Ditanya Jamaah Nabi Muhammad Kaya atau Miskin? Ini Jawaban UAS dan UAH

263

Jakarta, Muslim Obsession – Dalam sebuah kajian bersama Ustadz Abdul Somad atau UAS, ada jamaah yang bertanya tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw. Semasa hidupnya Nabi sebenarnya orang kaya atau miskin?

Pertanyaan itu muncul karena jamaah bingung banyak cerita tentang kehidupan Nabi. Satu sisi diceritakan Nabi orang yang kaya karena saudagar. Bahkan saat menikahi Siti Khadijah maharnya dengan 20 unta. Namun, dikisah lain Nabi pernah menaruh batu di perut untuk mengganjal lapar.

“Saya bertanya Pak Ustaz, dalam satu kajian disebutkan kalau Nabi Muhammad miskin, sementara di kajian lainnya bilang kalau Nabi Muhammad punya kekayaan melimpah, yang mana yang betul?” ungkap salah seorang
jemaah.

Mendengar pertanyaan itu, UAS kembali mengisahkan saat Nabi Muhammad memberi mahar mas kawin ke istrinya pertama, Khadijah dengan 20 ekor unta ditambah sederet uqiyah emas. Total nilainya Rp 1 miliar.

“Nah kira-kira kalau ada anak lajang 25 tahun menikah, maharnya Rp 1 miliar, kaya atau miskin?” kata UAS dikutip dalam saluran Youtube pribadinya.

Namun di dalam riwayat yang lain, UAS membenarkan Nabi Muhammad pernah menggantung batu di perutnya. Batu bulat itu, kata UAS, diikat di perut menggunakan kain panjang.

“Karena perut itu kalau usus kena ikat itu bisa menahan lapar. Kalau tak diikat berbunyi-bunyi dia. Pernah itu? Ya sahih hadisnya. Bukankah nabi kita itu orang yang kaya, dengan memberi mahar unta kepada calon istrinya? Dia ngasih unta ke Khadijah itu kapan? umur 25,” kata UAS.

UAS menceritakan, Nabi Muhammad juga pernah merasakan hidup miskin saat perjuangan Islam, dan awal masuk ke Madinah. Di saat itulah Rasulullah mengikatkan perutnya dengan batu agar menahan lapar.

“Tapi tahun kedua hijriah, waktu Perang Badar, naik lagi (ke-kaya-annya), ketika itu Nabi Muhammad dapat rampasan perang sebanyak 50 ribu keping uang emas Dinar.”

“Satu kepingnya 4,25 gram atau setara Rp 2 juta, coba dikali 50 ribu keping, sama dengan Rp 100 miliar. Nah jatah nabi dikasih seperlima, yakni 20 persen. Kalau begitu nabi dapat jatah Rp 20 miliar. Nah, kalau ada orang punya duit Rp 20 miliar, kaya atau miskin?” kata UAS panjang.

Hidup bersahaja

UAS mengakui ada sejumlah pihak yang menyebut Nabi Muhammad tidak meninggalkan apa-apa berupa harta. Tetapi, kata UAS, bukan berarti Nabi miskin, melainkan Nabi Muhammad memilih hidup bersahaja. Miskin dan hidup bersahaja itu beda.

“Bedakan antara orang yang hidup bersahaja dengan miskin melarat tak punya apa-apa. Jangan tarik kesimpulan dari satu hadist. Nabi tidak miskin, tidak pula hidup berlebih-lebihan.”

Tidak hanya UAS, ustadz kondang Adi Hidayat juga pernah menjelaskan saat ditanya jamaah tentang kehidupan Nabi kaya atau miskin. Kata Ustaz Adi atau UAH ini Nabi Muhammad dahulu selalu berkurban rata-rata 100 ekor.

Walau begitu, ada yang cukup menyita perhatiannya, di mana Rasulullah rupanya tidur di ruangan sempit. Ini menggambarkan kalau beliau tidak hidup berlebih-lebihan.

“Dalam sebuah hadist, ketika Aisyah (istrinya) tertidur lalu tangannya bergerak, terkena kaki suaminya. Itu tandanya ruangannya sempit. Bayangkan, selonjoran saja terkena kaki suaminya. Dan tidak mungkin tangan terkena kaki kalau tidak tidurnya tanpa alas. Kaau pakai kasur seperti sekarang, kenanya pasti pahanya,” kata UAH.

Artinya, kata dia, alas tidurnya begitu sederhana, ruangannya begitu sempit, tapi dia masih bisa berkurban sampai 100 ekor.

“Lalu Nabi Muhammad kaya atau miskin? Kaya. Kalau disebut paling kaya, karena sedekahnya paling banyak. Disebut miskin? Miskin, karena tempat istirahatnya begitu sempit.”

“Ternyata dia miskin urusan dunia, tapi kaya urusan akhirat.” (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here