Dialog Pilu Ade Irma di Malam yang Kelam

930
Diorama Ade Irma yang bersimbah darah digendong sang mama saat peristiwa G30S/PKI. (Foto: OMG)

Muslim Obsession – Pak Nas sama sekali tak memiliki firasat akan terjadinya peristiwa kelam pada 1 Oktober 1965 itu. Namun dalam pengamatannya, firasat justru ada pada istrinya berupa peringatan almarhum mertua Pak Nas dalam mimpinya tentang kewaspadaan terhadap sesuatu.

Selain itu, Pak Nas juga mendengar firasat lain yang dituturkan orang lain. “Seorang teman dekat, kalau tidak salah Nyonya Sajiman, telah melihat bahwa istri saya mengantarkan Adek pergi dalam pakaian putih bersih,” kisah Pak Nas, seperti dituangkannya dalam buku ‘Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru’.

Dalam renungan kemudian, Pak Nas ingat bahwa pada bulan-bulan terakhir Ade Irma memang agak lain dari biasanya. Ketika Pak Nas sembahyang (shalat), Ade suka memandanginya. Ketika sudah selesai, Ade suka meminjam sajadah dan ia sembahyang, mencontoh papanya. Jika ada minuman Pak Nas di meja, Ade pun suka meminta untuk diminumnya.

Rupanya, firasat dan tingkah tak biasa Ade Irma benar adanya. Pada peristiwa kelam itu Ade Irma tertembak peluru pasukan yang hendak membunuh Pak Nas. Kisah pilu ini turut disampaikan Johana dan dituangkan kembali ke dalam buku yang ditulis Pak Nas. Berikut ini potongan kisah istri Pak Nas yang sebelumnya dimuat surat kabar Berita Yudha pada 6 Oktober 1966.

“Nah, tanggal 1 Oktober 1965 itu saya sedang bangun dan duduk di dipan, Pak Nas mengibas-ibas nyamuk. Tiba-tiba saya mendengar tembakan-tembakan di luar dan hati saya berkata: Waah, itulah mereka sudah datang untuk menculik Pak Nas. Saya membuka pintu dan melihat anggota-anggota Cakrabirawa. Saya menjadi heran! Mengapa Cakrabirawa yang datang? Menurut persangkaan hati saya seharusnya PR. Pintu segera saya tutup. Tetapi dibuka lagi oleh Pak Nas. Melihat Pak Nas, Cakrabirawa menembak lagi dua kali, tapi tidak mengenai Pak Nas. lpar saya Mardiyah karena panik, menggendong Ade Irma dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka brondongan peluru dilepaskan lagi, dan tepat mengenai Ade. Tapi waktu itu saya belum tahu. Oleh ipar saya Ade dibawa keluar terus menuju samping rumah. Pak Nas saya suruh lari ke luar rumah sambil saya menahan-nahan pintu. Sesudah Pak Nas lari keluar samping saya menyusulnya. Dan di sinilah saya menerima Ade Irma yang saya lihat penuh darah. Lukanya di perut sebesar lobang rantang. Pahanya hancur. Pak Nas waktu itu sudah naik di atas pagar tembok. Melihat Ade Irma yang luka parah, hendak turun lagi dan melawan,” kata Bu Nas sambil menahan perasaan hatinya.

“Saat inilah yang tak dapat saya lupakan sepanjang hidup saya. Inilah kesedihan yang paling berat dalam hidup saya. Waktu Pak Nas berdiri di atas tembok pagar samping kiri, Pak Nas memandang Ade yang luka parah yang sedang saya gendong. Tak dapat saya menggambarkan raut wajah Pak Nas di kala itu.

Saya melihat Pak Nas dan Pak Nas melihat pada kami berdua, sedang situasinya mengharuskan Pak Nas menyelamatkan diri. Sebab dialah sebenarnya yang mau dikhianati dan dibunuh. Bukan keluarganya. Tetapi sebagai seorang ayah, melihat anaknya berlumuran darah akibat peluru yang dimuntahkan khusus baginya, ini sudah bisa dipastikan, karena menurut pengakuannya sendiri Kopda Cakra Hargiyono, bahwa ia tidak melihat anak kecil yang keluar dari kamar, tahunya karena tadi telah melihat Jenderal Nasution, dus sewaktu pintu terbuka lagi maka pastilah yang membuka pintu tersebut adalah jenderal. Dia menembak dengan tujuan membinasakan Jenderal Nasution.”

