Ciri Dusta yang Tersembunyi

101
Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon.

Jakarta, Muslim Obsession – Berhati-hatilah dengan hati. Seringkali kita tak pernah menyadari perilaku yang dinilai kecil atau sepele justru menjadi representasi hati yang dipenuhi kedustaan.

Ambil contoh kecil, pernahkah kita merasa tersinggung ketika ada orang yang mengingatkan karena kita tidak menjalankan sunnah Nabi? Misalnya, ‘Kenapa engkau tidak memelihara jenggot?’ Lalu kita menjawab dengan kesal, “Sunnah Nabi kan tidak hanya memelihara jenggot!”

Atau ketika seseorang mengingatkan kita tentang kebaikan, lalu kita memendam jengkel sambil berkata. “Melakukan kebaikan kan tidak harus lapor kepadamu!’ Atau ketika kita melakukan kesalahan lalu ada seseorang yang mengingatkan kita, lalu diam-diam atau bahkan spontan kita berkata, “Seperti orang suci aja. Urusi diri sendiri saja. Jangan urusi orang lain!”

Jika itu yang kita rasakan, menurut Buya Yahya, itulah kesombongan! Kecongkakan! Yang kadang datang tiba-tiba dan spontan bersama spontannya sebuah teguran, imbauan, dan perhatian.

Buya menjelaskan, mungkin sekali sifat-sifat kemuliaan seperti tawadhu, sabar dan bijaksana yang ditekuni selama ini bukan dari hati yang tulus. Melainkan hanya karena ingin dipandang mulia oleh manusia, karena keberadaan kita sebagai orang terpandang seperti ustadz atau tokoh masyarakat.

“Itulah kemunafikan! Itulah dusta yang tersembunyi! Itulah kebusukan jiwa!” tegas Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon Jawa Barat ini dalam postingan di akun Instagramnya, Jumat (8/11/2019).

Menurutnya, agar kita selamat dari hal demikian, pastikan setelah hari ini ketika ada teguran, himbauan, dan perhatian dari orang lain, tanggapi dengan prasangka baik. Bahkan ucapan terima kasih serta berikan doa kemuliaan. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here