Dilema dr. Corona: Sekarang, Hampir Setiap Hari Saya Memilih Nyawa Pasien

43
Ketua Tim Muhammadiyah Covid-19 Command Center, dr. Corona Rintawan SpEM. (Foto: Istimewa)

Muslim Obsession – Di luar berita viral soal kisahnya memilih satu di antara tiga pasien Covid-19 yang bisa diselamatkan, Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dr. Corona Rintawan mengaku aktivitas dilematik itu kini hampir tiap hari dilakukan.

“Hampir setiap hari saya memutuskan, ini ventilatornya tinggal satu, pasiennya ada empat, mana yang dipilih? hampir tiap hari saya memutuskan,” keluh dr. Corona dalam siaran radio Elshinta News and Talk, Jumat (25/6) lalu.

“Kemarin ada empat juga, barusan kemarin (Kamis, 24/6) saya juga harus pilih satu dari empat dan akhirnya saya pilih yang agak tua karena yang lebih muda punya komorbid banyak sehingga kami perkirakan kalau pun diventilator (tetap) tidak akan survive, maka kami pilih yang usia tua tapi tidak punya komorbid sehingga dengan ventilator kita harapkan beliau bisa selamat,” ungkapnya, dilansir situs resmi muhammadiyah.or.id.

Selain memilah nyawa, dilema dan beban psikologis tenaga emergency seperti dirinya juga diperberat karena kini lebih sering menolak pelayanan karena kapasitas kamar yang telah penuh.

“Jadi memang ga mudah kondisi yang sekarang sehingga jadi dilema setiap hari. Kalau ditanya apakah kita yakin (tenang) 100 persen, ga pernah kita yakin (tenang) 100 persen untuk memutuskan itu,” imbuhnya.

Bagi pekerja medis di bagian kegawatdaruratan seperti Corona Rintawan, pelayanan dengan pendekatan Triase wajib dilakukan. Triase sendiri adalah prinsip dalam situasi gawat darurat di mana dokter harus menentukan prioritas penanganan berdasarkan peluang kemungkinan hidup.

“Kondisi pasien yang datang ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) berbeda-beda dari sedang sampai berat. Dalam kondisi bukan bencana, itu juga sebetulnya dilakukan triase karena seringkali datang sekaligus banyak pasien tapi perawatnya terbatas, jadi kami memilih mana nih yang kami prioritaskan untuk ditangani terlebih dahulu,” jelas dr. Corona.

Dalam konteks bencana seperti pandemi atau bencana alam, Triase dilakukan berbeda dengan situasi bukan bencana. Pasien yang lebih punya kemungkinan untuk survive akan diprioritaskan.

“Dalam konteks bencana memang ada sedikit perbedaan, kalau sehari-hari kita memprioritaskan yang paling gawat, dalam kondisi bencana di mana yang datang semua gawat, maka Triasenya adalah mana yang paling mungkin kita selamatkan,” terangnya.

“Pertimbangannya tidak mudah, tidak secepat (berita viral) yang di media sosial. Dalam prosesnya ada diskusi, kita lihat dulu laboratoriumnya, foto rontgentnya, dari situ kita evaluasi ini kira-kira sudah parah banget, mau dipasang ventilator pun juga tidak menolong, jadi yang berikutnya masih bisa kita tolong,” imbuhnya.

Meskipun telah memutuskan secara ilmu, dr. Corona tetap mengakui bahwa memilih pasien prioritas dalam pandemi Covid-19 menambahkan beban psikologis tersendiri.

“Kita hanya berikhtiar dengan ilmu yang kita punya. Saya di emergency sudah sejak tahun 2003, jadi berdasarkan pengalaman itu dan keilmuan, juga tidak hanya saya yang memutuskan, tapi diskusi dengan dokter anestesi, dokter ICU, dan dokter jaga IGD. Jadi ada komunikasi yang tidak hanya dua orang dan memang tidak bisa dipastikan 100 persen benar tapi kita,” tuturnya.

“Itu berat, berat sekali. Berat sekali. (Melakukan) Itu bisa kepikiran dan ga bisa tidur itu. Tapi memang saya dokter emergency jadi terbiasa di disaster. Ya jadi saat itu, kita harus mengambil keputusan. Satu keputusan di situasi emergency itu lebih baik daripada tidak sama sekali,” tambah dr. Corona.

“Misalnya ada pilihan 3 itu seperti yang kemarin. Kalau tidak segera mengambil keputusan, maka tiga-tiganya bisa meninggal semua. Tapi kita pilih satu yang bisa selamat,” jelasnya.

Meskipun memilih satu pelayanan prioritas, bukan berarti pasien yang tidak diprioritaskan ditelantarkan. Pasien tetap diberikan pelayanan maksimal sesuai keadaannya.

“Selama di UGD pun kita sudah berikan treatment, (pakai) non-invasive ventilation, jadi di UGD kita berikan yang terbaik. Tapi dalam hal keterbatasan kita memang harus memilih,” imbuhnya.

Bertugas di IGD Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan, dr. Corona menyaksikan buruknya gelombang kedua penyebaran Covid-19 saat ini. Dirinya melihat tren orangtua yang datang ke IGD mulai digeser oleh orang yang berusia lebih muda.

“Kebanyakan memang lansia, tapi sudah mulai bergeser di usia muda, 40-an. Memang di bawah usia 40, atau di atas usia 35 ada beberapa kasus,” terangnya. Kebanyakan pasien menurutnya dalam kondisi sedang sampai berat.

Di IGD Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan, dr. Corona bertugas dengan sistem shift full 3×24 jam dengan 2 shift pagi dan libur 2 hari. Dirinya mengungkapkan banyak perbedaan dengan penanganan Covid tahun lalu. Tahun ini, menurutnya mulai banyak pasien masuk IGD tanpa penyakit bawaan (komorbid).

“Untuk ruang isolasi penuh, 100 persen sudah terisi semua bed (tempat tidur)-nya. Untuk di IGD juga penuh. Ada antrian 21 pasien di IGD, belum bisa masuk rawat inap,” kata dr. Corona mengabarkan kondisi di hari Jumat (25/6).

Selain kekurangan tempat tidur, cadangan oksigen juga dianggap mengkhawatirkan dikarenakan adanya pasien yang terus berdatangan.

Atas kondisi melemahnya sistem kesehatan, dr. Corona Rintawan berpesan agar masyarakat membantu tugas tenaga kesehatan dengan terus memperhatikan protokol kesehatan dengan lebih ketat dan waspada.

“Kalau Anda itu memang punya orangtua di rumah, Anda punya aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan, tolong lebih hati-hati di dalam rumah,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here