Deklarasi Jakarta Kampanyekan Islam Indonesia yang Moderat

828
Deklarasi GISS
Sekitar 10 ribu jamaah memadati Masjid At-Tin untuk mengikuti deklarasi Gerakan Indonesia Sholat Subuh (GISS), Rabu (27/9/2017).

Jakarta, MuslimObsession.com – Deklarasi Jakarta berisi pesan mengenai Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan multikultural akan dibacakan pada pembukaan International Islamic Education Expo (IIEE), Selasa (21/11/2017). Deklarasi akan dibacakan secara bersama-sama oleh para tokoh agama dan pendidikan.

Gelaran pameran internasional itu sendiri dilaksanakan Kementerian Agama di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang Selatan, Banten, mulai 21 hingga 24 November 2017.

“Selain ada dua seminar internasional, juga akan ada Deklarasi Jakarta. Deklarasi ini ingin menyuarakan kepada dunia internasional bahwa Islam itu agama yang mengandung nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin, Senin (20/11/2017).

Menurut Kamaruddin, salah satu isi Deklarasi Jakarta adalah penegasan bahwa Islam Indonesia tidak boleh dieksploitasi untuk tujuan-tujuan tertentu, apalagi tujuan politik. Kemudian, mengajak kepada seluruh umat beragama di dunia, khususnya Indonesia, untuk bahu-membahu merefleksikan keberagamannya untuk hidup bersama.

Selama ini, lanjut Kamaruddin, masyarakat Indonesia bisa menjalankan ajaran agama masing-masing dan bisa hidup berdampingan secara damai antarumat beragama. Hal itu harus ditunjukkan kepada masyarakat internasional.

“Ini juga menjadi salah satu poin yang ingin kita sampaikan kepada publik dunia, kepada publik internasional, sehingga kita menyebutnya sebagai Indonesia untuk perdamaian dunia,” ujar dia.

Deklarasi Jakarta, kata Kamaruddin, terinspirasi dari the Aman Massage atau Risalah Aman, Yordania. Meski negaranya tidak sebesar Indonesia, Yordania mampu berbicara mewakili Islam di panggung internasional melalui risalah tersebut.

IIEE 2017 akan diisi oleh beberapa seminar internasional, seperti Seminar Internasional tentang Studi Pesantren (International Seminar on Pesantren Studies) yang akan berlangsung pada 20-22 November 2017.

Pada seminar tersebut akan tampil sejumlah pakar pesantren, baik dari dalam maupun luar negeri. Pembicara dari luar negeri, antara lain, yaitu Syekh Dr Fadi Alamuddin (Global University, Lebanon), Syekh Dr Thariq Ghannam (Mufti Darul Fatwa, Australia), dan Prof Muhammad Hasan Hitou (Suriah).

Seminar bertema ‘’Pesantren Menghadapi Tantangan Global: Upaya Memperkuat Tafaqquh Fiddin dan Membangun Peradaban Bangsa’’ ini bertujuan membedah tantangan global yang dihadapi pesantren serta untuk menguatkan peran lembaga pendidikan khas Indonesia tersebut di tingkat internasional. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here