Disebut Pasukan Sakit Hati, Gatot Nurmantyo Menjawab

184

Jakarta, Muslim Obsession – Lama tak terdengar, nama Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo belakangan kembali senter terdengar setelah dia secara resmi mendeklarsikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bersama Din Syamsuddin dan kawan-kawan aktivis lain.

Berdirinya KAMI yang dimotori oleh Gatot dan teman-temannya itu dituding bagian dari kelompok sakit hati yang tidak diberikan peran atau jabatan di pemerintahan. Lalu apa kata Gatot? Benarkah dia sakit hati karena jabatan?

Dalam video yang diunggah di akun youtube Refly Harun, Gatot menepis tuduhan itu. Bagi Gatot, tudingan tersebut salah alamat, dirinya mengaku bukan tipikal orang yang gila jabatan. Ia mencontohkan saat ditawari posisi Panglima TNI namun ditolak tiga kali.

Gatot menceritakan tawaran jadi Panglima TNI itu muncul saat dirinya masih menjabat Kepala Staf TNI AD (KSAD). Ia sempat tiga kali menolak jabatan itu.

“Tapi, singkatnya saya ini sewaktu jadi KSAD untuk jadi Panglima TNI, tiga kali saya menolak. KSAD 2014 juga. Tiga kali. Saya enggak mau saya sampaikan alasannya. Tidak etis (diungkap) antara saya saja dengan Pak Jokowi,” kata Gatot dalam video itu menegaskan, Jumat (28/8/2020).

Tidak hanya itu, Gatot juga mengungkapkan pernah ditawari jadi menteri pertahanan pada periode pertama Presiden Jokowi. Namun, lagi-lagi dia menolaknya karena saat itu yang menduduki posisi menteri pertahanan adalah seniornya di TNI yakni Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu.

Gatot menyebut tawaran itu muncul saat dirinya jadi Panglima TNI. Ketika itu, ada seorang menteri yang menghubunginya. Namun ia menolak karena dia merasa jabatan sebaga Panglima TNI adalah amanah yang harus diselesaikan secara paripurna.

“Saya sampaikan terima kasih tidak ada seorang Panglima TNI-pun yang tak bermimpi jadi menhan. Tapi, dalam kondisi saat ini di sisa waktu saya (menjabat Panglima TNI), saya ingin memberikan, mewariskan moral dan etika kepada junior saya,” ujar eks Pangdam Sriwijaya itu.

Pun, dia menambahkan, saat itu kondisinya dengan Ryamizard juga kerap berselisih pendapat. Maka itu, menurutnya, tak etis jika ia yang notabene seorang Panglima TNI kerap berselisih pandangan dengan menteri pertahanan. Namun, kemudian justru mengambil kursi menteri dari seniornya.

“Hampir semua media tahu bahwa saya dengan menhan waktu itu pak Ryamizard terjadi hubungan yang tidak harmonis. Sering berbeda pendapat. Tapi, sebenarnya secara pribadi enggak ada masalah,” ujar Gatot.

Dia menambahkan, jika ia menerima tawaran menteri menggantikan Ryamizard maka akan muncul konotasi untuk juniornya. Hal-hal seperti itu, ia merasa perlu dihindari karena lebih pada mengutamakan etika.

“Tapi karena Menteri Pertahanannya Pak Ryamizard, kalau saya terima konotasinya akan mendidik adik saya, kalau ada senior ingin kamu gantiin duduknya (jabatannya) kamu congkel-congkel (kritik) saja. Itu tidak baik,” katanya.

Kemudian, dari situ, Gatot mau menunjukkan contoh nyata bahwa ia bukan orang yang tergiur dengan jabatan. Ia pun kembali menegaskan, deklarasi KAMI murni karena keprihatinan atas kondisi bangsa. Ia merasa bangsa ini harus bergerak menuju perubahan.

“Untuk apa (jabatan) banyak yang masih berkompeten. Jadi bukan saya tidak tertarik bukan saya tidak mau. Hubungan saya dengan Pak Jokowi baik. Saya hanya ingin benar-benar menikmati hidup,” ujar Gatot. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here