“Yaah, pandangan Pak Nas di kala itu kepada kami berdua benar-benar tak dapat saya lupakan. Saya melihat Pak Nas hendak turun lagi dari pagar untuk memberi perlawanan. Kemudian saya memohon-mohon: ”Selamatkan diri. Selamatkan diri.” Pak Nas masih memandang kami berdua. Terus bunyi tembakan menggencar ditujukan pada Pak Nas di atas pagar. Naah, karena tembakan itu Pak Nas terus melompat ke bawah (anjlog). Betapa Tuhan telah menunjukkan kebesaran-Nya dalam melindungi hamba-Nya di sini. Coba bayangkan: di tempat Pak Nas melompat, yaitu di halaman tetangga di sebelah kiri tidak ada perlindungan sama sekali. Hanya ada sebuah drum minyak tanah, dan dapat jelas tetlihat dari jalan maksud Pak Nas sebenarnya hendak lari menuju rumah Dr. Leimena, dan ingin bertanya: “Mengapa Cakra dikirim untuk membunuh saya?”

“Sesudah itu, saya terus menelpon Jenderal Umar dan mengurus Ade. Di RSPAD Ade sadarkan diri, yaitu di kamar bedah sewaktu akan dilakukan operasi. lnilah kata-kata Ade yang tak akan saya lupakan,” kata Bu Nas sambil menghapus air matanya yang mendesas keluar:

“Ade hidup?” tanya saya.

“Hidup, Mama!” jawab Ade perlahan-lahan.

“Ade hidup terus?”

“Hidup terus, Mama!”

Sebelum operasi Ade menerima bloedtransfoesie dan sesudah sadar melihat pada Yanti kakaknya yang sedang menangis, lalu bertanya, “Mengapa kakak menagis? Kakak jangan menangis!”

Lalu melihat pada saya, dan Ade bertanya pula, “Mengapa ayah ditembak, Mama?”

Mendengar pertanyaan Ade yang demikian itu, saya heran. Mengapa sudah dalam keadaan payah, Ade masih cerdas dan ingat akan pemberondongan terhadap ayahnya? Lalu saya tanya:

“Ade sakit?”

“Sakit, Mama, Sakit perut! Taruh bantal di bawah Ade. Ade jangan dioperasi mama!”

Menurut Bu Nas, sesudah dioperasi Ade sadar terus, dan menggerak-gerakkan bibirnya untuk minum obat agar cepat baik. Hal ini mengherankan dr. Handoyo yang merawatnya dan katanya: “Sungguh Ade ini, anak yang istimewa. Tidak menangis. Tabah dalam menderita. Dan dalam keadaan sakit sendiri masih memikirkan orang lain, yaitu ayahnya.“

Enam hari Ade menderita. Ade berjuang untuk hidup terus dengan menahan segala kesakitan. Keadaannya makin payah. Dokter Handoyo memberitahukan hal ini pada Bu Nas. Kemudian Bu Nas berpikir jauh-jauh dengan minta penerangan dari Tuhan, lalu berkata pada Ade Irma. Juga karena sudah tak tahan lagi melihat keadaan Ade yang begitu payah, hanya untuk bertahan supaya hidup terus.

“Ade..Mama ikhlas Ade pergi..,” kata Bu Nas dengan berbisik di telinga Ade. Mendengar ini barulah Ade mencucurkan air mata. Pada jam 19.00 tanggal 6 Oktober 1965, jiwa Ade pergi untuk selama-lamanya untuk pulang kepada-Nya, menghadap Tuhan Yang Maha Adil, untuk menjadi saksi daripada pengkhianatan G30S/PKI.

Tanggal 7 Oktober dengan diantar oleh ribuan pelajar dan rakyat di ibukota, Ade dikebumikan di makam blok P Kebayoran. Sebenamya Ade diputuskan untuk dikebumikan di makam Pahlawan Kalibata, tetapi Pak Nas dan Bu Nas memutuskan di blok P saja, di tengah-tengah rakyat. (Ditulis Imam Fathurrohman)


** Ditulis dalam rangka Mengenang 101 Tahun Jenderal Besar TNI (Purn) Dr. AH. Nasution. Acara peringatan digelar Obsession Media Group (OMG) di Museum Jenderal Besar Dr. AH. Nasution, Jumat 20 Desember 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here