Dijamin Halal, Vaksin Merah-Putih Simbol Kemajuan dan Kemandirian Bangsa

131
Uji Coba SWAB Test di Mobile BSL-2 (Bio Safety Level), Launching Aplikasi Covid-19, dan Penandatanganan MoU dengan Para Donatur, Selasa (16/6/2020). (Foto: ristekbrin)

Muslim Obsession – Wabah virus Corona (COVID-19) yang menjangkit seluruh masyarakat dunia membuat banyak negara melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan vaksin, tak terkecuali pemerintah Indonesia.

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) saat ini terus melakukan pengembangan vaksin yang disebut Vaksin Merah-Putih seiring dibukanya peluang kerja sama pengembangan vaksin bersama negara-negara sahabat.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menegaskan, Vaksin Merah-Putih merupakan vaksin yang dikembangkan secara mandiri oleh Indonesia, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, dengan titik berat pada empat faktor: kecepatan, efektivitas, akurasi, dan kemandirian.

Pengembangan vaksin ini dikerjakan oleh Tim Pengembangan Vaksin Merah-Putih yang dipimpin Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dengan platform protein rekombinan dan beberapa platform lainnya. Sensitivitas dan efektivitas Vaksin Merah-Putih akan berpeluang lebih tinggi karena menggunakan isolat virus COVID-19 yang bersirkulasi di Indonesia.

Pada saat ini diseluruh dunia terdapat 7 pendekatan desain vaksin yang sedang dikembangkan, yaitu protein rekombinan, inactivated, adenovirus, peptidarekombinan, partikel seperti virus atau Virus-Like Particle (VLP), vaksin berbasis asam nukleat (DNA dan RNA), dan teknologi inovasi berbasis kandidat vaksin.

Saat ini, LBM Eijkman tengah mengembangkan vaksin menggunakan platform protein rekombinan yakni S dan N, dengan menggunakan sistem ekspresi sel mamalia dan  yeast.  Tahapan pembuatan vaksin diawali dengan menggabungkan materi genetik virus SARS-CoV-2 ke dalam vektor ekspresi protein, untuk kemudian diekspresikan di sel mamalia atau  yeast tersebut.

Setelah protein rekombinan didapatkan, akan digunakan sebagai kandidat vaksin dari antigen virus yang terbentuk. Tahapan berikutnya adalah uji imunogenisitas dan efikasi di hewan coba sebelum berlanjut ke tahap scale up seed vaccine, uji klinis pada manusia, dan produksi vaksin skala besar. Untuk produksi vaksin akan dilakukan oleh Bio Farma sebagai satu-satunya produsen vaksin di Asia Tenggara.

“Pada Februari atau Maret 2021 diperkirakan seed vaccine sudah siap diserahkan ke industri untuk tahapan scale up. Diharapkan pengembangan Vaksin merah-Putih ini dapat menjadi solusi dalam pemenuhan kebutuhan vaksin bagi seluruh masyarakat Indonesia,” terang Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro.

Platform protein rekombinan yang digunakan pada Vaksin Merah-Putih dianggap lebih aman dibandingkan dengan vaksin DNA dan RNA dalam hal replikasi protein, serta lebih aman daripada keseluruhan virus yang dilemahkan atau dibunuh, karena tidak memerlukan pengembangbiakan virus dalam jumlah besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here