Disebut Kurang Aman, 3 Hal yang Harus Diperhatikan dalam Video Conference

351

Jakarta, Muslim Obsession – Aplikasi video conference meroket setelah wabah virus corona COVID-19 melanda dunia. Banyak orang memanfaatkan platform tersebut untuk virtual meeting, belajar online atau sekedar bercakap dengan rekan dan keluarga selama periode physical distancing untuk mencegah penularan virus.

Namun berdadarkan laporan Motherboard, penggunaan video conference dalam sebuah aplikasi seperti Zoom disebut tidak aman. Sebab, semua data pengguna akan ketahuan dan bisa dilacak. Data itu akan terkirim ke Facebook tanpa sepengetahuan pengguna.

Beberapa di antaranya ialah waktu pengguna membuka aplikasi Zoom, model ponsel, lokasi pengguna, operator selular yang dipakai, hingga ID khusus yang dapat digunakan oleh pengiklan atau pihak ketiga dalam mengirimkan iklan yang sudah dipersonalisasi. Data ini tetap dikirim ke Facebook sekalipun pengguna Zoom tak memiliki akun Facebook.

Ini bukanlah hal yang aneh. Banyak pembuat aplikasi menggunakan perangkat pengembangan perangkat lunak Facebook untuk mengimplementasikan fitur tertentu ke dalam perangkat lunaknya.

Padahal, Facebook selalu meminta para pembuat aplikasi untuk memberi tahu pengguna mereka terkait berbagi data dengan perusahaan. Bahkan, Facebook meminta developer untuk mencantumkan nama ‘Facebook’ untuk kasus bagi-bagi data.

Majalah Consumer Report juga menyebut kalau data wajah yang terekam saat pengguna menggunakan aplikasi, bisa digunakan untuk menargetkan iklan tertentu. Data wajah itu juga bisa digunakan untuk ‘memberi makan’ machine learning algoritma pengenalan wajah.

“Hal ini mungkin tidak diinginkan ketika orang melakukan panggilan video untuk menghubungi terapis, mengadakan rapat bisnis, atau melakukan wawancara kerja menggunakan Zoom,” tulis laporan itu seperti dikutip Forbes.

Sementara itu, Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menilai aman atau tidaknya video conference tergantung keperluannya. Namun apa yang diperbincangkan tetap bisa disadap.

“Kalau hanya untuk meeting koordinasi yang nantinya juga akan terbuka untuk umum, rasanya Zoom cukup efisien dan memiliki enkripsi yang baik dan sulit di-decrypt, sekalipun bisa disadap,” tuturnya.

Sementara, untuk keperluan yang menyangkut hal rahasia, apalagi rahasia negara, Alfons menyarankan agar lebih berhati-hati dan tidak sembarangan menggunakan aplikasi dari negara lain.

“Kalau untuk VVIP seperti Presiden, Menteri Pertahanan, BIN atau data Top Secret memang lain treatment-nya,” ujar Alfons.

Untuk itu ia menyatakan, ada tiga yang harus perhatian apabila ingin melakukan video conference untuk membahas topik penting yang dianggap sebagai rahasia, yakni sebagai berikut.

1. Saat video conference dilakukan secara real time, pastikan datanya tersalur melalui jalur internet yang sudah diamankan dengan enkripsi.

2. Untuk menyimpan percakapan video, tidak disarankan disimpan di komputer, melainkan pada server yang terlindung dan diamankan dengan multi factor authentication.

3. Data komunikasi melalui kabel tembaga masih rawan disadap, data radiasi layar video conference secara teknis masih bisa disadap dengan alat khusus dari jarak yang cukup jauh mencapai ratusan meter.
(Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here