Curhat Walisantri: Mengapa Anakku Tidak Lulus?

918
Ilustrasi: Santri-santri Pondok Modern Gontor Putri 1 tengah mendapatkan pengarahan tarbiyah 'amaliyah. (Foto: @PMDGPutri1)

Muslim Obsession – Jalan hidup seseorang tak selalu sesuai keinginan. Manusia hanya berencana, tapi Allah jugalah yang menentukan. Hanya pribadi beriman sajalah yang senantiasa mengakui kebaikan takdir yang ditentukan kepadanya.

Kisah di bawah ini bercerita tentang curahan hati seorang walisantri yang anaknya tak diterima di Pondok Modern Darussalam Gontor. Sebuah pondok pesantren ternama di timur Jawa yang setiap tahunnya diperebutkan ribuan calon santri untuk bisa belajar di sana.

Ada hikmah di setiap ujian hidup. Mari kita belajar dari kisah inspiratif yang viral berikut ini:

Kisah ini memang bukan kisah pribadi saya. Kisah ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi seorang walisantri sewaktu saya mengunjungi putri saya di GP1 (Gontor Putri 1 di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur).

Dan kisah ini sangat menginspirasi, terima kasih bapak walsan, saya ijin berbagi kisah bapak.

Saya seorang karyawan biasa di Jakarta. Dan tidak punya cita-cita mondokin anak. Bagi saya semua mengalir saja dalam hal sekolah. SD, SMP, SMA.

Tiba-tiba anak saya bilang ingin mondok, berdasarkan masukan dari gurunya pondok terbaik salah satunya ada di Jawa Timur, Pondok Modern Gontor. Saya buta sama sekali tentang pondok, apalagi di Jawa Timur, bagi saya jauh sekali dari Jakarta.

Berdasarkan masukan dari gurunya, anak saya ikut bimbel masuk Gontor, supaya bisa mengikuti tes di Gontor.

Bertanya-tanya tentang biayanya, insya Allah masih bisa saya usahakan, tetap mengencangkan ikat pinggang pastinya. Tapi karena kemauan anak, saya coba ikhlas dan pasrah.

Tibalah pendaftaran. Sebagai karyawan biasa, kami hanya punya satu sepeda motor, tidak mungkin kami gunakan untuk membawa anak kami ke Jawa Timur.

Alhamdulillah ada tetangga yang berbaik hati mengantarkan kami dengan mobilnya. Sehingga saya, ibunya, dan dua adiknya ikut semua.

Saat diumumkan hasil tes, dari nomor satu sampai ke sekian, tidak satupun nomor ujian anak kami disebut. Artinya….. ya, anak kami tidak lulus. Sempat protes ke Allah… KENAPA ANAK SAYA TIDAK LULUS???

Kami temui anak kami, kami tahan air mata kami, supaya dia kuat.

Tapi di luar dugaan kami. Dia tidak menangis. “Pak… Bapak pulang saja ke Jakarta, Saya lanjutkan mondok di pondok alumni saja, insya Allah tahun depan saya mau ikut tes lagi.”

Akhirnya, air mata yang tadi ditahanpun tak terbendung…..

Kami antarkan dia ke pondok alumni di Ponorogo. Dan kami pulang ke Jakarta. Saya tau dia tersenyum untuk membuat kami tenang, tapi saya yakin, hatinya sedih dan hancur.

Selama di pondok alumni, saya hanya dua kali mengunjungi. Ibunya tidak bisa ikut karena dua adiknya yang masih kecil akan merepotkan kalau diajak.

Tak terasa waktu satu tahun berlalu. Anak saya kembali mengikuti tes masuk Gontor. Kali ini hanya saya yang menemani.

Dengan naik bis saya datang saat dia melaksanakan ujian sampai pengumuman kelulusan. Dan kali ini benar-benar saya persiapkan mental apabila tidak diterima kembali.

Yang lulus di GP1…. tidak ada nomor anak saya

Yang lulus di GP2…. tidak ada nomor anak saya

Yang lulus di GP3…. lagi-lagi tidak ada nomor anak saya

Bolak balik saya ke kamar mandi karena tegang.

Yang lulus di GP5…. akhirnya nomor ujian anak saya disebut

Tapi… di mana GP5???? Saya coba bertanya ke walsan yang lain. Di Kediri katanya. Di mana itu Kediri??? Sungguh saya tidak tahu banyak kota-kota di Jawa Timur.

Kutemui anakku, dia sangat ceria… “Alhamdulillah, Pak…di GP5. Doakan kakak ya?”

Bersama bis Gontor saya ikut mengantarkan anak saya ke GP5, yang ternyata jauh ke timur dari Ngawi. Ya Allah, berapa duit lagi kalau saya harus mengunjungi anak saya dengan ibunya dan adik-adiknya?

Seakan tahu pikiran saya, anak saya bilang: “Bapak, kalau nggak ada uang untuk jenguk tidak apa-apa. Doakan kakak saja, supaya kakak berhasil lulus dari sini.”

Ya Allah….anak saya bahkan sudah lebih dewasa sekarang. Tenang hati saya meninggalkannya di GP5.

Beberapa bulan kemudian, saya dipanggil atasan saya. Karena prestasi kerja, saya dipromosikan sebagai supervisor. Tapi harus ke luar Jakarta, ke sebuah daerah di Jawa Timur…… ke KEDIRI.

Ya Allah…. sujud syukur saya kepada-Mu ya Allah…. inikah hikmahnya anak saya tidak lulus tahun lalu?

Sekarang saya bahkan bisa mengunjungi anak saya seminggu sekali, dengan mobil dinas. Segera kami jual semua milik kami di Jakarta dan memulai hidup baru di KEDIR, Jawa Timur. dekat dengan GP5.

Alhamduliilah… wa syukurillah….

Rencana Allah adalah yang TERBAIK.

 

————————-

Sobat Muslim, terima kasih sudah berbagi kisah. Bagi yang mengetahui penulis kisah di atas, silakan isi di kolom komentar. Jazakallah ahsanal jaza’, semoga Allah memudahkan kita dalam segera urusan agama, dunia, dan akhirat. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here