Dosa

431
Ilustrasi: Salah satu puncak dari perbuatan dosa adalah menyekutukan Allah (syirik).

Oleh: Abdullah Mahmud

Dosa itu ada dua. Pertama, meninggalkan perintah Allah. Itu yang dialami oleh Iblis saat diperintah Allah untuk sujud hormat kepada Adam AS.

Kedua, melanggar larangan Allah. Itulah yg dialami oleh ibu bapak kita; nabi Adam dan Hawwa.

Akibatnya, Iblis dilaknat dan dia tidak mau bertaubat bahkan bersumpah untuk menyesatkan manusia sebanyak mungkin dari jalan Allah agar masuk neraka tidak sendirian. Sedang kedua ibu bapak kita diusir dari surga dan diturunkan ke dunia. (QS. Thaha, 20: 123)

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيْعًاۢ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚفَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ەۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدٰيَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى

Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Jadi, tempat asal kita itu di surga. Karenanya, di dunia ini kita diuji dengan keburukan dan kebaikan, apakah mau kembali ke tempat semula yaitu surga ataukah melanggar dengan berbuat dosa?

Keputusannya, ada di tangan manusia. Allah memberi petunjuk dan nabi Muhammad ﷺ mencontohkan. Tinggal manusia mau taat atau maksiat?

Dosa itu racun kehidupan. Dia merusak qalbu, merusak otak, merusak badan, merusak keluarga bahkan kata Nabi ﷺ menutup pintu rezeki:

إنَّ الرَّجلَ ليُحرم الرِّزقَ بالذنبِ يُصيبُهُ

“Seseorang bisa sulit rezekinya karena dosa yan dia lakukan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Shahih)

Dosa itu ada dua jenisnya; yaitu (1) dosa besar dan (2) dosa kecil (QS. An-Nisa, 4: 31):

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ …

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, …

dan (An-Najm, 53: 32):

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ …

(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil …

Kata Ibnu Abbas bahwa ketaatan itu berimplikasi wajah yang cerah, qalbu yang bercahaya, badan yang kuat dan disukai oleh masyarakat lingkungannya.

Sedang dosa menjadikan muka orang itu gelap, qalbunya hitam, badannya lemah, sulit rezekinya dan dibenci orang sekitarnya.

Begitu pula pengaruh dosa akan mendatangkan bala’, musibah, sial bahkan murka ilahi (QS. Al-Ankabut, 29: 40):

فَكُلًّا اَخَذْنَا بِذَنْۢبِهٖۙ فَمِنْهُمْ مَّنْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ اَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْاَرْضَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اَغْرَقْنَاۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri”.

Karena itu mari kita jauhi dosa karena bisa menyengsarakan kita dunia sampai akhirat. Dosa itulah kejahatan manusia. Puncaknya ada tiga, yakni syirik kepada Allah, membunuh manusia, dan berzina.

Cara menghindarinya? Bertaubat, meningkatkan iman dan beramal shalih (QS. Al-Furqan, 25: 68-70)

Imam Nawawi berpendapat; agar taubat diterima Allah maka harus melakukan 4 hal: Pertama, menyesal atas prilakunya yang salah itu. Kedua, meninggalkan dosa itu. Ketiga, tidak mengulangi lagi. Keempat, bila terkait dengan hak adami harus dikembalikan atau meminta maaf.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here