Cerita Jamaah Haji Penambal Ban yang Kaget dengan Layanan Haji

499
Ilustrasi Jamaah Haji (Foto: Radar Jogja)

Makkah, Muslim Obsession – Buat Sofwan, penambal ban berusia 85 tahun, tidur di Hotel Lu’luat Makkah berlantai marmer adalah kemewahan yang tidak pernah ia bayangkan. Lelaki asal Semarang, Jawa Tengah, itu hanya tahu bahwa berhaji berarti menjalankan ibadah yang sangat berat.

Ribuan orang berdesak-desakan saat tawaf, ratusan ribu orang berhimpit-himpitan saat melempar jamarat, serta jutaan orang berpanas-panas berkemah di Arafah dan Mina. Jauh sebelum itu mereka harus tinggal di ribuan pemondokan tak terurus, makan susah, mandi berebut, naik bus tanpa AC dengan bangku jelek dan sopir cerewet.

Bayangan buruk itu ternyata tak didapat Sofwan yang saat ini tinggal di lantai 14 hotel mewah di jantung kota suci Makkah. Setelah menabung sambil menunggu antrian selama 15 tahun, lelaki kurus dengan kulit keriput itu kini merasa seperti raja minyak di hotel bertingkat 19 itu.

Pagi-pagi usai sHalat subuh dia sudah bikin teh atau kopi, sambil menunggu sarapan pagi roti dan kue lainnya tiba. Pukul 11:00 jatah makan siangnya sudah tiba, dengan menu Indonesia yang berganti-ganti setiap hari.

Ada nasi pecel plus telur dadar, bakso dan perkedel, sayur lodeh plus ikan asin, bahkan sayur asem dan tahu goreng. Daging? Jangan tanya lagi. Sebagian besar orang seusia Sofwan bahkan memohon-mohon agar menu daging dikurangi saking seringnya.

Sofwan, bersama 221.000 jamaah haji Indonesia lainnya yang tengah menunggu saat wukuf tiba, nyaris tak punya komplain dengan hotel-hotel bagus yang mereka tempati. Beberapa hotel bahkan menyediakan fasilitas fitness, game, dan cafe-cafe bernuansa romantis. Setiap hotel bahkan wajib punya tempat salat yang luas sebelum disewa, dengan permadani-permadani tebal dan bersih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here