Dukung Keluarga Berkualitas, BKKBN Launching Website Siap Nikah

162
Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K)

Jakarta, Muslim Obsession – Gerbang pernikahan begitu indah, menyatukan cinta dua insan. Keluarga bahagia menjadi impian semua orang. Tapi, jangan lupa, syarat dan ketentuan berlaku. Membangun keluarga bahagia tak semudah membalik telapak tangan. Butuh persiapan.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengatakan, ada 10 dimensi kesiapan berkeluarga yang harus menjadi perhatian calon pasangan. Mulai dari dari kesiapan usia, fisik, mental, finansial, moral, emosi, sosial, interpersonal, keterampilan hidup, dan kesiapan intelektual.

“Itulah kunci terbentuknya keluarga berkualitas,” ujarnya saat webinar launching website www.siapnikah.org, hari ini, Senin (4/5/2020).

Website ini merupakan pengembangan dari www.siap-nikah.id hasil kolaborasi BKKBN dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kali ini, BKKBN menggandeng Rumah Perubahan untuk mendesain website yang bisa menjadi one stop solution dan rujukan bagi generasi muda untuk mendapat bekal pengetahuan dan lebih siap saat menikah.

“Termasuk belajar parenting atau pengasuhan anak,” kata Hasto.

Salah satu dimensi yang menjadi perhatian serius BKKBN adalah kesiapan usia. Hasto menyebut, usia siap nikah bagi laki-laki setidaknya 25 tahun dan perempuan 21 tahun. Namun, data menunjukkan jika angka hamil dan melahirkan pada usia 15-19 tahun  di Indonesia masih tinggi, 36 dari 1.000 kelahiran.

“Hamil dan melahirkan di usia remaja lebih berisiko secara kesehatan maupun mental,” ucap dokter pakar bayi tabung tersebut.

Terkait kehamilan, satu hal yang menjadi perhatian serius BKKBN adalah risiko di masa pandemi covid-19. Menurut Hasto, dalam situasi bekerja dari rumah, interaksi pasangan memang lebih intens. Guyonan yang menyebut Corona negatif tapi istri positif (hamil) bisa menjadi kenyataan.

“Pantauan kami, pemakaian alat kontrasepsi turun 50 persen. Ini bahaya,” jelasnya.

Hasto menyebut, masa awal kehamilan, terutama 8 minggu pertama sangat rawan. Sebab, di periode inilah fase krusial pembentukan organ pada janin. “Gangguan kesehatan atau kurangnya nutrisi ibu hamil di periode ini bisa memicu risiko cacat pada bayi,” terangnya.

Menurut Hasto, di masa pandemi ini, layanan untuk ibu hamil di fasilitas kesehatan juga akan terdampak. Selain itu, banyak keluarga yang terganggu ekonominya karena PHK atau usaha yang lesu. Akibatnya, belanja untuk pemenuhan nutrisi jika istri hamil juga akan terganggu.

“Apalagi, pada fase hamil muda, daya tahan tubuh turun, jadi lebih rentan terserang penyakit,” ucapnya.

Karena itu, Hasto menyarankan agar pasangan usia subur tetap menggunakan alat kontrasepsi di masa pandemi ini. Terkait adanya fasilitas kesehatan yang mengurangi layanannya karena tenaga medisnya kekurangan APD (alat pelindung diri), BKKBN sudah menyediakan alternatif akses layanan KB melalui mobil keliling di berbagai daerah.

“Jadi, kami pesan betul, di masa pandemi ini tolong jangan hamil dulu,” ujarnya.

Membangun Family 4.0 di Era Digital

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Rhenald Kasali menambahkan, era digital membutuhkan kesiapan lebih bagi calon pasangan maupun keluarga muda yang tengah membangun rumah tangga.

“Digitalisasi mendorong perubahan masif dan cepat di berbagai bidang, jadi kita dituntut adaptif,” ujarnya dalam webinar launching website www.siapnikah.org bertajuk Family 4.0, Membangun Keluarga Berkualitas di Era Digital, Senin (4/5).

Rhenald mengatakan, generasi muda maupun keluarga muda harus memiliki kemampuan  literasi digital. Salah satunya adalah menyaring informasi. Sebab, popularitas media sosial telah memicu banjir informasi. Sayangnya, sebagian adalah hoax.

“Salah satu isu terbesar yang menjadi sasaran hoax adalah kesehatan. Jadi, sangat terkait dengan keluarga,” katanya.

Selain tantangan, era digital juga melahirkan banyak peluang. Misalnya, di masa pandemi covid-19 ketika banyak perusahaan dan pekerja terdampak, kini muncul geliat  entrepreneurship di kalangan keluarga.

Misalnya, ibu rumah tangga yang berjualan sayuran, makanan, masker, maupun disinfektan melalui grup WhatsApp dan media sosial.

“Artinya, platform yang sebelumnya hanya menjadi kanal komunikasi dan sosialisasi, kini banyak dimanfaatkan untuk berbisnis,” jelasnya.

Aspek lain yang sangat erat kaitannya dengan keluarga adalah pengasuhan anak atau parenting. Sekolah dari rumah di masa pandemi membuat porsi pendidikan anak yang dulu banyak berlangsung di sekolah, kini bergeser ke rumah.

Para orangtua pun harus menjalankan peran sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Di sini, kemampuan adaptif kembali dibutuhkan. Zaman sudah berganti. Metode belajar zaman dulu yang banyak menekankan hafalan, tak lagi relevan dengan kebutuhan hari ini dan masa depan.

“Jadi, saat ini bukan hanya anak yang harus belajar, tapi orang tua pun juga harus terus belajar,” ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here