Dewa Hubal, Kaum Musyrik, dan Ahlul Kitab

1756

Inilah yang tak bisa diterima oleh logika bangsa Arab saat itu. Tentu saja ini sebuah ironi buat bangsa Arab itu. Di satu sisi mereka menjadikan berhala-berhala sebagai perantara menyembah Allah padahal itu syirik, sementara itu mereka juga sinis kepada ajaran trinitas dengan mengatakan ajaran itu syirik.

Dalam konteks ini sangat bisa dimengerti bila Muhammad SAW sangat sulit menembus benteng kepercayaan kaum Quraisy saat itu. Mereka menuduh ajaran Muhammad SAW sangat mirip dengan ajaran Yahudi atau Nashrani yang sejak awal tidak masuk dalam logika mereka.

Tuduhan mereka tak sepenuhnya salah karena Rasulullah SAW memang diutus Allah untuk melanjutkan apa yang telah disampaikan para nabi sebelumnya, mulai dari Adam, Nuh, Ibrahim, Daud, Musa sampai Isa alaihimussalam.  Tuhan para nabi ini sama yakni Allah, agama yang dianut para utusan Allah itu juga sama: Islam!

Jangan ragu menyatakan agama para nabi itu Islam. Al-Quran sendiri yang menegaskan agama  Ibrahim, bapak agama-agama langit, adalah Islam [QS ‘Ali Imran (3): 67]; Nabi Sulaiman bersama Ratu Balgis beragama Islam [QS an-Naml (27): 44], umat Nabi Isa atau Nabi Yesus menyebut diri mereka kaum Muslim [QS Ali Imran (3): 52].

Nabi Isa AS adalah keturunan Ibrahim dari silsilah Siti Sarah, sedang Nabi Muhammad SAW  adalah keturunan Ibrahim dari silsilah Siti Hajar. Kita semua bersaudara dalam nilai-nilai langit. Persamaan nilai inilah yang membuat Muhammad tak segan-segan mengirim para sahabatnya hijrah ke Habasyah  dua kali, dengan pertaruhan sangat mungkin di antara sahabat-sahabatnya yang baru sedikit mengenal ajaran baru itu masuk Kristen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here