Dapat Makan Gratis dari ACT, Pengungsi Rohingya di Aceh Terharu

514
Pengungsi Rohingya di Aceh Nikmati Layanan Makan Gratis (Foto: ACT)

Bireuen, Muslim Obsession – Masih jelas di ingatan, perihal tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar pada 2017 lalu.

Bagi mereka, mengungsi ke berbagai belahan dunia adalah ikhtiar untuk bertahan hidup dibandingkan harus menerima persekusi di negeri sendiri. Hingga hari ini, belum jelas nasib bagi kehidupan mereka mendatang.

Setengah tahun sudah hari-hari dilalui pengungsi asal Rohingya di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Cot Gapu, sejak tiba di Pantai Kuala Raja, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada April (20/4/2018) silam.

Berdasarkan hasil diskusi Aksi Cepat Tanggap Aceh (ACT Aceh) dengan relawan pengelola pengungsi untuk Rohingya, Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan unsur pendukung lainnya, pihak pengelola pengungsi Rohingya di Kabupaten Bireuen mulai kesulitan dalam menyediakan bahan pangan (lauk-pauk) bagi para pengungsi.

“Anggaran dari pemkab (pemerintah kabupaten) setempat mulai terbatas. Saat ini pemkab masih melakukan diskusi dengan pemerintah provinsi,” lapor Ketua Program ACT Aceh, Laila Khalidah.

ACT Aceh lantas berinisiatif memberikan layanan siap santap kepada pengungsi Rohingya sebagai ikhtiar meredam kekurangan pasokan pangan. Bertempat di Gedung SKB Cot Gapu, 100 paket pangan siap santap diberikan kepada para pengungsi.

“Aksi layanan siap santap ini ditargetkan bisa bantu menyuplai konsumsi pengungsi selama satu bulan ke depan. Selanjutnya, ditargetkan 250 paket makan per hari,” lanjut Laila.

Pemberian makanan siap santap hari itu berlangsung tertib dan teratur. Laila melaporkan, layanan hari itu juga akan berlanjut untuk makan siang dan makan malam.

Kepala suku pengungsi Rohingya di Bireuen, Rafiq, dan sejumlah pengungsi wanita nyaris tidak percaya bahwa mereka akan mendapat layanan siap santap selama satu bulan ke depan. Hal itu diungkapkan kepada Relawan Distribusi Layanan Makanan untuk Rohingya, Nurul Daba.

“Nurul, hari ini makan (dari) ACT? Pagi, siang, malam?” tanya Rafiq pada Nurul dengan khas logat Rohingya. Nurul pun menjelaskan pada Rafiq dan sejumlah pengungsi bahwa mereka akan mendapat makanan layanan siap santap sebulan ke depan.

“ACT bagi? Satu bulan? Ya? Alhamdulillah,” timpal Rofiq, ia amat bersyukur. “Nurul, ACT punya makan enak. Lebih tidak, kurang tidak,” sahut pengungsi yang lain.

Hal ini bukan yang pertama, ACT Aceh dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bireuen sudah beberapa kali mendampingi para pengungsi Rohingya sejak pertama kali kedatangan mereka.

Kala itu, bantuan yang diberikan ACT Aceh dan MRI Bireuen pertama kali berupa perlengkapan sanitasi serta pelajaran bahasa Indonesia dasar. Hingga hari ini, ACT masih berikhtiar memberikan bantuan dalam bentuk lainnya.

Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menyebutkan ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri dari persekusi yang menimpa mereka di Myanmar pada akhir 2017 lalu. Lebih dari 723 ribu di antaranya mengungsi ke Bangladesh.

Para pengungsi Rohingya melewati hari-hari yang tidak mudah di lautan, menyusuri hutan, atau pun pegunungan dalam mencapai negara tujuan untuk mengungsi. Sementara itu, PBB melaporkan bahwa yang terjadi pada etnis Rohingya setahun lalu adalah sebuah tindak genosida. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here