Corona Lebih Ganas Dibanding SARS? Yuk, Cek Faktanya!

737

Jakarta, Muslim Obsession – Virus penyebab SARS yang pernah mewabah pada 2002-2003 ternyata tak seganas virus Corona. Meskipun keduanya memiliki kemiripan hingga 80 persen, namun Corona jauh lebih berbahaya dibanding SARS.

Hingga Rabu (1/4/2020), jumlah kasus infeksi corona di seluruh dunia telah mencapai 873.008 dengan 1.677 di antaranya terjadi di dunia. Padahal, virus corona baru terdeteksi oleh mata dunia pada bulan Desember 2019.

Lantas, mengapa virus ini begitu menular?

Jawabannya mungkin terletak pada struktur virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19.

Tim peneliti dari University of Minnesota (IM) menggunakan kristalografi sinar X untuk menciptakan model tiga dimensi dari struktur paku mahkota (spike) pada virus corona dan melihat bagaimana ia mengikat pada sel manusia.

Dipublikasikan dalam jurnal Nature, tim peneliti menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 mengalami beberapa mutasi yang membuatnya memiliki kerutan yang lebih rapat pada protein spike daripada virus SARS terdahulu.

Diwawancarai oleh The Guardian, salah satu peneliti Fang Li mengatakan, struktur 3D menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan virus yang menyebabkan wabah SARS 2002-2003, virus corona baru ini telah mengembangkan strategi baru untuk mengikat pada reseptor manusianya, menghasilkan ikatan yang lebih erat.

“Ikatan yang erat pada reseptor manusia ini membantu virus menginfeksi sel manusia dan menyebar di antara manusia,” ujarnya.

Tim peneliti yang juga mengamati berbagai strain virus corona pada kelelawar dan trenggling menemukan bahwa virus corona pada kelelawar butuh sejumlah mutasi untuk memiliki bentuk spike yang bisa mengikat pada reseptor manusia.

Akan tetapi, satu strain virus corona pada trenggiling ditemukan memiliki kecocokan dengan reseptor manusia. Ini memperkuat hipotesis bahwa trenggiling merupakan perantara virus dari kelelawar ke manusia.

Lewat penelitian ini, tim ahli berharap dapat membantu ilmuwan-ilmuwan dunia untuk mengembangkan obat atau vaksin yang dapat melawan SARS-CoV-2.

“Pekerjaan kami dapat memberi panduan pada pengembangan antibodi monoklonal yang akan bertindak seperti obat dalam mengenalis dan menetralkan bagian pengikat reseptor pada protein spike,” ujar Li.

Dia melanjutkan, atau sebagian dari protein spike mungkin bisa menjadi basis sebuah vaksin.

Meskipun model yang dihasilkan sangat menjanjikan, penelitian ini bukan tanpa kekurangan. Pasalnya, penelitian ini hanya menggunakan sepotong kecil dari spike virus, yang berarti masih ada banyak informasi yang harus dieksplorasi lebih lanjut. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here