Cinta NKRI Itu Fitrah

592
Ust. Zaitun Rasmin
KH. M. Zaitun Rasmin saat berceramah di tabligh akbar bertajuk “Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan” yang digelar Wahdah Islamiyah Gorontalo di Masjid Kampus Univeritas Negeri Gorontalo Sabilurrasyad, Ahad (11/2/2018). (Foto: Forjim)

Gorontalo, Muslim Obsession – Ketua Umum Wahdah Islamiyah, KH. M. Zaitun Rasmin, menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan anugerah dari Allah. Oleh karenanya NKRI harus dicintai dan dijaga.

Hal itu dikemukakannya pada tabligh akbar bertajuk “Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan” yang digelar Wahdah Islamiyah Gorontalo di Masjid Kampus Univeritas Negeri Gorontalo Sabilurrasyad, Ahad (11/2/2018).

Menurut Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara ini, nasionalisme atau cinta negeri adalah sesuatu yang thabi’i atau fitrah yang sesuai dengan sifat bawaan manusia. Hanya saja, kecintaan itu harus tetap dalam batas yang tidak melanggar syari’at.

“Cinta kepada negeri adalah sesuatu yang thabi’I, sebagaimana dahulu Rasulullah Saw. mengungkapkan kecintaan beliau kepada Makkah saat berhijrah,” terangnya.

Batasan yang dimaksud, lanjut Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, adalah kecintaan yang tidak melebihi cinta Allah, Rasul-Nya, dan agama Islam.

“Cinta pada negeri ini disyariatkan asal tidak melebihi cinta kita kepada Allah, RasulNya dan ajaran Islam itu sendiri. Nasionalisme yang dilarang Islam adalah jika menjadikan seseorang membenci atau merendahkan bangsa lain,” tegasnya.

Adapun wujud cinta kepada negeri, tegasnya, antara lain dengan membela, membangun, merawat, mencintai, dan memajukan NKRI.

“Umat Islam mayoritas di negeri ini harus mengetahui konsep Islam tentang nasionalisme. Kalau tidak, akan dimanfaatkan oleh orang lain dari kalangan sekuler untuk menjauhkan umat Islam dari hak-haknya,” lanjut ustad yang juga wakil ketua GNPF ulama ini.

Termasuk bentuk merawat NKRI, imbuhnya, yaitu dengan tetap menghidupkan budaya saling menasehati, serta amar ma’ruf dan nahi munkar.

“Menjaga persatuan bukan berarti menghilangkan identitas-identitas yang ada pada suku atau agama tertentu. Umat Islam siap bersatu dalam perbedaan demi terjaganya NKRI,” urainya.

Sementara itu Ketua MUI Gorontalo Ustadz Abdurrahman Bahmid, Lc. menilai tabligh akbar tersebut sangat penting sebagai upaya penguatan.

“Umat Islam harus kuat, baik secara pribadi, organisasi, maupun dalam skala umat. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah,” ungkap alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang juga anggota DPD RI ini.

“Mashdarul quwwah (sumber kekuatan) adalah kuatnya aqidah dan hubungan dengan Allah. Setelah itu, persatuan ummat,” tegasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here