Cina Dirikan Kamp-kamp Rahasia, Penjarakan Ribuan Muslim Uighur

365
Warga Uighur diperiksa di jalan oleh kepolisian Cina. (BBC)

Jakarta, Muslim Obsession – Cina dituding memenjarakan ribuan umat Muslim Uighur di wilayah Xinjiang tanpa proses peradilan. Pemerintah Cina menepis tudingan tersebut, namun investigasi BBC menemukan bukti baru nan penting. Nampaknya, rezim Cina ingin menghapus identitas Uighur.

Menurut catatan John Sudworth, wartawan BBC News di Xinjiang, pada 12 Juli 2015, sebuah satelit menyoroti kawasan gurun dan sejumlah kota di bagian barat Cina.

Salah satu foto yang diabadikan hari itu menampilkan pemandangan lahan kosong yang dipenuhi pasir abu.

Hanya berselang kurang dari tiga tahun kemudian, pada 22 April 2018, foto satelit di tempat yang sama menunjukkan perbedaan menakjubkan.

Sebuah kompleks besar dan berkeamanan ketat muncul, lengkap dengan tembok luar sepanjang dua kilometer dan 16 gardu penjaga.

Sejak awal tahun berbagai laporan santer menyebutkan Cina mengoperasikan sejumlah kamp penahanan bagi warga Muslim Uighur. Tempat itu ditemukan oleh para peneliti yang sedang mencari bukti bahwa kamp-kamp tersebut memang ada dalam perangkat pemetaan global, Google Earth.

Foto satelit Sentinel yang menyoroti fasilitas Dabancheng pada Oktober 2018. (BBC)

Lokasi kompleks beton tersebut terletak di dekat Kota Dabancheng, sekitar satu jam berkendara dari ibu kota Xinjiang, Urumqi.

“Guna menghindari pemantauan polisi terhadap setiap wartawan yang datang berkunjung, kami mendarat di Bandara Urumqi pada dini hari waktu setempat,” kisah John Sudworth.

“Akan tetapi, pihak kepolisian ternyata sudah mengantisipasi. Ketika tiba di Dabancheng, kami dikuntit sedikitnya lima mobil berisi polisi berseragam dan pejabat pemerintah.”

“Kian jelas kedatangan kami untuk mengunjungi kamp-kamp tahanan warga Muslim Uighur selama beberapa hari ke depan tidak akan mudah. Selagi kendaraan kami meluncur, kami tahu cepat atau lambat konvoi mobil di belakang kami akan mencoba menghentikan kami. Lepas dari dugaan tersebut, kami menyaksikan pemandangan yang tak terduga.”

Area luas, kosong, dan berdebu yang ditampilkan foto satelit di bagian timur kompleks, tak lagi kosong. Di tempat itu proyek pengembangan sedang berlangsung.

Deretan crane dan bangunan abu-abu raksasa setinggi empat lantai seolah mendadak tumbuh di gurun.

“Kami pun langsung mengangkat kamera dan mengambil gambar proyek konstruksi tersebut. Namun, belum lama rekaman berputar, salah satu kendaraan yang menguntit tiba-tiba beraksi,” ungkap John Sudworth.

“Mobil kami diberhentikan, kami disuruh mematikan kamera, dan pergi. Bagaimanapun, kami telah menemukan hal signifikan—aktivitas luar biasa besar yang belum diketahui masyarakat luas. Temuan kami dikuatkan oleh perangkat pemetaan global,” tambahnya.

Bendera Cina berkibar di atas sebuah masjid yang ditutup di Kota Kashgar, Xinjiang. (BBC)

Di wilayah-wilayah terpencil, foto-foto Google Earth memang perlu waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun sampai akhirnya diperbarui.

Namun, sumber-sumber lain—seperti data satelit Sentinel milik Badan Antariksa Eropa—menyediakan foto-foto yang lebih baru walau resolusinya lebih rendah.

“Melalui perangkat inilah kami menemukan apa yang kami cari,” kata John Sudworth.

Foto satelit Sentinel pada Oktober 2018 menunjukkan betapa luasnya perkembangan lokasi tersebut. Jika semula kami menduga bahwa tempat itu adalah kamp penahanan besar, kini area yang sama telah menjelma menjadi kamp penahanan raksasa.

Kompleks besar mirip penjara itu hanyalah satu dari sekian banyak bangunan serupa yang dibangun di Xinjiang selama beberapa tahun terakhir.

Sebelum bertandang ke sana, kami terlebih dulu menyambangi pusat kota Dabancheng.

“Mustahil bisa berbincang secara terbuka dengan siapa pun di sana. Orang yang lewat mengawasi dari dekat, bahkan secara agresif berbincang kepada siapapun yang menyapa kami. Karenanya, kami memutar nomor telpon di kota itu secara sembarang,” bebernya.

Camps Uighur. (BBC)

Bangunan macam apa yang punya 16 gardu penjaga dan tidak boleh kami kunjungi? “Itu adalah sekolah re-edukasi,” ujar seorang pengurus hotel.

“Ya, itu adalah sekolah re-edukasi,” ujar penjaga toko. “Ada puluhan ribu orang di sana sekarang. Mereka punya masalah dengan pemikiran mereka,” sambungnya.

Belakangan diketahui bahwa bagi warga Xinjiang, istilah “pergi ke sekolah” punya makna lain.

Meski Pemerintah Cina menyanggah bahwa mereka memenjarakan umat Muslim tanpa melalui proses peradilan. Namun, bagi warga Xinjiang, kata ‘pemenjaraan’ di kamp-kamp sudah lama dilemahkan menjadi ‘pendidikan’.

Pemerintah Cina pun tak tanggung-tanggung memakai kata itu guna menanggapi kritik dari berbagai penjuru dunia.

Sebagai langkah propaganda, stasiun televisi pemerintah menayangkan liputan mengenai pendidikan di Xinjiang, dengan ruang kelas yang bersih dan pelajar-pelajar yang sopan—tampak secara sukarela mendaftarkan diri untuk mengikuti pelajaran.

Tidak disebutkan landasan yang dipakai untuk memilih pelajar-pelajar dalam “sesi pelajaran” ini dan berapa lama pendidikan ini berlangsung. (ARS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here