Desa Madani Akan Dikelola Dai Parmusi yang Amanah dan Profesional

617
KH Syuhada Bahri
Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) KH. Syuhada Bahri.

Jakarta, Muslim Obsession – Desa Madani yang menjadi manhaj dakwah Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) akan dikelola oleh para dai yang memiliki karakter amanah dan profesional.

Dai Parmusi dengan karakter seperti itu diyakini akan mampu menancapkan empat pilar Desa Madani, yakni pengembangan iman dan takwa, pemberdayaan sosial, pembangunan kemandirian ekonomi, dan peningkatan pendidikan.

Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) KH. Syuhada Bahri mengatakan, pihaknya akan memberikan prioritas kepada para dai Parmusi yang memiliki potensi.

“Mereka ini nantinya akan menjadi contoh bagi para dai Parmusi lainnya. Sebab ada pengalaman, seorang dai yang diberikan amanah untuk mengelola hewan ternak malah tidak memiliki kemampuan. Hasilnya, hewan-heawan itu mati,” ujarnya kepada Muslim Obsession di Jakarta, Jumat (19/10/2018).

Untuk menemukan dai Parmusi yang memiliki potensi tersebut, terang Kiai Syuhada, LDP akan menyeleksi para dai mulai November. Pada tahap awal nanti, LDP hanya akan mengambil satu dai untuk setiap kabupaten.

Setelah diseleksi, para dai akan diberikan pelatihan khusus untuk menumbuhkan iman dan takwa dan diberikan pemahaman bagaimana menjadi sosok yang amanah dan profesional.

“Amanah dalam arti, setiap dai harus memiliki ruh Ihsan, dimana ia meyakini jika dirinya terus dimonitoring oleh Allah subhanahu wata’ala. Dengan demikian, dia akan menjadi sosok yang amanah,” jelas Kiai Syuhada.

Berikutnya, setiap dai ini akan diajarkan bagaimana memiliki karakter profesional. Mereka akan diberikan pelatihan soal perencanaan, akuntabilitas, dan lainnya. “Harapannya mereka akan meniru Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang memiliki karakter hafiz dan ‘alim. Hafiz berarti amanah, sementara ‘alim adalah profesional,” tuturnya.

Setelah itu, jelas Kiai Syuhada, untuk mengelola Desa Madani para dai Parmusi yang ditugaskan harus memiliki target capaian dalam proses membangun iman dan takwa. Misalnya pertama, para dai Parmusi harus memberantas buta huruf Al-Quran. Targetnya, anak tujuh tahun ke atas harus sudah bisa membaca Al-Quran.

“Kedua, masyarakat di Desa Madani harus bisa berwudlu dengan baik dan benar. Ketiga, masyarakat harus bisa shalat dengan baik dan benar. Keempat, masyarakat harus memiliki akhlakul karimah. Seperti anak harus berbuat baik, sopan, dan santun kepada orangtua dan tetangga,” papar Kiai Syuhada.

Kegiatan tersebut, jelasnya, harus diukur. Misalnya, bagaimana seseorang dikatakan shalatnya baik dan benar? Salah satu indikasinya adalah dia ke masjid atau tidak. Saat ini, menurutnya, LDP tengah menyusun kriteria iman dan takwa tersebut.

“Sarana dakwahnya adalah masjid atau mushalla di lingkungan setempat. Kalau misalnya tidak ada masjid atau mushalla, para dai Parmusi harus melakukannya di rumah-rumah warga secara door to door,” tandas Kiai Syuhada.

Tahapan di atas, imbuhnya, diharapkan akan tercapai selama satu tahun. Tahapan berikutnya, para dai Parmusi akan membangun sikap adil, ihsan, dan itsar di masyarakat.

“Itu tahapan berikutnya. Tahun pertama itu hal-hal mendasar, seperti bisa membaca Al-Quran, bisa berwudlu dan shalat dengan baik dan benar, terbiasa berpuasa, berinfak, dan lain sebagainya. Tahun berikutnya akan lebih rinci lagi,” pungkasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here