Diktis dan Atase Perancis Mulai Petakan Riset Kolaboratif Saintek

494
Diktis dan Atase Perancis Mulai Petakan Riset Kolaboratif Saintek

Tangerang, Muslim Obsession – Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag dengan Atase Pendidikan Perancis mulai melakukan pemetaan kebutuhan riset kolaboratif bidang sains dan teknologi.

Kedua belah pihak menggelar rapat bersama di Tangerang. Direktur Diktis Arskal Salim mengatakan, rapat bersama ini merupakan tindak lanjut pertemuan dirinya dengan Atase Pendidikan Perancis pada 22 Januari 2018.

Seperti dilansir Kemenag, Selasa (6/2/2018), rapat ini diikuti pimpinan PTKIN yang mengelola fakultas-fakultas di bidang sains dan teknologi, ilmu kesehatan dan kedokteran, dan pertambangan.

“Pertemuan ini telah memunculkan beberapa rencana program tindak lanjut, di antaranya, Short Course untuk calon guru besar, penelitian kolaboratif internasional, dan studi lanjut S3 melalui Program 5000 Doktor,” tutur Arskal.

Pemetaan kebutuhan mulai dilakukan mengingat implementasi program ini rencananya akan mulai dilakukan pada 2019 mendatang. Sehingga, tahun ini diperlukan beberapa langkah persiapan.

“Program ini, baik penelitian maupun beasiswa studi lanjut di bidang sains dan teknologi, sebaiknya bersifat afirmasi. Kedutaan Perancis akan memberikan banyak kesempatan, termasuk untuk kursus bahasa yang dipercukupkan dengan pencapaian kompetensi bahasa di level A2 saja,” terang Arskal, Senin (5/1/2018).

Penyesuaian standar ini dimaksudkan agar banyak warga Indonesia yang dapat mengakses progran ini sehingga berkesempatan belajar di Perancis.

“Bahkan, saya juga berharap lulusan pesantren dapat mengaksesnya,” lanjutnya.

Atase pendidikan bidang kerjasama Sains dan Teknologi Perancis di Indonesia Nicholas Gascoin mengapresiasi langkah cepat Diktis dalam implementasi program kerjasama ini. Dia berharap awal tahun ini sudah teridentifikasi peta kebutuhan penelitian di bidang sain dan teknologi.

Menurutnya, selain dosen fakultas sains dan teknologi, dosen prodi social science juga dapat mengakses program bantuan ini. Namun demikian, dalam rangka menjawab kebutuhan guru besar di bidang sain dan teknologi, maka peserta short courses dipersyaratkan telah mempunyai naskah hasil penelitian yang akan dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.

Nicholas menilai, peserta program kemitraan ini lebih baik adalah mahasiswa yang sedang atau sudah menempuh pendidikan program Doktor. Hal itu menurutnya akan mempermudah pelaksanaan kemitraan riset.

Pengalaman di negaranya, penggerak riset adalah para mahasiswa dan dosen yang telah menempuh jenjang Ph.D Program. Apalagi, kebanyakan jurnal dan publikasi pada Universitas di Perancis juga sudah terindeks di Thompson.

Hal sama disampaikan Perwakilan Perancis Indonesia, Syarah H. Sriyani. Menurutnya, ekspektasi pihak pengelola program kemitraan ini cukup tinggi sehingga persiapannya harus matang.

“Jika memungkinkan, dalam program short course, peserta dapat menghasilan dua artikel untuk publikasi pada jurnal internasional,” katanya.

Kasubdit Penelitian Suwendi berharap pemetaan kebutuhan bisa dirumuskan dengan baik sehingga kemitraan ini dapat mempercepat penambahan jumlah professor pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here