Dai Parmusi Gagas Pesantren Lorong

365
Ustadz Rahim Mayau mendampingi Ketua PW Parmusi Sulsel Abubakar Wasahua berdialog dengan santri dan pengajar Pesantren Lorong.

Makassar, Muslim Obsession – Program Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) memberdayakan para dai di seluruh pelosok Tanah Air berjalan positif. Para Dai Parmusi berlomba-lomba menggerakkan dakwah islamiyah di manapun mereka berada.

Salah satunya adalah Ustadz Rahim Mayau. Dai asal Makassar, Sulawesi Selatan, ini menggagas pesantren lorong untuk mengajarkan Al-Quran kepada warga di sekitarnya.

Ustadz Rahim Mayau saat mengajar para santrinya.

“Saya ingat pesan Pak Natsir (Muhammad Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia) bahwa umat Islam harus dikuatkan keislamannya satu persatu. Juga Mars Dai Parmusi yang isinya agar setiap Dai Parmusi harus berbenteng di hati umat,” ujar Ustadz Rahim mengemukakan alasannya berdakwah.

Kepada Muslim Obsession, Kamis (16/1/2020), Ustadz Rahim bercerita, dua tahun lalu ia dan keluarganya memulai mendirikan Rumah Quran Bani Thahir dengan satu murid yang kadang belajarnya di pos ronda.

Kini, muridnya berjumlah 105 orang mulai dari anak- anak sampai dengan ibu-ibu dan nenek- nenek. Mereka berasal dari berbagai tempat di kota Makassar.

Ketua PW Parmusi Sulsel Abubakar Wasahua saat berkunjung ke Pesantren Lorong.

Sesuai motivasi awal untuk menguatkan keislaman umat, maka Rumah Quran pun berubah menjadi Pesantren Lorong Raudhah Indonesia. Pesantren dengan konsep tanpa pondok dengan memberdayakan seluruh potensi lorong yang ada, mulai sumber daya manusia sampai sarana yang ada di lorong, pos ronda, emperan lorong, teras, maupun rumah warga.

Lorong dengan panjang sekitar 100 meter yang berada di kompleks Mangga Tiga Permai Daya Makassar pun kini menjelma jadi Pesantren Lorong Raudhah Indonesia dengan pusat belajar di rumah Ustadz Rahim.

Para santri mengikuti kegiatan belajar.

“Pesantren ini ditopang oleh 15 guru Iqra dan Al-Quran, serta delapan Sanggar Cinta Al-Quran di rumah-rumah warga yang ada di sepanjang lorong yang kini oleh warga disebut Lorong Raudhah,” terangnya.

Para santri yang datang pada akhirnya tidak hanya belajar Al-Quran, tetapi juga dibekali ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti aqidah, fiqih, keluarga samara, dan kemandirian ekonomi yang syar’i. Materi keislaman ini dibawakan oleh para ustadz secara tetap dan berkesinambungan.

“Prinsip santri di pesantren lorong ini adalah ‘selamanya jadi santri dan belajar hingga akhir hidup’,” pungkas Ustadz Rahim. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here