Din Syamsuddin: Malapetaka bagi Umat Islam Kalau Saling Menghina

674
Din Syamsuddin (Foto: Bal)

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengaku dalam banyak hal tak sepakat dengan Islam Nusantara. Tapi, sebagai Muslim yang berakhlak ia enggan untuk mencela atau menegasi pendapat sesama umat Islam secara terbuka apalagi dengan nada penuh kebencian.

“Malapetaka bagi umat ini kalau nanti saling mengenyahkan. Berpeganglah pada ajaran Rasulullah, Al-Hanafiyyat Al-Samhah, berpegang teguh pada keyakinan dengan tetap bertenggang rasa dan berlapang dada,” ungkap Din dalam keterangan tertulisnya kepada Muslim Obsession, Ahad pagi (29/7/2018).

Din menjelaskan, Wantim MUI telah menyepakati Etika Ukhuwah Islamiyah yang antara lain menjelaskan agar sesama umat Islam saling menghargai dan tidak saling menghina.

“Itulah akhlak mulia. Jadi kalau saudara-saudara NU (Nahdlatul Ulama, red) mengembangkan pikiran Islam Nusantara adalah hak mereka. Sama juga dengan Muhammadiyah yang mengembangkan Islam Berkemajuan adalah hak warga Muhammadiyah,” jelas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Din berharap kelompok umat Islam lain tidak perlu menyikapinya dengan sinis. Kalau tidak setuju, tegas Din, tidak perlu menyatakan secara terbuka karena akan mendorong sesama umat Islam saling menegasi, saling mengenyahkan.

Din berpendapat, jika terhadap pemeluk agama lain berlaku ajaran ‘lakum dinukum waliyadin’ bagimu agamamu bagiku agamaku, maka terhadap sesama umat Islam bisa diberlakukan ‘lakum ra’yukum wali ra’yi’ yakni bagimu pendapatmu dan bagiku pendapatku.

“Kita berbeda tapi kita bersaudara. Kalau tidak, umat ini akan saling menghina. Dan itulah awal perpecahan umat. Hal itulah yang menggejala akhir-akhir ini,” ujarnya.

Oleh karenanya Din mengajak kelompok terdidik, kelompok cerdas, dan kelompok arif bijaksana dari umat Islam untuk tampil mengawal ukhuwah islamiyah.

“Jangan biarkan perbedaan kepentingan politik memecah belah kita, dan jangan kebencian memenuhi hati kita,” harapnya.

“Saya hanya ingin bertawashi demikian. Kalau tidak sependapat tidak apa-apa. Saya berterima kasih terhadap yang sependapat, dan juga berterima kasih terhadap yang sinis, karena itu menambah pahala bagi saya,” tutupnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here