Empat Cara Sedekah yang Dilakukan Sayyidina Ali bin Abi Thalib

180

Jakarta, Muslim Obsession – Mungkin ada orang yang bertanya sedekah yang baik itu seperti apa? Apakah baiknya dilakukan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Biasanya ada yang mengatakan lebih baik dilakukan sembunyi karena jika dilakukan terbuka maka berpotensi menimbulkan ria, atau rasa kesombongan.

Namun, sedekah terbuka juga tidak dilarang dalam Al-Quran sahabat Umar bin Khattab termasuk orang yang senang melalukan sedekah dengan cara terbuka, karena ini dianggap sebagai syiar, atau ajaran baik yang bisa menjadi contoh banyak orang agar mau bersedekah. Mau berbuat baik kepada sesama.

Berbeda dengan Umar, sahabat Ali bin Abi Thalib, kata KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mempunyai cara berbeda. Ketika mempunyai rezeki untuk sedekah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib akan membaginya menjadi empat bagian. Gus Baha mengaku lebih cocok dengan cara yang dilakukam sahabat Ali.

Baca juga: Gus Baha: Indonesia Milik Bersama, Bukan Cuma PDI-P

Misalkan, ketika memiliki uang 1 juta Rupiah, maka uang itu akan dibagi menjadi empat bagian, masing-masing 250 ribu. Rinciannya begini:

Yang satu bagian, digunakan untuk bersedekah secara jahr, atau terang-terangan. Adapun satu bagian lagi, digunakan untuk bersedekah kepada yang membutuhkan dengan cara sirr, atau tertutup. Satu bagian lagi digunakan Sayyidina Ali untuk sedekah pada waktu siang. Sementara bagian terakhir, digunakan untuk sedekah pada waktu malam hari.

Sayyidina Ali, menurut Gus Baha, membuat perhitungan seperti itu dalam menginfakkan hartanya. Jika sedekah yang sembunyi sudah dilakukan, maka beliau melaksanakan sedekah yang terang-terangan. Jika sedekah pada waktu malam hari sudah ditunaikan, maka giliran melaksanakan sedekah pada siang hari. Begitu seterusnya.

Baca juga: Gus Baha: Ada Adzab yang Lebih Mengerikan daripada Neraka

Hal ini merupakan cara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam bersedekah demi melaksanakan perintah Al-Quran yang tertera dalam surat al-Baqarah ayat 274, yang berbunyi:

اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. al-Baqarah: 274)

Dalam penjelasan tersebut, Gus Baha juga menekankan kepada jamaah bahwa dalam bersedekah kita mungkin sering takut atau khawatir jika sedekah kita menjadi riya’. Kiranya kekhawatiran tersebut bisa dihindarkan atau dibiarkan saja. Karena bagaimanapun, sedekah secara terang-terangan pun dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 271:

اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 271)

Baca juga: Mana yang Lebih Didahulukan, Bayar Utang atau Sedekah?

Gus Baha memberi ilustrasi, bahwa jika kita takut riya’, maka sebenarnya kita takut kepada setan. Jadi sekalipun khawatir riya’, sedekah itu sesekali perlu untuk dilakukan secara terang-terangan dan diperlihatkan secara gamblang.

Keutamaan bersedekah dalam waktu dan kesempatan yang berbeda tersebut adalah, bahwa dalam berbuat baik tidak mengenal yang namanya momentum. Sehingga jika tidak bersedekah pada malam hari, toh kita masih bisa untuk bersedekah pada siang hari.

Sebaliknya, jika pada siang hari tidak sempat bersedekah, waktu malam pun tidak jadi soal, karena ada perintahnya dalam Al-Quran. Sehingga dalam arti lain, tidak mengenal siang atau malam.

Oleh karenanya, bisa kita ambil kesimpulan bahwa tidak ada istilah “momentumnya sudah lewat” dalam berbuat baik. Dalam hal ini, sedekah ala Sayyidina Ali bin Abi Thalib pun begitu. Ketika terdorong bersedekah ya segera tunaikan saja. Tidak perlu banyak alasan karena sudah terlalu larut malam, lalu tidak jadi sedekah karena “momentumnya sudah lewat”. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here