Dua Petugas Haji ini Tanggalkan Jabatan Demi Antar Jamaah Haji Tersasar

197

Makkah, Muslim Obsession – Pukul 01.00 dini hari waktu Arab Saudi. Suasana Kota Makkah mulai terasa sunyi. Sebagian besar penghuni kota kelahiran nabi ini tengah bersenda gurau di alam mimpi, terlelap di atas peraduan yang nyaman, berbalut selimut hangat.

Namun, kondisi tersebut tak berlaku bagi dua pria paruh baya berseragam putih bertuliskan ‘Petugas Haji Indonesia 2019’. Keduanya, masih berada di dalam mobil yang melaju menembus kesunyian jalanan Kota Makkah. Mereka harus mengantarkan dua orang jemaah haji yang saat ini berada di bangku belakang mobil.

Bila tak kenal, mungkin orang tak akan menyangka jika keduanya adalah ‘orang penting’ pengambil kebijakan dalam penyelenggaraan haji Indonesia. Ya, mereka berdua adalah Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nizar Ali dan Direktur Bina Petugas Haji Khoirizi.

“Tadi kami baru selesai memantau pelayanan dan melakukan pertemuan di sektor 7, kemudian ada jemaah dari Aceh Singkil ini yang seharusnya tinggal di sektor 2, tersasar di sana. Kami ajak untuk ikut kami,” tutur Nizar, Jumat (23/08) dini hari.

Sekitar 15 menit kemudian, mobil pun berhenti di depan hotel 225 yang menjadi tempat tujuan mereka. Dua orang jemaah tersebut tampak sumringah setibanya di hotel. Berulang kali mereka mengucapkan terimakasih kepada Nizar dan Khoirizi.

“Alhamdulillah, mereka merasa senang sudah diantar. Mereka kebetulan sudah menunggu giliran cukup lama untuk diantar oleh mobil sektor. Kebetulan mobilnya juga sedang berkeliling mengantar jemaah-jemaah yang tersasar di sektor 7 itu,” jelas Khoirizi.

Paska puncak musim haji, mengantar jemaah kembali ke pemondokan memang jadi pekerjaan rumah yang kerap dilakukan para petugas haji. Ada saja jemaah yang kerap ditemukan terpisah rombongan atau pun salah jurusan naik bis shalawat menuju pemondokan.

Maka, Kepala Daerah Kerja Makkah Subhan Cholid pun mengimbau para petugas kloter untuk menyampaikan kepada jemaah, bila mereka salah naik jurusan bus dan kebingungan, silakan langsung datangi pemondokan Indonesia terdekat.

Kejadian macam ini pun tak kenal waktu, bahkan kerap terjadi hingga tengah malam. Di sini lah petugas dituntut untuk siap sedia memberikan pelayanan.

“Nanti petugas yang ada di pemondokan akan berkoordinasi dengan pemondokan jemaah yang salah jurusan atau terpisah dari rombongan itu. Jemaah akan diantar atau dijemput untuk kembali ke pemondokan asalnya,” ujar Subhan di wa grup pimpinan Daker Makkah kala itu.

Risikonya, karena keterbatasan kendaraan serta jumlah petugas, maka jemaah yang terpisah rombongan ini perlu bersabar untuk dapat kembali ke pemondokan asalnya. Termasuk dua jemaah asal Aceh Singkil yang ditemui Nizar dan Khoirizi di hotel 713, zona Misfalah, Makkah itu.

“Siapa pun kita, selama kita adalah Petugas Haji Indonesia, maka wajib membina, melayani, dan melindungi jemaah. Termasuk ya mengantar jemaah haji pulang ke pemondokan,” ujar Nizar.

“Saya cukup yakin, petugas haji kita tidak ada yang berleha-leha. Kebetulan saat ini yang punya kelonggaran waktu untuk mengantar, saya dan Pak Direktur Bina Haji. Jadi kami yang antar, tidak masalah,” imbuh Guru Besar Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini kala ditanya mengapa tidak menyuruh jajarannya saja untuk mengantar jemaah.

Sementara, Direktur Bina Haji Khoirizi menuturkan, dalam pengamatannya, Dirjen PHU Nizar Ali memang kerap turun langsung melayani jemaah.

“Kami sadar, pelayanan ibadah haji ini akan baik bila ada keteladanan. Maka jangan heran kalau melihat Pak Dirjen, bahkan Pak Menteri turun langsung memberikan pelayanan bagi jemaah,” tutur Khoirizi.

Khoirizi menuturkan, perjalanannya malam itu bersama Dirjen PHU sudah dimulai sejak pukul 21.30 waktu Arab Saudi. “Kami hanya ingin melihat sejauh mana semangat teman-teman petugas memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan pada fase kedua haji ini. Sebagaimana pesan Menag, semua petugas harus memberikan yang terbaik bagi jemaah,” kata Khoirizi.

Ia merasa terharu kala menyaksikan sendiri meskipun malam hari, para petugas selalu siap sedia di pos masing-masing untuk melayani jemaah. Malam itu ia menyaksikan sendiri para petugas sektor berjaga di kantor sektor. Petugas transportasi pun stand by di pos-pos bus shalawat selama 24 jam.

Ini, menurut Khoirizi, bukan hal yang mudah. Apalagi bila melihat perbandingan jumlah petugas dan jemaah. Saat ini hanya ada sekitar 1.200 petugas PPIH yang melayani lebih dari 150ribu jemaah yang masih ada di Kota Makkah.

“Alhamdulillah, kami melihat kesadaran untuk membina, melayani dan melindungi jemaah tetap melekat di jiwaraga para petugas,” ucap Khoirizi.

Itu adalah doktrin yang kerap diberikan oleh pria yang kerap dipanggi Ayah oleh para petugas haji Indonesia ini. Sejak pembinaan 10 hari yang dilakukan di Asrama Haji Pondok Gede, Khoirizi kerap menanamkan kepada para petugas untuk melakukan pembinaan, pelayanan dan perlindungan kepada jemaah haji diminta atau tidak diminta di manapun berada.

Penanaman ini terasa makin lengkap dengan keteladanan yang diberikan oleh para pimpinan di Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag. Bravo PPIH !!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here