Eksoterisme Versus Esoterisme

823

Oleh: Helmi Hidayat (Konsultan Ibadah PPIH, Dosen UIN Jakarta)

Ketika menulis catatan ini saya sedang berada di jantung kota Makkah, Saudi Arabia. Sebagai Muslim, saya sudah melaksanakan ibadah umrah dengan mengelilingi Ka’bah tujuh putaran serta menapak-tilas jejak Siti Hajar antara bukit Shafa dan bukit Marwa tujuh etape sesuai syariat Nabi Muhammad SAW. Ibadah pertama disebut thawaf yang berarti berkeliling, ibadah kedua disebut sa’i yang berarti berusaha.

Saya bukan hendak menceritakan ibadah dan doa-doa rahasia saya pada Allah ke ruang publik. Apa yang hendak saya tegaskan adalah bahwa saat melaksanakan ibadah umrah itu, saya hanya dibalut dua lembar kain putih tak berjahit. Tentu saja saya tidak mengenakan celana dalam.

Ribuan lelaki Muslim yang melakukan ibadah yang sama saat itu juga tidak mengenakan celana dalam. Kami tahu sama tahu dan, karena itu, kami tak peduli. Ribuan jemaah perempuan yang melaksanakan ibadah yang sama di kanan-kiri kami pun, dugaan positif saya, juga tidak peduli.

Dari pelajaran sejarah dan antropologi bangsa Arab saya tahu bahwa jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir lalu diangkat jadi utusan Allah, orang-orang Arab melakukan thawaf dan sa’i dalam keadaan telanjang bulat. Itu bahkan terjadi sampai tahun kesembilan hijriah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here