Fabyan Sakit Apa? Kisah Sedih Seorang Jurnalis Kehilangan Putra Tercinta

5583

Muslim Obsession – Hanya Allah yang tahu kapan, bagaimana, dan di mana ajal menjemput hamba-Nya. Begitupun soal usia. Ajal datang tak pilih kasih. Tua, muda, bahkan anak-anak tak akan luput jika itu sudah kehendak-Nya.

Informasi berikut ini merupakan penuturan seorang News Produser ANTV yang kehilangan sang anak tercinta karena terpapar Covid-19. Gejala-gejala yang dialami sang anak berbeda dari penderita Corona lainnya.

Sang ayah, Farma Dinata, mengizinkan Muslim Obsesion untuk berbagi kisah yang ditulis di laman Facebooknya, Senin (27/4/2020). Sebuah penuturan yang patut direnungkan agar menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk waspada terhadap Covid-19.

Mari kita simak dengan seksama.

Fabyan Sakit Apa?

Putra kami Fabyan Devara insyaAllah remaja yang sehat, enerjik, santun, cerdas, rutin tahajud, duha dan sholat berjamaah di masjid sebelum masjid-masjid ditutup akibat pandemi.

Kami sekeluarga sempat menikmati masa-masa isolasi mandiri, saya WFH, fabyan dan adiknya keyzar devario belajar di rumah. Kami bertiga bergilir menjadi imam untuk sholat berjamaah sekeluarga.

Sampai suatu hari di pekan terakhir bulan maret lalu, si ganteng mengeluh tangan kanannya kesemutan lalu kebas. Semakin hari dia mengeluh tangan kanannya mati rasa, hingga kesulitan menulis dan makan.

Baca juga:

Kisah Mualaf, Calon Perawat Cantik Masuk Islam setelah Baca Al-Quran

Kisah Inspiratif Seorang Istri Dokter yang Menangani Pasien Corona

Kisah Inspiratif! Belanja Penangkal Corona

Untuk mengerjakan tugas2 sekolah, Byan kadang minta bantuan adik atau mamahnya untuk menuliskan. Untuk makan, kami sering pergoki dia menggunakan bantuan tangan kiri.

Sepekan setelahnya, dia mulai memperlihatkan kebiasaan aneh, tidur sepanjang hari. Bangun cuma untuk sholat lantas tidur lagi. Makan, mandi trus tidur. Dalam sehari semalam dia bisa tidur 20 sampai 23 jam!

Kami sempat kesulitan mencari RS yg ada praktek dokter saraf karena saat itu pas dengan kebijakan PSBB sehingga banyak poli tutup.

Kami akhirnya menemukan dokter saraf yg aktif di salah satu RS di Pasar Rebo, jaktim. Diagnosa dokter saat itu ada masalah di otak kiri anak kami.

Saya sempat bertanya, apa penyebabnya, apakah luka, infeksi atau tumor otak? Bukan, kata dokter, kalau itu biasanya penderita akan mengalami sakit kepala, sementara Byan mengaku tidak.

Apakah akibat mengkonsumsi narkoba dok? Bukan juga katanya, karena efek narkoba biasanya hilang dalam 1-2 hari, sementara Byan sudah tidur terus hampir sepekan ketika itu.

Apakah kemungkinan virus? Bukan juga kata dokter saat itu, karena kalau virus atau bakteri di otak akan menyebabkan kelumpuhan kedua sisi tubuh, sementara Byan hanya sebelah kanan.

Kami sempat bolak balik RS itu untuk cek darah dan ct scan dengan kondisi Byan harus menggunakan kursi roda, karena sama sekali sudah tidak bisa mengontrol rasa kantuknya.

Kami sempat merayakan milad ke-16 fabyan pada 13 April. Saat itu dia tampak bahagia, dikunjungi beberapa teman dan keluarga kami di rumah. Namun kondisinya sudah tak sanggup berdiri. Masya Allah, dalam keadaan sakit Fabyan sebelumnya masih menjadi imam sholat berjamaah kami sampai kakinya tak kuasa lagi berdiri.

Setelah ultah, fabyan muntah-muntah. Kami khawatir, karena setiap makanan yg disuapi selalu dimuntahkan kembali. Akhirnya kami larikan ke IGD RS terdekat di pondok labu jaksel. Dokter tak mau merawat inap, meminta kami kembali lagi besoknya untuk periksa ke poli saraf.

Hasil tes darah normal, ct scan pun tidak terlihat ada masalah di otaknya. Akhirnya dokter saraf RS itu merujuk fabyan ke RS Pusat Otak Nasional di cawang jakarta timur.

Dokter RS PON mendiagnosa fabyan mengalami stroke. Kasus langka, tp katanya memang pernah ada kejadian pada remaja. Namun dokter jg belum menemukan penyebabnya, karena hasil cek lab ulang terlihat normal, begitupun ct scan.

Hingga 5 hari dirawat di RS PON kondisi fabyan memburuk, dia sama sekali sudah tidak bangun dari tidurnya. Bahkan sudah tidak bisa merespon apalagi komunikasi. Dan yang mengerikan, fabyan mulai batuk, suhu tubuhnya sempat beberapa kali tinggi, kejang kejang.

Hasil tes thorax, fabyan terindikasi terpapar. Dia harus pindah ke ruang isolasi di lantai khusus pasien covid dan diambil sample tes swab keesokan paginya. Dengan berat hati, saya harus menandatangani protokol covid, diantaranya: biaya perawatan diambil alih pemerintah dan jika dia meninggal dunia harus menjalani proses pemulasaran jenasah hingga pemakaman sesuai protokol covid. Saya tidak punya pilihan lain.

Hari ke-4 di ruang isolasi, fabyan meninggal dunia. Tepat di hari pertama Ramadhan, jumat 24 april 2020. Secara medis fabyan dinyatakan meninggal pukul 4.40 wib, saat azan subuh berkumandang.

Hasil test swab belum keluar, namun dokter meyakini kematian akibat covid karena kerusakan organ terjadi sangat masif dalam waktu singkat.

Alhamdulillah, meski harus menjalani protokol covid, saya masih bisa mengumandangkan azan di telinga kanan anak sholeh itu sebelum  dibawa ke kamar jenasah. Keluarga kami juga masih diberi kemudahan oleh Allah untuk mensholatkan Fabyan sebelum dibawa ambulans ke pemakaman. Tidak sedikit Keluarga dekat masih berkesempatan mengantar fabyan hingga pemakamannya di TPU Pondok Rangon.

Walau pedih hati tak terkira, InsyaAllah kami ikhlas.

Ya Rab, kuatkan hati dan iman kami keluarga yg ditinggalkan. Semoga fabyan memilih dan memberi syafaat pada kami untuk menemani kehidupan kekalnya di surga-Mu ya Allah.

Aamiin Yaa Allah.

2 KOMENTAR

  1. Cov 19 bisa menyerang saraf otak?
    Atau awalnya terkena infeksi virus lain? Yg melemahkan daya tahan tubuh. Kmd ketika periksa ke RS beberapa kali terpapar infeksi virus cov 19.
    Wallahu ‘alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here