Dilarang Dengki, Kecuali kepada Dua Orang Ini!

216

Muslim Obsession – Salah satu penyakit hati yang jarang disadari adalah dengki (hasad). Pasalnya, hasad itu sifatnya manusiawi. Artinya, setiap orang bisa dipastikan punya rasa tidak suka jika ada orang yang melebihi dirinya dari sisi keutamaan.

Hasad merupakan penyakit hati yang ditandai dengan ketidaksukaan terhadap nikmat yang ada pada orang lain. Dan lebih parah jika ia kemudian mengajak temannya untuk turut dalam kedengkiannya, agar sama-sama tidak menyukai nikmat yang ada pada orang lain tersebut.

Larangan berlaku hasad ditegaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits beliau berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya,’” (HR. Muslim, no. 2564).

Kendati demikian, rupanya hasad mendapat pengecualian jika dilakukan kepada dua jenis orang. Sebagaimana hadits berikut ini:

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Quran dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya,” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816).

Hadits ini menegaskan bahwa iri boleh dilakukan ketika menjumpai dua orang, yakni sosok dermawan yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan di jalan kebaikan. Juga kepada sosok ‘alim yang Allah beri karunia ilmu lalu amalkan dan mengajarkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here