Dewa Hubal, Kaum Musyrik, dan Ahlul Kitab

1756

Selama memandangi Kabah, terlalu sering saya membayangkan dulu, sebelum Muhammad diangkat menjadi utusan Allah, Kabah tidak punya langit-langit seperti sekarang. Di dalam Kabah itu pernah berdiri Dewa Hubal, dengan tubuh yang lebih tinggi dari Kabah hingga kepalanya menyembul.

Orang-orang di luar Kabah akan dengan mudah memandang Hubal, yang juga berarti Dewa Bulan atau Dewa Laki-laki.

Dari antropologi bangsa Arab saya tahu ternyata orang Arab menganggap Bulan adalah simbol laki-laki, Matahari justru simbol perempuan. Bulan adalah laki-laki, kata mereka, karena berani berjalan sendirian di malam hari, sementara Matahari adalah perempuan karena hanya berani berjalan sendirian di siang hari.

Kendati bangsa Arab di zaman itu menaruh banyak patung di sekitar Kabah, uniknya mereka tetap mengaku bahwa Tuhan mereka adalah Allah. Kabah saja mereka sebut ‘’baitullah’’ (rumah Allah).

Ketika Abrahah hendak menghancurkan Kabah, raja Ethiopia ini bertanya kepada Abdul Muthallib sebagai penjaga Kabah, mengapa ia tidak melawan. Kata Abdul Muthallib: ‘’Kabah itu rumah Allah, biarkan saja Allah yang menjaga rumah-Nya. Tapi onta-onta yang Anda rampas itu milik saya, kembalikan onta-onta saya.’’

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here