Dalil Bolehnya Peringati Maulid Nabi Muhammad ﷺ

173

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Secara Bahasa, maulud adalah waktu kelahiran. Secara istilah diartikan sebagai perayaan sebagai rasa syukur dan gembira atas kelahiran Rasulullah ﷺ yang biasanya dilakukan pada bulan Rabiul Awal.

Walaupun dalam kenyataannya tata cara perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ berbeda-beda, namun esensi dari peringatan Maulid Itu sama, yaitu merasa gembira dan bersyukur atas kelahiran Rasulullah ﷺ yang mana kelahiran Rasulullah ﷺ adalah sebuah anugerah Allah Ta’ala kepada kita yang harus disyukuri, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah (Muhammad): ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’,” (QS. Yunus :58).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أَبِي قَتَادَتَ اْلاَنْصَارِيِّ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْاِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ ولُدِتْ ُوَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

“Diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang puasa senin, maka beliau menjawab: ‘Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku’,” (HR. Muslim 1977).

Dalil Kedua,

وَقَالَ اْلاُسْتَاذُ اْلاِمَامُ الْحَافِظُ اْلمُسْنَدُ الذُّكْتُوْرُ اْلحَبِيْبُ عَبْدُ اللهِ بْنِ عَبْدِ اْلقَادِرِ بَافَقِيْهِ بِأَنَّ قَوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلِقيَامَةِ مَارَوَاهَ ابْنُ عَسَاكِرَ فِى التَّاريْخِ فِى الْجُزْءِ اْلاَوَّلِ صَحِيْفَةُ سِتَّيْنِ وَقَالَ الذَّهَبِى صَحِيْحٌ اِسْنَادُهُ

Ustadz Imam al-Hafidz al-Musnid DR. Habib Abdullah Bafaqih mengatakan bahwa hadis ‘man ‘azhama maulidy kuntu syafian lahu yaumal qiyamati’,” (Riwayatkan Ibnu Asakir dalam Kitab Tarikh, juz 1,hlm 60, menurut Imam Dzaraby sahih sanadnya).

Dalil ketiga dalam kitab Madarij As-shu’ud Syarah Al-Barzanji, halaman 15:

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Rasulullah bersabda: Siapa menhormati hari lahirku, tentu aku akan memberikan syafa’at kepadanya di Hari Kiamat”.

Dalil keeempat dalam Madarif As-Shu’ud, halaman 16:

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِ النَّبِي صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ اَحْيَا الْاِسْلَامَ

“Umar mengatakan: Siapa menghormati hari lahir Rosulullah sama artinya menghidupkan Islam”.

Sekitar lima abad yang lalu Imam Jalaluddin Al-Shuyuthi (849-910 H/1445-1505 M) pernah menjawab polemik tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, di dalam Al-Hawi li Al-Fatawi beliau menjelaskan:

“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi ﷺ pada bulan Rabiul Awal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa semula perayaan Maulid Nabi ﷺ yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Quran dan kisah-kisah teladan Nabi ﷺ sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi ﷺ, manampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, yang mulia,” (Al-Hawi li Al-Fatawi, Juz 1, Hal. 251-252).

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here