Denyut Islam di Kota Dearborn

944
Sebuah masjid megah yang menjadi Islamic Center Amerika Serikat di Kota Dearborn (Photo: Istimewa)

Muslim Obsession – Dearborn adalah kota terbesar ke-10 di Detroit Raya, Wayne County, Michigan, Amerika Serikat. Pada tahun 1920-1980, umat Islam merupakan kelompok minoritas di kota Dearborn.

Kondisi itu berubah satu dekade berikutnya. Pada awal 1900-an, Detroit menjadi rumah bagi ribuan umat Islam. Mereka datang dari beragam pelosok bumi, terutama dari Eropa Timur, Kekaisaran Ottoman, Inggris dan India.

Populasi Muslim di awal 1920-an ketika itu tidak terlalu religius. Sama seperti saat ini, jika kita termasuk minoritas Islam yang baru tinggal di Amerika, akan ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.

Di tahun yang sama, peristiwa Genosida Armenia, yang dilakukan oleh Ottoman atau Muslim Turki melawan minoritas Kristen Armenia, sering ditutup-tutupi oleh surat kabar.

Kekerasan Muslim terhadap orang-orang Kristen pada saat itu sangat disorot di media. Akibatnya, komunitas Muslim pada periode tersebut berusaha keras untuk memperbaiki pemahaman masyarakat tentang Islam.

Saat itu, imigran asli Turki tidak memiliki keluarga di Amerika. Karena pemerintah Turki hanya mengizinkan laki-laki untuk berimigrasi, bukan wanita.

Orang-orang yang pertama kali membangun masjid adalah orang-orang Siria. Mereka memiliki banyak ikatan keluarga yang kuat di Dearborn. Waktu itu, banyak juga pekerja Muslim datang dari India.

Jadi, ada banyak orang India di Dearborn. Meski demikian, ada undang-undang pengecualian ras yang membuat orang India tidak dapat berubah status menjadi warga negara Amerika.

Namun, di luar itu semua, ada hal yang paling relevan selama periode tersebut. Bahwa agama Islam “menginjak-injak” semua prasangka rasial semacam itu. Islam tidak membedakan ras satu dengan yang lain.

Ketika orang kulit hitam Amerika bermigrasi ke utara untuk menghindari kondisi Jim Crow di Selatan, mereka adalah yang paling menerima gagasan keagamaan baru. Beberapa di antaranya terbuka terhadap pesan Islam.

Jim Crow adalah hukum negara bagian dan lokal yang diterapkan di AS selatan antara 1876 dan 1965, mengatur keadaan “separate but equal” (segregasi) bagi orang negro. Di mana dalam kenyataannya, fasilitas yang disediakan untuk orang negro selalu lebih jelek daripada fasilitas untuk orang kulit putih.

Toko dengan papan nama bertuliskan bahasa Arab di Kota Dearborn, Michigan, Amerika Serikat

Sementara kebanyakan agama menunjukkan jalan menuju keselamatan, Islam justru lebih terbuka bagi orang-orang dari etnis lain. Di antaranya orang-orang kulit hitam Amerika.

Pada tahun 1950-an, sebuah foto yang diambil di sebuah masjid di Dearborn, menunjukkan tidak satu pun wanita mengenakan hijab. Kecuali sekedar hijab yang dikenakan di sekitar kepala dan dada.

Komunitas Muslim juga mengalami masa kejayaan pada tahun tersebut. Wanita-wanita muslim mulai mengenakan hijab atas pengaruh imigran dari Timur Tengah, Iran dan Palestina. Orang-orang Muslim dari Dearborn, sudah tinggal selama 60 sampai 80 tahun hingga kini.

Dearborn menyimpan sejarah Islam di Amerika Serikat. Saat ini Dearborn dikenal sebagai kawasan dengan jumlah penduduk muslim terbanyak. Dearborn merupakan kota pertama di Amerika Serikat yang menerapkan syariat Islam sejak 1 Januari 2014.

Dearborn juga menjadi negara pertama yang dikhususkan untuk sejarah dan budaya Arab Amerika. Dewan kota Dearborn, dua tahun lalu memilih menerapkan syariat Islam sepenuhnya di kota itu setelah melalui proses pemungutan suara.

Penerapan hukum syariat Islam itu berlaku di berbagai bidang kehidupan seperti kriminal, politik, ekonomi, termasuk tata cara berpuasa, shalat dan kehidupan sehari-hari. (Vina – Dikutip dari Press and Guide)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here