Di Gontor, KH. Hasyim Muzadi Ajak Umat Islam Berjuang dan Hadapi Para Perusak Indonesia

216
Almarhum KH. Hasyim Muzadi saat berbicara pada kegiatan Reuni Akbar Alumni dalam Rangka Peringatan 90 Tahun PM Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (3/9/2016). (Foto: Youtube)

Muslim Obsession – Pada sebuah kesempatan menjadi salah seorang pembicara di kegiatan Reuni Akbar Alumni dalam Rangka Peringatan 90 Tahun PM Gontor pada 3 September 2016 di Ponorogo, Jawa Timur, KH. Hasyim Muzadi berbicara tentang pentingnya kualitas keislaman seorang muslim.

Pasalnya, menurut ulama yang pernah nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor pada 1956-1962 ini, kehidupan yang islami justru lebih sering dirasakannya saat berada di luar negeri.

Sementara di Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam, kehidupan islami seringkali tidak terasa.

“Di Taiwan, jika kehilangan koper di bandara pasti kembali. Karena mengembalikan itu biaya negara, dan tidak mengembalikan adalah kriminal. Bukankah sepotong ini juga Islam?” ujar KH. Hasyim dalam tayangan video yang diunggah akun YouTube gontortv.

Ia juga mengemukakan contoh lainnya. Di Jepang, jika ada toko yang memalsukan kualitas suatu barang akan langsung ditutup.

Jadi menurutnya, ayat yang berbunyi ‘waylul lil muthafifin’ itu diamalkan orang Taiwan dan Jepang daripada masyarakat Indonesia.

Diakuinya, pengalaman pahit juga pernah dirasakan tokoh kharismatik yang wafat di Malang pada 16 Maret 2017 ini. Pengalaman ketika ia membeli sebuah lampu di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat.

Di pusat penjualan barang-barang antik ini, kisahnya, lampu kuno dihargai 2,5 juta rupiah. Sementara lampu baru dihargai 650 ribu rupiah. Ia pun kemudian membeli satu lampu kuno.

Tapi setelah diperlihatkan kepadanya, KH. Hasyim menilai jika lampu tersebut masih baru, bukan lampu kuno. Terlihat dari cat yang melapisi lampu tersebut.

“Lho, Pak. Ini lampu baru bukan kuno,” kata KH. Hasyim.

“Aduh, sampean ini kok rewel. Sampean biarkan saja, lama-lama kuno sendiri,” jawab si pedagang. Sampai di sini, kisah KH. Hasyim sontak disambut tawa hadirin.

Akhirnya, KH. Hasyim membayar 650 ribu saja. Tentu saja si pedagang tidak terima karena ‘lampu kuno’ yang dijualnya dihargai seperti lampu baru.

“Lho, Pak Haji ini kurang,” kata si pedagang.

“Kurangnya nanti kalau lampu ini sudah kuno,” jawab KH. Hasyim. Lagi-lagi disambung gelak tawa hadirin.

“Itu kira-kira ada di Jepang atau di Indonesia? Sepotong ini saja ya, bukan Laa ilaaha illa Allah. Jadi yang islami yang mana?” tanya beliau kepada hadirin.

Dari peristiwa tersebut, KH. Hasyim berpikir bahwa kualitas umat Islam mempengaruhi persepsi seseorang terhadap Islam.

Sehingga menurutnya, yang terpenting bagi setiap anak bangsa, khususnya umat Islam, adalah bagaimana mengisi pembangunan di Indonesia dengan keislaman yang benar.

“Mari kita berjuang, mengisi Indonesia ini dan berhadapan dengan yang merusak. Yakinlah jika mereka sakit, kita pun sakit. Tapi kita punya Allah, mereka belum tentu mempunyai Allah subhanahu wa ta’ala,” tutupnya.

Pada kegiatan Reuni Akbar Alumni dalam Rangka Peringatan 90 Tahun PM Gontor tersebut, KH. Hasyim hadir sebagai salah seorang pembicara.

Sejumlah tokoh nasional hadir saat itu, di antaranya KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, Prof. Din Syamsuddin, Dr. Hidayat Nur Wahid, Dr. AM. Fachir, dan banyak ulama serta tokoh nasional lainnya.

Kurang lebih enam bulan kemudian, tepatnya pada 16 Maret 2017, KH. Hasyim Muzadi berpulang ke rahmatullah dalam usia 73 tahun.

Mantan Ketua PBNU periode 1999-2010 yang moderat itu wafat di Kota Malang, Jawa Timur dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam di Kukusan, Beji, Depok. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here