Dzikrullah dan Doa Parmusi untuk Ibu Pertiwi yang Berduka

390
Parmusi menggelar Dzikir dan Doa Bersama online yang melibatkan para dai dan asatidz secara nasional, Rabu (8/4/2020).

Jakarta, Muslim Obsession – Puluhan wajah tertunduk. Bukan karena malu, tapi khusyuk. Saat itu emosi seperti diaduk, ketika dzikrullah dilafazhkan dengan lantunan yang menusuk-nusuk.

Hebatnya, suasana itu membuat hati tenang dan nyaman. Dan perlahan, wajah-wajah tertunduk mulai menahan tangis. Meski tak terdengar isak, namun kibasan yang menyeka hidung dan mata menjadi isyarat kebenarannya.

Rabu (8/4) siang jelang petang, puluhan Dai Parmusi berkumpul dengan ustadz-ustadz dan puluhan jamaah di masing-masing daerah dalam sebuah cermin maya. Di wahana Zoom Cloud Meeting mereka bertafakur dalam perhelatan bertajuk Dzikir dan Doa Bersama.

Allahumma shalli wasallim ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa Aali Muhammad,” Ustadz Abu Imam Rumbara dari Kota Ambon mengucap shalawat dengan lirih. Disambung dengan lantunan Ayat Kursi.

Ragam dzikir terus dilafazhkan secara bergantian. Tampak para asatidz dari Maluku, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Aceh, dan wilayah lainnya semakin terlelap dalam kesyahduan.

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa-i wa huwas sami’ul ‘aliim..,” ucap pelan Ustadz Syaiful Sulaiman dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Doa penolak bala yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dibacanya dengan isak tangis.

Langgam doa yang naik-turun dilantunkan merdu menambah suasana semakin syahdu. Dari layar kaca laptop tampak air matanya bercucuran. Ustadz Syaiful berhasil memantik tangis. Sampai di sini, tangis jamaah makin menjadi.

“..Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minaz zhaalimiin..,” terdengar dzikir Nabi Yunus ‘alaihissalam yang juga turut dibacakan. Kali ini Ustadz Afdhal Zainal dari Kota Palu, Sulawesi Tengah membacanya sedikit berbisik. Sebelumnya, ia bacakan Tasbih seratus kali yang terus diikuti jamaah.

Hingga puncaknya, Dzikir dan Doa Bersama ditutup dengan doa dari Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) KH. Syuhada Bahri. Dengan penuh khusyuk, doa Kiai Syuhada diaminkan jamaah. Tangis semakin pecah.

“…Kami mengaku dengan penuh kejujuran, hidup kami penuh dosa dan kemungkaran. Hidup kami diliputi kesombongan-kesombongan, hidup kami yang sering dilupakan oleh keduniaan, sehingga menganggap kehidupan akhirat hanyalah ilusi belaka. Kini Engkau tunjukkan kembali kekuasaan-Mu. Engkau gemparkan seluruh dunia. Tidak ada kekuatan dahsyat seperti apapun yang mampu menghadapi virus yang Engkau turunkan. Kami yakin Engkau memiliki maksud yang baik agar kami semakin dekat dengan-Mu. Hari ini kami memohon kepada-Mu Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, ampunilah dosa dan kesalahan kami Ya Allah, ampunilah dosa dan kesalahan kami Ya Allah…,” ucap Kiai Syuhada. Caranya membawakan doa membuat tangis jamaah semakin dalam.

Inisiatif Parmusi

Sebelumnya, ketika acara dimulai, Ketua Umum PP Parmusi H. Usamah Hisyam memberikan catatan seputar kondisi negara dan upaya yang dilakukan Parmusi.

Usamah mengatakan, upaya yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi. Kendati hampir semuanya tidak ada yang bersifat dimensi ilahiyah. Hampir tidak ada upaya pemerintah untuk menggerakkan masyarakat agar berdzikir dan berdoa memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala supaya Covid-19 segera dihilangkan.

“Pada Mukernas VI, Parmusi memutuskan mengambil inisiasi untuk berdzikir dan berdoa secara nasional. Semoga upaya ilahiyah yang kita lakukan ini dapat juga diikuti dan dilakukan oleh komunitas maupun ormas-ormas Islam lainnya,” ujar Usamah.

Usamah menegaskan, ia tentu berharap Dzikir dan Doa Bersama ini dapat memutus mata rantai Covid-19. Tentunya dengan izin Allah subahanahu wa ta’ala. Namun ini semua adalah upaya. Karena manusia berusaha, Allah jugalah yang menentukan.

“Harapannya kita semua dapat memasuki Ramadhan dengan kondisi yang aman, tenang, dan tentram untuk melaksanakan ibadah,” harapnya.

Khusus untuk daerah yang belum terpapar Coivid-19, Usamah mengimbau agar tetap melaksanakan ibadah di masjid. Terkecuali bagi daerah yang masuk zona merah, Usamah mengingatkan agar tetap mematuhi imbauan pemerintah.

Sementara Wakil Ketua LDP Ustadz Farid Ahmad Okbah dalam taushiyahnya mengingatkan umat Mukminin agar senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun. Lalu berpikir tentang ciptaan Allah, termasuk virus Corona yang sejatinya merupakan bagian dari bentuk kebesaran Allah.

“Selain Allah, semuanya adalah makhluk. Oleh karenanya untuk melewati ini kita harus mendekati Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala,” urainya.

Rencananya, kegiatan serupa akan kembali dihelat Parmusi. Dzikir dan Doa Bersama secara online dengan menggunakan Zoom Cloud Meeting akan dilaksanakan pada 18 April mendatang.

Harapannya, dzikir dan doa yang disampaikan dapat mengetuk pintu langit serta Allah subhanahu wa ta’ala berkenan mengabulkan segala permintaan dan harapan yang dipanjatkan. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here