Ekonomi RI Minus 5,32 Persen, Indonesia Belum Alami Resesi

130

Jakarta, Muslim Obsession – Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal II-2020 minus 5,32 persen. Kondisi cukup memprihatinkan karena lemahnya daya konsumsi masyarakat.

Banyak yang menyebut Indonesia bakal masuk ke tahap resesi. Sebab, jika dilihat dari kuartal ke kuartal atau quarter to quarter (QtQ), pertumbuhan ekonomi nasional sudah berada pada level negatif pada dua kuartal berturut-turut.

Pada kuartal I-2020, jika dilihat secara kuartal ke kuartal, pertumbuhan ekonomi RI sebesar minus 2,41 persen. Kemudian, pada kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi nasional minus 4,19 persen secara QtQ. Sehinga tanda resesi terlihat begitu nyata.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Indonesia masih belum memasuki fase resesi. Apa alasannya?

Sri menyebut sebuah negara baru dapat dikatakan masuk ke fase resesi apabila realisasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan atau year on year (yoy) terkontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

“Biasanya dalam melihat resesi itu, dilihat year on year untuk dua kuartal berturut-turut,” katanya, dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Dengan teori tersebut, kata Sri Indonesia belum dapat dikatakan masuk ke fase resesi. Pasalnya, jika dilihat secara tahunan, realisasi pertumbuhan ekonomi RI baru terkontraksi satu kali tahun ini.

Pada kuartal I-2020, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 2,97 persen (yoy). “Tidak menggunakan Q to Q,” kata Sri Mulyani.

Dengan terkontraksinya pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020, Sri Mulyani berkomitmen untuk menjaga perekonomian nasional pada kuartal berikutnya, agar terhindar dari zona negatif. Sehingga, Indonesia tidak masuk ke fase resesi.

“Kalau kuartal III bisa kita hindarkan, maka kita insya Allah tidak secara teknikal mengalami resesi,” ucapnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here