Disebut Bisa Bunuh Corona, Ini 4 Fakta Amoxicillin yang Perlu Diketahui

2025

Jakarta, Muslim Obsession – Di tengah meluasnya wabah virus corona, kini marak informasi berseliweran tentang berbagai macam obat atau ramuan yang bisa membunuh COVID-19 itu. Salah satunya obat amoxicillin. Jelas informasi yang menyebut amoxicillin bisa membunuh corona adalah hoax.

Sebab, amoxicillin sejatinya digunakan sebagai obat untuk melawan bakteri, bukan virus. Berikut empat fakta tentang amoxicillin yang perlu diketahui.

1. Amoxicillin merupakan antibiotik untuk melawan bakteri

Menurut buku berjudul “Amoxicillin” yang ditulis oleh Akhavan BJ dan Vijhani P serta diterbitkan oleh StatPearls Publishing di tahun 2020, menerangkan bahwa amoxicillin merupakan obat antibiotik. Amoxicillin bisa melawan banyak bakteri, mulai dari Corynebacteria, Streptococcus, Enterococcus, Escherichia coli, Salmonella, Shigella dan masih banyak lagi.

Sejauh ini, amoxicillin telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk mengobati infeksi telinga, hidung, dan tenggorokan, infeksi saluran pernapasan bawah, infeksi saluran genitourinarius, faringitis, radang amandel dan lain sebagainya. Amoxicillin diberikan secara oral atau diminum langsung.

2. Antibiotik tidak efektif untuk melawan COVID-19

Menurut dr. Noluthando Nematswerani, Kepala Pusat Keunggulan Klinis di Discovery Health, antibiotik tidak bekerja untuk melawan virus apapun, entah itu virus influenza musiman atau virus COVID-19 yang baru.

Mengapa demikian? Antibiotik hanya bekerja pada infeksi bakteri dan tidak bisa mencegah maupun mengobati infeksi virus. Bahkan, antibiotik bisa membuat bakteri menjadi resisten dan lebih sulit untuk dibunuh. Jika terjadi resistensi, bakteri akan tetap hidup dan menggandakan diri lebih banyak.

3. Amoxicillin memiliki efek samping, misalnya kram perut

Amoxicillin harus diminum sesuai dengan resep dokter. Jika tidak, mungkin akan mengalami berbagai efek samping. Mulai dari kram perut, diare, sakit kepala, detak jantung cepat, demam, nyeri sendi dan lainnya. Menurut laman Drugs.com, jika seseorang mengalami diare, maka ini adalah tanda adanya infeksi bakteri baru.

Selain itu, amoxicillin bisa membuat pil KB menjadi kurang efektif. Sebagai alternatif, ganti dengan metode kontrasepsi non-hormonal, seperti kondom, diafragma dan spermisida. Lebih baik, berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi amoxicillin bersamaan dengan obat lain, ya!

4. Dosis amoxicillin berbeda-beda.

Perlu diketahui, dosis amoxicillin tidak sama, tergantung apa penyakitnya. Misalnya, dosis infeksi chlamydia 500 mg sebanyak 3 kali sehari dan dikonsumsi secara oral. Sementara, Infectious Diseases Society of America (IDSA) merekomendasikan amoxicillin 500 mg sebanyak 3 kali sehari selama 14-28 hari untuk penyakit Lyme.

Untuk penyakit pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae, dianjurkan untuk minum 500 mg amoxicillin setiap 8 jam atau 875 mg setiap 12 jam. Penyakit bronkitis diberi dosis yang sama persis dengan pneumonia. Selain itu, untuk sinusitis, disarankan meminum amoxicillin 250 mg setiap 8 jam atau 500 mg setiap 12 jam, untuk kasus sinusitis ringan hingga sedang. Dan masih banyak lagi.

Itulah sediikit penjelasan tentang alasan mengapa amoxicillin tidak bisa digunakan sebagai obat untuk COVID-19. Jangan mudah tertipu hoax dan selalu saring sebelum sharing, ya! (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here