Classical Conditioning, Teori Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang Dicuri Ilmuwan Barat

72
Ivan Pavlov.

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Ivan Patrovich Pavlov, seorang dokter juga fisiolog asal Rusia yang pada awal abad 20 menggegerkan dunia. Ia menemukan teori yang dalam psikologi modern disebut Classical Conditioning atau “Pengondisian Klasik”.

Classical Conditioning ialah keadaan dimana stimulus (rangsangan) buatan mampu menimbulkan respons sebagaimana stimulus alami.

Pavlov mengujinya pada seekor anjing yang tidak diberi makan hingga terasa lapar. Dia ingin menguji, apakah air liur anjing menjadi banyak karena alami tatkala hendak makan ataukah manusia bisa membuat banyak dengan air liur anjing itu dengan cara rangsangan buatan.

Maka berberapa hari dia tidak memberi makan dengan disertai musik tertentu. Nah, musik ini pun dihentikan pada nada khas, sehingga anjing merespons ketika sampai di nada tersebut dengan banyaknya air liur, bertanda dia akan makan.

Pada akhirnya stimulus buatan yang ditemukannya mampu menciptakan respons sebagaimana stimulus alami. Atas temuannya itu, ia diberi hadiah paling bergengsi dalam dunia ilmu pengetahuan (Nobel tahun 1904). (1)

BACA JUGA: Larangan Mencari Kesalahan Orang Lain

Temuan Pavlov ini dikembangkan oleh Watson dan Rayner pada tahun 1920. Mereka berdua ingin memastikan apakah teori ini juga bisa dialami oleh manusia.

Obvervasi ini mereka lakukan kepada seorang bayi. Dia  mencari sesuatu yang ditakuti bayi tersebut, kemudian mengalihkan ketakutan tersebut pada hal lain yang tidak menakutkan, sehingga respons bayi tersebut menjadi tenang.

Pada era sekarang, Classical Conditioning digunakan sebagai terapi terhadap pengidap phobia (ketakutan karena informasi dari sumber yang salah), misalnya tentang virus Corona ini, karena hampir 80% kita mendapatkan informasi yang tidak akurat, akibatnya manusia selalu dalam kecemasan akut).

Akan tetapi, Pavlov sebenarnya bukan orang pertama yang menemukanya. Al-Ghazali lah, orang yang menemukannya, kira-kira 850 tahun sebelum Pavlov lahir.

Al-Ghazali, Pionir Classical Conditioning

Dalam Al-Mustashfa, Al-Ghazali memaparkan kelemahan-kelemahan diri manusia. Sehingga ia tak akan mampu menjangkau hakikat kebaikan dan keburukan. Salah satu kelemahannya adalah seperti yang disebutkan beliau:

سَبْقُ الْوَهْمِ إلَى الْعَكْسِ

Beliau memaparkan bahwa anggapan manusia terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh zhan, dugaan-dugaan atau prasangka-prasangka negatif yang ada pada dirinya.

BACA JUGA: Keyakinan yang Kokoh

Kita akan menganggap sesuatu berdasarkan sebuah keidentikkan (menyamakan atau menpersepsikan). Padahal keindentikkan tak akan pernah menjadi kepastian dan hakekat kebenaran. Prasangka yang terbentuk dari pengalaman hidup, akan mempengaruhi dalam penilaian atas suatu hal, walaupun saat penilaian tersebut akal tak membenarkannya.

Misalnya kita merespon aneka warna tali seolah-olah bagaikan ular, akhirnya dia menjauh pergi, sebab bayangan yang muncul pertama kali adalah hal itu akan membahayakan dirinya. Begitu juga kecenderungan menolak bermalam di samping jasad tak bernyawa, padahal nyata-nyata ia tak lagi bergerak dan berbicara. Hal inilah yang membuat rapuh kita sehingga melihat sesuatu tidak objektif lagi.(2)

Fakta penting ini, diungkap pada tahun 1971 oleh sarjana Muslim, Doktor Faiz al-Hajj dalam tesisnya yang berjudul “Nadzhariyyah Sabq al-Wahmi ila ‘Aksi ‘Inda al-Ghazali, Ma’a Muuqoronatin ‘Ilmiyatin li Araa’i al-Falsafati al-Mutaqaddimin wa an-Nadzariyyat al-Isyrotiyyah al-Iqtironiyah al-Haditsah”.

Dalam tesis yang mengantarkannya meraih gelar doktoral tersebut, Dr. Faiz menyimpulkan bahwa al-Ghazali telah mendahului Pavlov dalam penemuan atas Classical Conditioning (3). Dan seharusnya Imam Al-Ghazali lah yang sebenarnya peraih Nobel pada tahun 1904.

BACA JUGA: Keutamaan Ilmu dan Ulama serta Keutamaan Proses Belajar dan Mengajar

Fakta di atas semakin menegaskan bahwa Imam Al-Ghazali berpengaruh besar pada perkembangan pemikiran-pemikiran modern. Sebagaimana pernyataan orientalis Ernesto Renan (1822-1892), bahwa pemikiran Imam Al-Ghazali mewarnai pemikiran-pemikiran Barat pada abad pencerahan.

Ini dibuktikan dengan pengaruh sang Imam terhadap pemikiran filosuf Prancis, Rene Decartes (1596-1650) dengan perkataan yang terkenal: “AKU BERPIKIR MAKA AKU ADA”. Pemikiran filasuf Prancis itu adalah buah pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Adz-Dzalal, beliau mengatakan bahwa, “MENCARI KEBENARAN DI ATAS KERAGUAN YANG ADA” (4).

Inilah turats kita yang seharusnya kita pelajari dan kita telaah. Inilah yang membuat para ilmuwan barat menundukkan kepalanya yang terlanjur tadinya terlalu mendongak ke langit. Sehingga pantaslah melalui berbagai pernyataan yang ada yaitu membenarkan tentang pribadi Hujjatul Islam Al-Ghazali adalah penakluk Timur dan Barat.

 

Referensi:

(1) Rohmah, Noer, Psikologi Pendidikan, hlm. 80-81 (Jogja: Penerbit Teras)

(2) Al Ghazali, Abu Hamid, Al Mustashfa, hlm. 79 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah)

(3) Al-Buthiy, Muhammad Said Ramadhan, Min al-Qolbi wa al-Fikri, hlm. 33 (Damaskus: Dar Al-Faqiih)

(4) Muqoddimah Al Munqidz min Adz-Dzalal dalam Majmu’ Rasaail Al Imam Ghozali, hlm. 9 (Beirut: Dar Al-Kutub al-Ilmiyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here