Dasar Aku

462

Oleh: Ustadz Felix Siauw (Pengemban Dakwah)

Paradoks memang, tapi tiap mereka yang punya iman, ditanya “Apakah engkau beriman?” Pasti akan galau. Dijawab “Iya” mereka khawatir, dijawab “Tidak”, malah lebih parah

Sebab keimanan itu menyuruh pemiliknya untuk punya dua sikap, berharap dan khawatir. Berharap Allah ridha padanya, tapi khawatir berat kalau Allah tak ridha

Dia takkan mengutamakan dirinya, memuji dan mensucikan dirinya, sebab dia terus-menerus mencurigai dirinya. Dia lebih takut, dia termasuk mereka yang justru penjahat

Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i, seperti penuturan Syaikh Ramadhan Buthi, seorang alim yang tinggi ilmunya, bila mengajar murid-muridnya selalu berkaya

Nasihatnya, “Aku akan dikumpulkan dengan Fir’aun, Namrud dan Hamman, jika aku memandang diriku lebih baik daripada siapapun diantara kalian”, masyaAllah

Maka iman akan menyebabkan diri kita memandang Muslim yang lain dengan pandangan rahmah. Tapi selalu mencurigai dan menelisik diri sendiri, keras pada diri kita

Mereka yang beriman, dia tak bisa menjamin surga Allah padanya, bagaimana mungkin dia bisa memastikan neraka bagi orang lainnya, ini akhlak mereka yang beriman

Mereka yang beriman, terus mencari riya dan takabur dalam hatinya, ia tersibukkan dengan aib-aib dirinya sendiri, hingga tak susah mencari-cari aib orang lain

Bila melihat yang lebih tua, ia menganggapnya sudah lewati fitnah yang belum ia lewati. Bila bertemu yang muda, maka ia kagumi sedikitnya dosa yang baru diperbuatnya

Mereka yang sudah selesai dengan dirinya, akan lembut pada sesamanya. Mereka yang tenang dari rumahnya, takkan dikuasai amarah sejadi-jadinya, alhamdulillah

Jazakallahu khair, sahabatku Habib @binanies, sebab murah hatinya beliau, saya mampu menggamit dan mencium, serta meminta doa dan nasihat pada guru mulia Habib Umar bin Hafidz, semoga Allah berikan keberkahan dan perlindungan padanya

@habibomarcom

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here