Fusi PPP Harus Tuntas, Parmusi Saja Ada Kader-Kader NU

206
Ketua Umum PP Parmusi H. Usamah Hisyam saat menerima kunjungan Panitia SC Muktamar PPP di Markas Dakwah Parmusi, Jakarta, Selasa (3/11/2020). (Foto: Ratim/OMG)

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam menyatakan, PPP akan lolos tiga besar dalam Pemilu 2024 jika dalam memilih pemimpin, para kadernya benar-benar mampu melaksanakan fusi tuntas pada Muktamar IX di Makassar pada Desember mendatang dengan mengacu pada 5 Khidmat dan 6 Nilai Perjuangan Partai.

Karena dengan fusi tuntas tersebut, jelas Usamah, kepemimpinan PPP mendatang insya Allah akan mampu mempersatukan umat kembali, utamanya para kader dan simpatisan partai.

“Kalau kita tidak mampu mempersatukan kader dan simpatisan empat unsur fusi partai, bagaimana akan mempersatukan umat Islam Indonesia agar bisa memenangkan PPP?” ujar Usamah.

Baca juga: Ketum Parmusi: Kembalikan 6 Prinsip Perjuangan Jika PPP Ingin Dipercaya Umat

Karena itu, lanjutnya, dalam memilih pimpinan PPP di semua tingkatan, harus lebih diutamakan pada kapasitas pribadi dalam membangun networking serta merangkul seluruh potensi umat, pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan partai, serta pengalamannya dalam mengembangkan dan memimpin organisasi.

“Latar belakang unsur fusi partai itu, bukan kata kunci untuk menangkan PPP, tetapi unsur fusi sama sekali tak boleh ditinggalkan. Sebaliknya harus menjadi alat pemersatu partai agar partai ini bisa berdiri kokoh dan kuat. Jangan lagi terjadi atas nama fusi dijadikan strategi untuk menyingkirkan kader-kader potensial dari unsur fusi lainnya. Ini juga salah satu faktor yg membuat PPP mudah terjerumus dalam konflik hingga terpuruk,” tandas Usamah.

Ia mencontohkan, sejak dipimpinnya lebih lima tahun lalu, Parmusi dikembangkan menjadi pemersatu umat dengan tagline ‘connecting muslim’ agar gerakan dakwah yang dilaksanakan semakin massif.

Baca juga: Usamah Hisyam Diminta Maju Caketum Benahi PPP

“Terbukti, dalam relatif singkat banyak Dai Parmusi bergabung dari berbagai latar belakang madzhab dan ormas. Bahkan kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) ada yang menjadi Dai-dai Parmusi. Mosok iya partai sebesar Partai Persatuan Pembangunan yang seharusnya inklusif, tapi dalam memilih pemimpin masih terbelenggu harus dari ormas tertentu yang sama dengannya? Sudah tak zaman lagi,” kata Usamah.

Selain itu, lanjutnya, dalam memilih figur pemimpin puncak, seperti ketua umum, bukan saatnya lagi dipengaruhi oleh siapa yang paling banyak memberikan uang. Sudah pasti, katanya, saat Muktamar bisa terima sampai Rp 50 juta.

“Tetapi ingat, pemimpin yang membeli jabatan, saat memimpin sudah pasti hanya akan mencari untung untuk kembalikan modal. Akhirnya, kursi parlemen merosot tajam, dan banyak yang jadi pengangguran. Karena itu Muktamar IX PPP kali ini harus menjadi panggung taubat nasional seluruh kader, jangan hanya bermimpi PPP menjadi besar, tetapi perilaku tidak berubah,” cetus Usamah.

Mantan anggota FPP DPR ini berharap, para peserta Muktamirin PPP kali ini benar-benar menyadari bahwa kini PPP harus diselamatkan. Salah memilih pemimpin, maka pada pemilu 2024 nanti akan terpuruk tak lolos parliamentary threshold.

“Karena itu para kader tidak boleh memilih pemimpin karena menebarkan banyak duit, wallahu a’lam,” tandas usamah. (Mam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here