Dewan Dakwah Kota Depok Gelar Pelatihan Dai

63

Depok, Muslim Obsession – Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Depok mengadakan pengkaderan pembekalan dai dan khatib Sabtu-Ahad, 25 dan 26 Desember 2021 ini.

Pelatihan bertajuk Dauroh Du’at Wa Khuthoba ini ditujukan bagi masyarakat muslim Kota Depok dan sekitarnya.

Acara yang mengusung tema “Selamatkan Indonesia dengan Da’wah” ini diikuti oleh sekitar 50 peserta berasal dari perwakilan DKM, sekolah dan majlis taklim di wilayah Jabodetabek. Para peserta akan dibekali materi-materi seputar dakwah dari para praktisi dakwah dan ustadz-ustadz yang telah lama bergelut dalam dunia Keislaman.

Acara yang berlangsung Sabtu (25/12) kemarin dibuka oleh Ketua Dewan Da’wah Kota Depok Ustadz Hasan Basri.

“Acara ini adalah salah satu rangkaian kegiatan dakwah Dewan Da’wah Kota Depok selain kegiatan dakwah lainnya yang bersifat harian, pekanan dan bulanan,” terang Ustadz Hasan.

Sekretaris Dewan Da’wah Rahmat Noval berharap pelatihan ini bisa berdampak positif bagi Kota Depok dan sekitarnya.

“Semoga dengan adanya kegiatan ini dakwah di Kota Depok semakin menggeliat dan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar terus dapat digalakkan,” harapnya.

Pemberi materi pelatihan dakwah dan khatib ini di antaranya adalah Ustadz Teten Romly, Ustadz Nuim Hidayat, Ustadz Muhsin MK, Ustadz Roinul Balad, Ustadz Hasan Basri dan lain-lain.

Ustadz Teten menjelaskan tentang pentingnya dakwah mengajak tauhid atau berjuang di jalan Allah. Bukan dakwah mengajak kepada kelompok (ashabiyah) dan senang dengan perpecahan umat.

Ia mengungkapkan tentang penting umat Islam, khususnya kelompok ahlus sunnah wal jamaah memegang erat persatuan. Ia mencontohkan bagaimana para ulama membuat karya-karya untuk mendorong persatuan umat. Diantara karya itu adalah Fiqhul Ikhtilaf karya Syekh Yusuf Qaradhawi.

Sedangkan Ustadz Nuim Hidayat menjelaskan tentang perang pemikiran di era internet saat ini. Jumlah pengguna internet saat ini yang diperkirakan 170 juta di tanah air, sayang bila tidak diisi dengan dakwah.

Karena itu para dai mesti mempunyai kemampuan menulis selain kemampuan bicara. Seperti nasihat tokoh Islam Tjokroaminoto,”Jika kamu ingin menjadi pemimpin hebat, menuliskah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”

Ustadz Nuim juga mengutip perkataan Tjokroaminoto lainnya yang perlu dipegang para dai. Yaitu,”Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat dan semurni-murni tauhid.”

Ia juga menyampaikan tentang pentingnya para da’i menjawab opini atau pemikiran-pemikiran yang menyimpang di media massa cetak dan internet.

Bila pemikiran-pemikiran yang salah dibiarkan berkembang, maka masyarakat awam dapat mengikutinya. Apalagi bila pemikiran itu dikemas dengan bahasa yang menarik Ia mengutip pernyataan mantan menteri luar negeri Amerika, Paul Wolfowitz, “This is a battle of ideas and a battle for minds.”

“Ini adalah pertarungan ide dan pertarungan pemikiran. Umat Islam, khususnya para da’i, tidak boleh berdiam diri terhadap pertarungan pemikiran yang berlangsung tiap hari di internet ini. Para da’i atau ulama harus terlibat di dalamnya, baik lewat ceramah mapun tulisan,” urainya.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 216, Allah SWT mengingatkan, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Qital atau jihad bermakna luas. Bukan hanya perang senjata, tapi juga perang pemikiran, perang budaya, perang politik, perang pendidikan, perang ekonomi dan lain-lain. Kebenaran akan selalu perang dengan kebatilan. Dan keadilan akan selalu perang dengan kezaliman,” terang Ustadz Nuim. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here