Desa Madani Parmusi Mengikuti Jejak Rasululllah

216

Mekkah, Muslim Obsession – Desa Madani Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) harus diyakini sebagai sebuah program yang paripurna untuk mengembangkan masyarakat yang berkemajuan. Sebab, konsepsi dasar dari Desa Madani itu adalah mengikuti jejak pemikiran dan prilaku Rasulullah SAW.

Hal itu dikemukakan oleh Ketua Lembaga Dakwah Pusat (LDP) Parmusi Ustdaz KH. Syuhada Bahri pada saat memberikan pembekalan kepada puluhuan Dai Desa Madani Parmusi dari perwakilan 34 provinsi yang tengah melaksanakan ibadah umrah di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi.

Mengapa Desa Madani itu disebut mengikuti jejak Rasulullah? Ustadz Syuhada menjelaskan, bahwa saat Rasulullah hijrah ke Madinah yang pertama kali dilakukan oleh Nabi adalah membangun Masjid Kuba. Membangun masjid itu adalah simbol dari penguatan iman dan takwa yang dijadikan pondasi dari perjuangan dakwah Nabi.

“Setiap perjuangan dakwah Nabi pondasi pertama yang harus diperkuat adalah iman dan takwa. Karena masjid itu kan simbol keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Di masjid itu lah kita sujud dan berserah diri hanya kepada Allah,” ujar Ustdaz Syuhada, di Mekah Kamis (20/2/2020).

Setelah membangun masjid kuba, Rasulullah kemudian membangun masjid Nabawi yang tanahnya dibeli dari dua anak yatim. Nabi terus memperkuat iman dan ketakwaan masyarakat dengan mendirikan masjid. Baru setelah itu, Nabi melakukan dakwah ekonomi, atau pemberdayaan ekonomi umat.

Dakwah ekonomi yang dilakukan Nabi dimulai ketika melihat ada monopoli pasar yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Mereka mengusai tanah di pasar, di mana siapa pun yang punya uang banyak, bisa membeli kapling atau lapak di tempat yang strategis. Sedangkan orang yang tak punya uang harus rela berjualan di emperan jalan.

“Sistem monopoli pasar yang dilakukan orang Yahudi menjadikan jurang pemisah yang sangat dalam. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Nabi tentu tidak tinggal diam,” ucap Ustadz Syuhada.

Nabi kemudian membeli lahan kosong untuk dibuat pasar baru yang tidak jauh dari pasar yang dimiliki orang-orang Yahudi. Dengan kebijakan dan kearifan Nabi, ia mempersilakan kepada siapa pun masyarakat berhak untuk berdagang di pasar yang Nabi bangun.

“Siapa pun yang datang lebih dulu, maka dia berhak memilih di lapak mana dia mau berdagang. Itu lah yang dilakukan Nabi, beliau ingin ada pemerataan ekonomi di masyarakat. Ingin menghapus kelas-kelas antara si kaya dan si miskin,” jelasnya.

Bahkan dikabarkan, lama kelamaan pasar orang Yahudi itu kemudian tutup, atau mati karena tidak ada masyarakat yang datang untuk membeli. Justru sebaliknya, orang Yahudi akhirnya ikut berdagang di pasar yang dibangun oleh Nabi. Pasar yang dibangun Nabi semakin ramai dikunjungi banyak orang.

Selesai memperbaiki sistem ekonomi masyarakat, Nabi kemudian melakukan dakwah sosial, yakni mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansor. Saat kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah mereka tidak membawa seluruh harta. Sebagian besar harta mereka ditinggal di Makkah, padahal mereka akan menetap di Madinah.

Ini jelas menjadi problem bagi mereka di tempat yang baru. Terlebih lagi, kondisi Madinah yang subur sangat berbeda dengan kondisi Makkah yang gersang. Keahlian mereka berdagang di Makkah berbeda dengan mayoritas penduduk Madinah yang bertani.

Tak pelak, perbedaan kebiasaan ini menimbulkan permasalahan baru bagi kaum Muhajirin, baik menyangkut ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan juga kesehatan. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sementara itu, pada saat yang sama harus mencari penghidupan, padahal kaum Muhajirin tidak memiliki modal. Demikian problem yang dihadapi kaum Muhajirîn di daerah baru.

“Melihat kondisi kaum Muhajirin, dengan landasan kekuatan persaudaraan, maka kaum Ansor tak membiarkan saudaranya dalam kesusahan. Kaum Ansor dengan pengorbanannya secara total dan sepenuh hati membantu mengentaskan kesusahan yang dihadapi kaum Muhajirin,” tuturnya

Hal itu dilakukan atas saran dan nasihat Nabi Muhammad kepada kaum Ansor untuk mau menerima dan membantu saudaranya kaum Muhajirin yang dalam kondisi sulit saat pertama ikut hijrah ke Madinah. Nabi yang mempersatukan dua kaum itu dengan ikatan saudara. Pengorbanan kaum Ansor yang mengagumkan ini sampai diabadikan di dalam Al-Quran, surat al-Hasyr/59 ayat 9

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).

“Di situ lah pentingnya inti dari ajaran Nabi dalam hal kepedulian sosial. Konsekuensi dari sesama muslim itu bersaudara adalah kita wajib untuk saling menolong,” tutur Ustadz Syuhada.

Baru terakhir, lanjut ustadz Syuhada, dakwah yang dilakukan Nabi adalah pendidikan. Caranya adalah, semua tahanan perang bisa dibebaskan oleh Nabi dengan syarat mereka yang bisa menulis dan membaca harus mau mengajari anak-anak agar punya kemampuan yang sama. Termasuk juga ikut mendirikan ruang baca dan menulis.

“Ini kan artinya konsep pendidikan yang dibangun oleh Nabi, para tahanan perang disuruh jadi guru untuk mengajari anak-anak menulis dan membaca. Jadi konsepsi Desa Madani sama persis mengikuti jejak rilsalah kenabian,” tandasnya.

Diketahui sebanyak 45 Dai Desa Madani Parmusi dari perwakilan 34 provinsi tengah berangkat umrah di Tanah Suci. Spirit militansi dan kemampuan mereka sebagai dai tangguh dibentuk dengan bimbingan langsung dari Ketua Umum Parmusi H Usamah Hisyam, Ustadz Syuhada, Wakil Ketua LDP Parmusi Ustadz Bukhori Abdul Shomad, dan Ketua Dewan Penasihat Muslimah Parmusi Hj. Daisy Astrilita.

Parmusi sendiri telah mewujudkan pilot project Desa Madani di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Desa Madani Parmusi ini dibangun dengan empat pilar gerakan, yakni peningkatan iman dan takwa, pembangunan kesejahteraan ekonomi umat, pemberdayaan sosial, dan peningkatan kualitas pendidikan. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here