Dampak Perang, 2 Juta Anak di Yaman Diperkirakan Alami Gizi Buruk

142

Jakarta, Muslim Obsession – Yaman menjadi negara yang terus menerus dilanda konflik perang dalam negeri. Negara ini pun masuk dalam negara miskin. Akibatnya ribuan orang Yaman mengungsi, dan anak-anak mengalami gizi buruk.

Menurut laporan empat badan PBB, Jumat (12/2/2021), para pemangku kepentingan didesak untuk mengakhiri konflik yang telah terjadi selama bertahun-tahun yang membawa negara termiskin di dunia Arab itu ke jurang kelaparan.

Dilansir dari Associated Press (AP), PBB memperingatkan bahwa hampir satu dari 6 anak di Yaman, 400.000 dari 2,3 jutanya berisiko meninggal akibat kekurangan gizi akut yang parah tahun ini.

Angka tersebut meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Laporan PBB juga mengatakan bahwa kekurangan dana telah menghambat program kemanusiaan di Yaman karena negara donor tidak memenuhi komitmen mereka.

Krisis itu diperparah dengan sekitar 1,2 juta wanita hamil atau menyusui di Yaman diperkirakan akan mengalami kekurangan gizi akut juga tahun ini.

“Angka-angka ini adalah seruan lain untuk bantuan kepada Yaman, di mana setiap anak yang kekurangan gizi berarti juga keluarga yang berjuang untuk bertahan hidup,” kata David Beasley, Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia.

Programnya bersama-sama mengeluarkan laporan dengan Organisasi Pangan dan Pertanian, UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

“Krisis di Yaman adalah percampuran konflik beracun dari keruntuhan ekonomi dan kekurangan dana yang parah,” papar Beasley.

Pada 2020, program kemanusiaan di Yaman hanya menerima 1,9 miliar dollar AS dari kebutuhan 3,4 miliar menurut laporan tersebut.

UNICEF memperkirakan bahwa hampir semua dari 12 juta anak Yaman membutuhkan bantuan yang mencakup makanan, layanan kesehatan, air bersih, pendidikan dan uang tunai untuk bertahan hidup.

“Tapi ada solusi untuk kelaparan yaitu makanan dan mengakhiri kekerasan,” kata Beasley.

Orang Yaman telah menderita selama enam tahun dalam pertumpahan darah, kehancuran, dan bencana kemanusiaan. Pada 2014, pemberontak Houthi sekutu Iran merebut ibu kota dan sebagian besar utara negara itu.

Koalisi yang dipimpin Saudi meluncurkan intervensi militer besar-besaran beberapa bulan kemudian untuk memulihkan pemerintah yang didukung PBB.

Meskipun serangan udara Saudi dan blokade Yaman tanpa henti, perang tersebut menemui jalan buntu.

Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan bahwa AS tidak akan lagi mendukung koalisi yang dipimpin Saudi. Meski mencapai perdamaian tampaknya akan sulit. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here