Doni Monardo: Rekomendasi WHO Tidak Bisa Jadi Acuan

158
Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Letjen TNI Doni Monardo. (Foto: Dokumen BNPB)

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyatakan, rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait virus corona (Covid-19) belum tentu pas diterapkan di Indonesia.

Karenanya, rekomendasi WHO tidak bisa dijadikan acuan bagi Gugus Tugas untuk melakukan langkah-langkah konkret dalam melakukan penanganan corona. Ia minta sebelum diterapkan, rekomendasi WHO harus dikaji dulu.

“Pemberitahuan dari WHO perlu kita kaji sesuai kondisi di negara kita. Kalau kita ikuti mentah-mentah, dampaknya kita pasti akan terjadi penularan yang lebih banyak lagi,” kata Doni usai rapat terbatas di Istana, Senin (29/6/2020).

Apa yang disampaikan Doni sekaligus menanggapi rekomendasi WHO dimana rapid test tidak perlu dilakukan dua kali oleh pasien corona. Menurut Doni, harus dilakukan kajian terlebih dahulu sebelum melaksanakan imbauan WHO tersebut.

Terlebih lagi, menurut dia, pernyataan WHO sering berubah-ubah. Salah satunya soal orang tanpa gejala (OTG) yang disebut memiliki risiko penularan yang kecil. Kemudian berubah lagi.

“Oleh WHO pernah dimuat mungkin dua minggu yang lalu. Kita sudah diskusi, apa enggak salah nih WHO. Ternyata benar diralat lagi sama WHO. WHO berubah-ubah terus,” kata dia.

Sikap WHO yang berubah-ubah dinilai sangat berbahaya apabila pernyataan WHO itu langsung diikuti mentah-mentah.

Sebab, jumlah OTG di Indonesia sangat besar, mencapai antara 70 persen hingga mendekati 90 persen. Mereka bisa menjadi pembawa virus bagi kelompok rentan.

“Mereka (OTG) ini tidak apa-apa, tapi menjadi sangat berisiko ketika dia menyentuh orang tua dan orang dengan penyakit komorbid,” kata dia.

Doni sekaligus kembali mengingatkan agar kelompok masyarakat itu berhati-hati melakukan kegiatan di luar rumah.

Selain itu, para pimpinan perusahaan atau pejabat negara harus mengetahui kondisi kesehatan karyawan atau jajarannya. Mereka yang memiliki penyakit penyerta diimbau untuk tidak diberi kesempatan bekerja dari kantor.

“Apabila ini dilakukan, kita bisa mengurangi risiko masyarakat yang punya komorbid ini bisa selamat,” kata Doni Monardo. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here