Dibully Karena Calon yang Didukungnya Selalu Kalah, UAS Menjawab

232
Ustadz Abdul Somad. (Foto: Istagram UAS)

Jakarta, Muslim Obsession – Pasca Pilkada serentak pada 2020 usai, nama Ustadz Abdul Somad atau UAS mendadak viral di Twitter. Ia banyak dibully karena setiap calon yang didukung selalu kalah. Ucapan nyinyir pun dilontarakan netizen, bahwa label ustadz kondang UAS tidak punya pengaruh yang berarti.

Sampai ada yanh bilang UAS difitnah jual agama, dan pengaruh untuk kepentingan pribadi tapi tidak laku di masyarakat. Dalam Pilkada ini, UAS memang secara terang-terangan mendukung pasangan pasangan Akhyar Nasution-Salman Alfarisi sebagai calon wali kota dan wakil wali kota Medan.

Namun, Akhyar harus kalah dengan menantu Jokowi Bobby Nasution. Sebelumnya pada Pilpres 2019 lalu, UAS juga menyatakan dukungan terhadap Prabowo Subianto. Ketua Umum Partai Gerindra ini pun akhirnya tumbang melawan Jokowi. Kekalahan dua kali dalam kontestasi politik demokrasi membuat UAS dibully netizen.

UAS pun akhirnya menjawab. Melalui akun Twitter UAS @UAS_Abdulsomad, Jumat, 11 Desember 2020, dia menuliskan panjang lebar mengenai arti pilkada bagi dirinya sendiri. UAS menjabarkan empat hal, di antaranya:

Apa arti Pilkada bagi UAS?

UAS menjawab:

1. Mengaplikasikan ceramah saya selama ini, bahwa perbaikan pada 3 aspek:

A. Pendidikan
B. Ekonomi
C. Politik

Saat pilkada saya berijtihad:
– memilih paslon
– meminta komitmen
– mendukung

2. Saya tidak berfikir menang atau kalah.
Karena Allah hanya menilai perjuangan, bukan hasilnya.

3. Saya sudah menang sebelum pencoblosan, krn:

– Saya menang melawan godaan uang, mobil dan jabatan.
– Saya menang melawan DIAM cari selamat.
– Saya menang melawan pesan2 dari jkt: “Uas jangan berpihak!”.
Begini cara sy melawan.

4. Pilkada ajang ujian hati:

– Kalau tausiyah, orang datang merebut tangan saya untuk bersalaman.
Saat pilkada, saya masuk ke pasar, menyalami orang, sambil berpesan: “Jangan lupa ya pak, bu, nanti coblos nomor …”.

Sementara itu, UAS menyadari jika hidup menjadi orang terkenal seperti sekarang ini memang ada suka dan duka nya. Dia mengamati dua hal terjadi belakangan ini terutama tentang kesadaran diri bersedia sosial.

Dibully, dihina, dicaci maki di medsos itu menyadarkan diri saya bahwa saya bukan siapa-siapa. Kalau terus dimuliakan, disanjung, lama-lama saya bisa jadi fir’aun,” ucap UAS. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here