Dibacakan Ayat Ini, Rasulullah Selalu Menangis

407

Jakarta, Muslim Obsession – Setiap ayat dan huruf dalam Al-Quran punya kandungan makna yang begitu luas. Ayat Al-Quran bagaikan kilauan cahaya indah yang membuat orang bisa tersentuh hatinya ketika membaca. Terlebih Nabi Muhammad sebagai penerima wahyu.

Ada sebuah cerita tentang Rasulullah Saw yang selalu menangis ketika dibacakan atau mendengar ayat Al-Quran. Cerita itu datang dari salah seorang sahabat beranama Abdullah bin Mas’ud. Ia menyaksikan sendiri menangis ketika mendengar sebuah ayat.

Abdullah bin Mas’ud termasuk orang dari generasi sahabat yang memiliki kedekatan dengan Rasulullah. Ia menjadi khadim (pelayan) yang loyal dan sering mengikuti ke mana Nabi pergi, membawakan keperluan beliau, bahkan dalam kesempatan tertentu ia diizinkan masuk ke kamar pribadi Nabi.

Di antara berkah dari hubungan dekat ini, Abdullah bin Mas’ud menyerap banyak ilmu dan keteladanan dari manusia suci itu, yang di kemudian hari melambungkan namanya sebagai sahabat yang sangat mengerti Al-Quran.

Contoh dari kedekatan hubungan tersebut adalah kisah Rasulullah yang pernah meminta Abdullah bin Mas’ud membacakan untuknya ayat-ayat Al-Quran. Terang saja Abdullah merasa heran.

“Wahai Rasulullah! Apakah (layak) saya membacakan Al-Quran untukmu sementara ia diturunkan kepadamu?”

“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku,” timpal Baginda Nabi.

Abdullah pun mengabulkan permintaan Rasulullah dengan membacakan Surat an-Nisa’ dengan fasih. Namun, Baginda Nabi tiba-tiba memintanya berhenti ketika Abdullah sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS an-Nisa’: 41)

Abdullah bin Mas’ud kemudian berhenti membaca. Ia menoleh ke wajah Rasulullah dan menyaksikan air mata meleleh dari kedua pelupuk mata utusan Allah itu. Demikian cerita yang bisa dibaca dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadits tersebut menunjukkan betapa rendah hatinya Rasulullah, sebagai penerima wahyu mau mendengarkan untaian bacaan dari lisan pelayannya.

Ayat 41 dari Surat an-Nisa’ itu menjelaskan tentang posisi Nabi Muhammad yang kelak di akhirat menjadi saksi bagi umatnya yang durhaka.

Tangisan Rasulullah menjadi penanda akan lembutnya hati beliau yang tak sampai hati umatnya bakal menerima penderitaan meski akibat ulah mereka sendiri. Di ayat berikutnya diungkapkan bahwa mereka yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya meminta agar ditenggelamkan ke dalam bumi. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here