Cina Tolak Desakan PBB untuk Selidiki Myanmar Atas Serangan Rohingya

451
Pengungsi Rohingya menunggu pembagian makanan di kamp Kutupalong, Cox's Bazar Bangladesh. (Photo: UNHCR) / Andrew Mconnell

Myanmar, Muslim Obsession – Cina menolak desakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk penyelidikan Myanmar atas serangan terhadap Rohingya.

Cina menentang dorongan yang dipimpin Inggris di Dewan Keamanan PBB, Selasa (8/5/2018) untuk meningkatkan tekanan pada Myanmar. Serta mengadili mereka yang bertanggung jawab atas serangan terhadap Rohingya.

Myanmar menolak mengizinkan misi pencarian fakta PBB yang dibentuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia untuk memasuki negara itu, termasuk melarang ahli hak asasi PBB Yanghee Lee.

“Jelas bahwa pihak berwenang Myanmar tidak dapat mengelak untuk bertanggung jawab,” kata Param-Preet Singh, direktur asosiasi untuk keadilan internasional di Human Rights Watch (HRW).

Sebelumnya, pada konferensi pers di markas besar PBB di New York, empat kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa dewan harus segera meminta Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC). Untuk membuka penyelidikan atas kejahatan terhadap kemanusiaan di Myanmar. Meskipun Cina kemungkinan akan memveto langkah tersebut.

“Namun ancaman veto bukanlah alasan untuk tidak bertindak,” kata Savita Pawnday, wakil direktur eksekutif Global Center, sebagaimana dilansir Nation, Rabu (9/5/2018)

Kembali dari kunjungan Myanmar dan Bangladesh, Dewan Keamanan PBB mengadakan perundingan tentang sebuah pernyataan yang akan menguraikan langkah-langkah untuk mengatasi krisis kemanusiaan 700.000 Muslim Rohingya.

Pekan lalu, Inggris mengedarkan draft teks yang menekankan pentingnya investigasi yang kredibel dan transparan. Atas pelanggaran hak asasi manusia, serta mendesak Myanmar untuk meminta pertanggungjawaban mereka.

Namun, Cina mengusulkan agar dunia Internasional fokus kepada akar penyebab masalah. Salah satu caranya dengan berinvestasi di negara Rakhine, untuk mencapai stabilitas melalui pembangunan. Akan tetapi, usulan tersebut ditolak oleh Inggris, Prancis dan Amerika Serikat.

Pekan lalu, 15 duta besar bertemu dengan para pengungsi yang tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak di Bangladesh. Serta mengunjungi desa-desa yang terbakar habis di negara bagian Rakhine. Mereka melihat langsung bagaimana para pengungsi mengalami trauma mendalam. (Vina)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here