Dasar 1945, pamflet semboyan revolusi, pamflet berisi ayat Quran dan Hadits Nabi mengenai jihad fi sabilillah, dan lain-lain.

Dalam pada itu, ketika terbetik kabar bahwa pada Kongres Pemuda di Yogyakarta, 10-11 November 1945, ada rekayasa untuk melebur semua organisasi pemuda ke dalam sebuah wadah tunggal Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), GPII gigih menantang rekayasa itu.

Karena suara keras GPII itu, pembentukan Pesindo gagal. Sebagai gantinya dibentuk badan kontak bernama Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) yang diketuai oleh Chairul Saleh dan Ahmad Buchari (GPII) sebagai salah seorang wakil ketua.

BACA JUGA: Fakta di Balik Penahanan Hatta-Sjahrir di Sukabumi dan Resolusi Tolak Negara Pasundan

Ketika dibentuk Partai Masyumi, Ketua Umum PP GPII Harsono Tjokroaminoto dipilih menjadi Sekretaris I. Ketika Masyumi menerbitkan koran Al-Djihad, Harsono ditunjuk memimpin koran itu. Kelak, Harsono ditunjuk oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman menjadi penasihat politiknya. Harsono mendampingi Jenderal Soedirman dalam gerilya setelah agresi militer II Belanda.

Di masa gerilya itu, GPII membentuk PP Darurat dan ditugasi turut bergerilya ke berbagai wilayah untuk membangkitkan semangat pemuda Islam mempertahankan kemerdekaan.

Menghadapi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun (September 1948), GPII menggalang kerja sama dengan semua kekuatan antikomunis untuk menumpas pemberontakan. Dan seperti dicatat oleh PP GPII: “Tidak sedikit korban yang jatuh karenanya, dari kawan-kawan kita keluarga GPII.”

BACA JUGA: Artidjo Al-Kostar Dkk: Pancasila Jangan Dijadikan Alat Pemukul

Kiprah GPII tidak hanya di forum nasional, tapi meluas ke forum internasional. Di awal 1951, GPII terpilih untuk turut dalam Kongres Pemuda Muslim se-Dunia di Karachi, Pakistan.

Dalam situasi nasional yang tidak menentu sejak pecahnya Dwitunggal Sukarno-Hatta, GPII mengusahakan tumbuhnya pengertian dan dipahaminya pendirian segala pihak.

Gedung Menteng Raya 58

DALAM rangka itulah, GPII menjalin kerja sama dengan semua pihak, termasuk dengan militer. Dan GPII memenuhi anjuran penguasa perang untuk turut dalam Badan Kerja Sama Pemuda Militer (BKSPM) dan Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB).

Di masa ini pula, GPII berhasil mendapatkan kantor sekretariatnya di Jl. Menteng Raya 58.

Laporan PP GPII di Kongres VIII, 22-28 Juli 1956, mengidentifikasi gedung tersebut sebagai berikut: “…. Sebuah gedung besar yang disediakan oleh Yayasan Gedung GPII, sedang gedung ini memiliki berpuluh-puluh kamar. Kami bisa bangga bahwa kantor PP GPII menjelang Kongres GPII VIII telah siap semua. Siap dipakai dan dipergunakan. Dalam gedung ini direncanakan akan tinggal berkantor berbagai-bagai organisasi pemuda, antara lain Porpisi, PII, Pandu Islam, dan tidak ketinggalan GPII Putri. Kecuali itu sebuah Perpustakaan GPII, yakni suatu perpustakaan pengetahuan, tempat mengkaji semua masalah di dalamnya. Insya Allah akhir tahun ini (1956 –elha) perpustakaan yang kami cita-citakan sudah dapat didirikan.”

BACA JUGA: NU dan Masyumi Berpisah Tapi Tetap Kompak

Ada tiga kategori yang boleh tinggal di Gedung GPII Menteng Raya 58: (1) Permanen. Yang boleh tinggal secara permanen ialah Direktur Gedung GPII beserta keluarga dengan kewajiban mengatur, memelihara, membuat tata tertib, dan bertanggung jawab kepada Yayasan. (2) Semi Permanen, ialah mereka yang masih aktif bertugas dalam organisasi. Jika sudah tidak aktif lagi, harus pindah, dan (3) Sementara, yaitu para para aktivis organisasi dari luar daerah.

Menjadi GPI

SAYANG kiprah GPII tidak berlangsung lama. Pada 10 Juli 1963 dengan Keputusan Presiden No. 139 Tahun 1963 GPII diperintahkan untuk menyatakan pembubaran dirinya dalam waktu terhitung sejak tanggal ditetapkannya Keppres tersebut.

Di awal Orde Baru, lewat Nota Ahmad Buchari kepada Panglima Daerah Militer Jakarta Raya, Brigadir Jenderal Amirmachmud, usaha merehabilitasi GPII pernah dilakukan. Tapi, “kata tidak berjawab, gayung tidak bersambut.” Nota Ahmad Buchari sama sekali tidak direspons.

BACA JUGA: Beberapa Fakta Penting Sekitar Masyumi dan PRRI

Guna mewadahi para aktifis GPII, sesudah ikhtiar merehabilitasi GPII tidak terdengar kabar beritanya, Persatuan Ummat Islam (PUI) mengikhlaskan organisasi pemudanya diubah menjadi Gerakan Pemuda Islam.

Di awal era reformasi, dideklarasikan kebangkitan kembali GPII. Sebagai orang luar, saya menduga dengan deklarasi itu, GPII benar-benar eksis kembali seperti sebelum 1963. Akan tetapi sampai hari ini ternyata setelah deklarasi itu, di samping GPII masih ada GPI.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Wallahu a’lam bi al shawab. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here